
Penurunan Permintaan Bantuan Air Bersih di Kabupaten Tulungagung
Permintaan bantuan air bersih di Kabupaten Tulungagung mengalami penurunan yang signifikan sepanjang tahun 2025. Hingga pertengahan Oktober, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung hanya menerima satu permintaan distribusi air bersih dari Desa Kalidawe, Kecamatan Pucanglaban.
Pada tahun 2024, situasi berbeda. Ada 15 desa di delapan kecamatan yang mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau panjang. Hal ini menunjukkan perubahan yang cukup besar dalam kondisi musim kemarau tahun ini.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tulungagung, Gilang Zelakusuma, menjelaskan bahwa Desa Kalidawe memang menjadi salah satu wilayah yang sering mengalami krisis air bersih selama musim kemarau. Desa Kalidawe tahun lalu juga masuk daftar desa yang kesulitan air bersih. Tahun ini satu-satunya desa yang meminta kiriman air bersih, jelas Gilang.
Menurutnya, permintaan dari Kalidawe tidak bersifat rutin. Setiap kali ada permintaan, BPBD biasanya mengirim empat mobil tangki untuk melayani empat dusun di desa tersebut. Namun, Gilang mengaku belum dapat memastikan penyebab pasti menurunnya permintaan air bersih tahun ini.
Mungkin faktor cuaca, karena sekarang sulit diprediksi. Panas, tapi masih ada hujan, ujarnya.
Kemarau Basah dan Bantuan Sumur Bor
Desa-desa di wilayah selatan dan timur Tulungagung biasanya menjadi daerah paling rawan kekeringan setiap musim kemarau. Namun, tahun ini fenomena kemarau basah membuat sejumlah sumber air masih tetap mengeluarkan air, sehingga kebutuhan warga masih bisa terpenuhi.
Selain faktor cuaca, peningkatan infrastruktur air juga turut berperan. Salah satu contohnya di Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung, yang selama ini menjadi langganan kekeringan.
Perangkat desa setempat, Arif Darmawan, mengatakan tahun ini tidak ada lagi keluhan kekurangan air bersih di desanya. Hal itu berkat keberadaan beberapa sumur bor hibah dari berbagai pihak yang kini berfungsi dengan baik.
Sekurangnya ada empat sumur bor sumbangan dari berbagai pihak, semuanya mengalirkan air bersih, kata Arif.
Warga mengelola sumur bor tersebut secara mandiri, termasuk melakukan pipanisasi untuk menyalurkan air langsung ke rumah-rumah. Masih butuh tambahan mesin pompa dan pipanisasi untuk memperluas jangkauan. Tapi sejauh ini sangat membantu, tambahnya.
Meski demikian, Arif mengakui kinerja sumur bor tersebut belum benar-benar teruji dalam kondisi kemarau panjang yang ekstrem. Saat ini masih kemarau basah, jadi belum bisa dibilang teruji. Semoga nanti tetap bisa mengatasi kalau musim kering benar-benar panjang, pungkasnya.
Peran Infrastruktur dalam Menghadapi Musim Kemarau
Penurunan permintaan bantuan air bersih tahun ini tidak hanya disebabkan oleh perubahan iklim, tetapi juga oleh peningkatan infrastruktur air yang telah dibangun di beberapa desa. Selain sumur bor, ada juga upaya lain seperti pembangunan saluran air dan sistem pengelolaan air yang lebih efisien.
Beberapa desa mulai membangun sistem irigasi yang lebih modern untuk memastikan pasokan air tetap lancar meski dalam kondisi kemarau. Ini menjadi langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan pada bantuan darurat dari BPBD.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah dan masyarakat setempat bekerja sama untuk meningkatkan kesiapan menghadapi musim kemarau. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan dan memastikan kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meskipun situasi tahun ini relatif lebih baik, tantangan tetap ada. Cuaca yang tidak menentu membuat prediksi musim kemarau sulit dilakukan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk terus meningkatkan kesiapan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Selain itu, perlunya investasi lebih besar dalam pembangunan infrastruktur air, seperti sumur bor dan saluran air, menjadi hal yang perlu diperhatikan. Dengan demikian, masyarakat akan lebih siap menghadapi musim kemarau yang mungkin lebih ekstrem di masa depan.
Komentar
Kirim Komentar