Perasaan yang Diwujudkan dalam Kata

Perasaan yang Diwujudkan dalam Kata

Advertisement

Emosi tidak hanya meliputi perasaan marah, tetapi juga perasaan lain seperti sedih, bahagia, dan berbagai emosi lainnya yang termasuk dalam kategori ini. Emosi adalah perasaan yang dimiliki setiap individu dan dapat berkembang karena rangsangan dari lingkungan. Untuk memahami emosi yang dialami, seseorang bisa melakukannya melalui kegiatan menulis. Dengan menulis, seseorang bisa dengan leluasa mengekspresikan apa yang dirasakannya dan menuangkannya dalam bentuk kalimat. Perasaan bahagia dan sedih yang diekspresikan ini dapat terlihat dari pilihan kata yang digunakan dalam sebuah tulisan yang mencerminkan emosi tersebut.

Sebuah karya tulis tidak hanya dihasilkan dari selembar kertas atau tulisan tangan. Mengetik juga merupakan cara mengekspresikan emosi dalam bentuk tulisan, seperti yang sering dilakukan generasi muda, yaitu dengan menggunakan aplikasi terkenal seperti Twitter, yang kini dikenal sebagai X. Banyak pengguna aplikasi ini yang membuat akun khusus untuk curhat atau berbagi keluh kesah secara anonim, sehingga mereka bisa meluapkan perasaan lebih terbuka.

Perlu dipahami bahwa emosi adalah perasaan yang bervariasi. Emosi juga dapat berkembang seiring dengan pengaruh lingkungan, baik yang positif maupun negatif. Kenyataan bahwa manusia cenderung bertindak berdasarkan emosi daripada logika menegaskan pentingnya memanfaatkan emosi untuk menyampaikan perasaan dan pikiran dengan lebih efektif. Emosi seseorang dianggap sehat jika terdapat keseimbangan antara feeling dan thinking. Ini dapat dilatih sejak masa kanak-kanak agar saat dewasa, mereka mampu memahami dan mengelola emosi mereka dengan baik.

Teori dalam Mengekspresikan Perasaan

Emosi adalah perasaan dan pemikiran yang unik, suatu kondisi biologis dan psikologis, serta serangkaian kecenderungan untuk berperilaku. Beberapa pakar meyakini bahwa emosi muncul sebagai dampak dari keadaan fisiologis dan kognitif manusia, serta mencerminkan pengaruh budaya dan sistem sosial yang ada. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bahasa berperan dalam berinteraksi dengan nilai-nilai sosial dan budaya yang terdapat dalam komunitas bahasanya, di mana penutur bahasa dapat memilih metode untuk mengungkapkan ide, pemikiran, atau perasaan mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta dalam bentuk harfiah atau kiasan.

Menurut Perwadaminta, tulisan yang bersifat ekspresif adalah cara untuk mengekspresikan berbagai pikiran, perasaan, dan pengalaman yang signifikan ke dalam bentuk tulisan. Bahasa dapat mempengaruhi cara seseorang memandang pengalaman yang mereka alami. Dengan pemilihan kata, menulis secara ekspresif memberikan individu kesempatan untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang lebih emosional. Dengan dapat menyampaikan emosi dengan lebih baik, hubungan seseorang dengan orang lain maupun dirinya sendiri akan lebih terjaga dan stabil.

Ide tentang Mengekspresikan Perasaan Melalui Tulisan

Emotional Experience Writing adalah suatu metode yang dikembangkan dari intervensi yang berlandaskan pada prinsip-prinsip dasar dan praktik dari tulisan ekspresif. Metode ini digunakan dalam terapi menulis ekspresif yang sering dipraktekan dalam konseling, psikoterapi, rehabilitasi, dan bidang kesehatan lainnya. Elemen-elemen dari expressive writing terdiri dari penulisan pengalaman emosional yang mendalam, analisis konflik dalam diri, serta pencarian makna dari pengalaman tersebut. Teknik ini memungkinkan orang untuk mengatasi perasaan negatif, memperbaiki pengaturan emosi, dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang diri mereka.

Dengan cara mengekspresikan perasaan yang emosional tanpa harus mematuhi aturan tata bahasa yang ketat. Menulis merupakan kemampuan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, bukan langsung bertatap muka dengan orang lain. Metode menulis tersebut dilakukan untuk mengekspresikan perasaan yang dialami dan dituangkan dalam bentuk narasi, sehingga dapat membantu menstabilkan emosi seseorang dalam menghadapi kecemasan.

Beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa expressive writing efektif dalam mengurangi kecemasan pada berbagai kelompok orang. Sebagai contoh, expressive writing membantu individu dengan PTSD untuk mengurangi gejala kecemasan. Selain itu, hal ini dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Expressive writing bersifat non-invasif, mudah diakses, dan dapat dilakukan secara mandiri. Teknik ini mendukung individu dalam mengelola emosi yang rumit, meningkatkan kesadaran diri, dan mengurangi ketegangan yang diakibatkan oleh kecemasan.

Pada fase mania, expressive writing dapat membantu mengalihkan energi berlebih ke dalam aktivitas yang terstruktur. Sedangkan pada fase depresi, teknik ini memberikan kesempatan untuk menghadapi emosi negatif secara konstruktif. Dengan pendekatan ini, individu dapat terlibat secara aktif dalam proses pemulihan mereka tanpa merasa terbebani oleh intervensi yang terlalu formal.

Sistem Biologis dalam Mengekspresikan Perasaan

Masa remaja merupakan tahap peralihan dalam perkembangan yang menghubungkan masa kanak-kanak dengan fase dewasa, di mana terjadi berbagai perubahan biologis, kognitif, dan emosional, termasuk perkembangan dalam fungsi seksual, kemampuan berpikir abstrak, dan kemandirian. Melalui aktivitas menulis, seseorang dapat mencapai pengaturan emosi yang lebih baik, sehingga meningkatkan dampak terapeutik yang diperoleh.

Emosi adalah suatu bentuk kompleks dari respons organisme, yang ditandai oleh perubahan fisik seperti pola pernapasan, detak jantung, dan aktivitas kelenjar. Dari perspektif mental, emosi merupakan keadaan yang melibatkan perasaan yang kuat, baik positif maupun negatif, dan sering kali mendorong individu untuk berperilaku dalam cara tertentu.

Berdasarkan pendapat Lazarus, emosi adalah reaksi seseorang terhadap suatu stimulus atau kejadian, melibatkan elemen penilaian atau proses kognitif. Proses kognitif mencakup cara seseorang memahami dan menafsirkan situasi yang dihadapi. Faktor-faktor yang memicu emosi terbagi menjadi dua kategori: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berkaitan dengan perasaan individu yang muncul dari dalam dirinya. Sedangkan faktor eksternal berhubungan dengan interaksi orang tersebut dengan lingkungan dan penilaiannya terhadap orang-orang di sekitarnya.

Menurut Hynes dan Thompson, ada empat tahap dalam terapi expressive writing:

  • Recognition atau initial writing adalah langkah pertama dalam sesi menulis. Tujuannya adalah untuk merangsang imajinasi, konsentrasi, relaksasi, dan mengatasi ketakutan yang dialami individu, serta untuk menilai kondisi emosional atau fokus mereka. Peserta diberi kesempatan untuk menulis secara bebas, mencurahkan semua ide tanpa harus merencanakan atau diarahkan.
  • Examination atau writing exercise adalah saat proses menulis dilakukan. Di sini, individu mengeksplorasi reaksi mereka terhadap situasi spesifik yang mereka hadapi.
  • Juxtaposition atau feedback adalah waktu untuk refleksi, yang mendorong individu untuk mendapatkan kesadaran baru dan menginspirasinya untuk mengubah perilaku, sikap, atau nilai-nilai, serta memberikan pemahaman lebih dalam mengenai keadaan mereka saat ini.
  • Application to the self adalah fase akhir di mana konseli didorong untuk menerapkan pengetahuan baru dalam kehidupan nyata. Konselor atau terapis mendampingi konseli untuk mengintegrasikan hasil pembelajaran dari sesi menulis dengan merefleksikan hal-hal yang perlu diubah atau diperbaiki, serta mana yang harus tetap dipertahankan. Konselor sebaiknya menanyakan kepada konseli jika mereka merasakan ketidaknyamanan atau membutuhkan dukungan lebih lanjut dalam mengatasi permasalahan yang muncul selama proses menulis.

Oleh karena itu, banyak orang lebih memilih untuk berbagi perasaan melalui tulisan. Mereka yang merasa sulit untuk terbuka kepada orang lain cenderung menggunakan cara ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, melainkan karena mereka merasa lebih nyaman dan tidak khawatir jika keluh kesah mereka tidak akan disebarluaskan. Aktivitas menulis ini bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, sangat cocok bagi mereka yang memiliki minat menulis.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar