
Perjalanan Panjang Pasien Transplantasi Ginjal di Indonesia
Kemajuan teknologi medis telah membawa banyak perubahan signifikan dalam dunia kesehatan, termasuk dalam prosedur transplantasi ginjal. Kini, transplantasi ginjal menjadi harapan utama bagi pasien gagal ginjal kronis di berbagai belahan dunia. Namun, di Indonesia, proses ini masih penuh tantangan yang harus dihadapi oleh para pasien.
Salah satu tantangan utama adalah kesulitan menemukan donor yang cocok. Selain itu, pasien yang berhasil menjalani transplantasi juga sering menghadapi kendala lain yang tidak kalah serius, yaitu keterbatasan akses terhadap obat imunosupresan yang tepat. Obat ini sangat penting untuk mencegah penolakan organ dan menjaga fungsi ginjal yang baru.
Konsumsi obat imunosupresan seumur hidup merupakan komitmen jangka panjang yang sangat penting bagi keberhasilan transplantasi. Sayangnya, saat ini banyak pasien mengeluhkan perubahan jenis obat yang diberikan. Sejak pertengahan 2024, BPJS Kesehatan hanya menanggung obat takrolimus non-originator, sementara obat originator sudah tidak lagi ditanggung. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan pasien, terutama karena risiko efek samping dan penolakan organ.
Salah satu pasien perempuan asal Jawa Tengah, A, yang menjalani transplantasi ginjal delapan tahun lalu dengan donor dari ibunya, juga mengeluhkan perubahan obat ini. Selama ini, kondisi kesehatannya relatif stabil karena rutin mengonsumsi obat originator. Namun, setelah penggantian obat, kadar kreatinin A mulai meningkat secara bertahap. Dari 1,3 menjadi 1,4, kemudian 1,5 hingga mencapai 1,6 pada Agustus 2025, melebihi batas aman 1,3.
Obat ini bukan barang yang bisa diganti seenaknya. Nyawa kami bergantung pada obat ini, ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami oleh banyak pasien lain. Berdasarkan survei Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) terhadap 23 pasien, 39 persen di antaranya mengalami peningkatan kadar kreatinin, sedangkan 13 persen bahkan melampaui batas normal. Selain itu, 52 persen pasien dilaporkan mengalami efek samping setelah mengonsumsi imunosupresan non-originator.
Jumlah pasien transplantasi ginjal di Indonesia saat ini tercatat lebih dari 1.500 orang. Untuk mengendalikan kondisi A, dokter menaikkan dosis methylpred, namun obat ini memicu kenaikan kadar gula darah.
Selain masalah obat, A juga menyebutkan adanya kendala dalam sistem layanan transplantasi, yaitu waktu antrean yang terlalu lama bagi pasien yang sudah siap menjalani operasi. Menurutnya, pasien gagal ginjal kronik hidup berpacu dengan waktu, dan sedikit keterlambatan bisa berakibat fatal.
Saya berharap pemerintah dapat mempercepat akses layanan dan menjamin ketersediaan obat yang menjadi penopang hidup pasien seperti kami, katanya.
Tantangan dan Harapan di Masa Depan
Transplantasi ginjal membutuhkan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat. Penggunaan obat imunosupresan yang tepat dan terjangkau adalah salah satu faktor kunci dalam keberhasilan transplantasi. Namun, saat ini, banyak pasien menghadapi tantangan dalam mendapatkan obat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Selain itu, sistem layanan transplantasi yang efisien dan cepat juga sangat dibutuhkan. Waktu antrean yang terlalu lama dapat berdampak negatif pada kesehatan pasien. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk memperbaiki sistem tersebut.
Pemerintah dan lembaga kesehatan perlu bekerja sama untuk memastikan ketersediaan obat dan layanan yang memadai. Dengan begitu, pasien transplantasi ginjal dapat memiliki peluang lebih besar untuk hidup sehat dan berkualitas.
Harapan besar terus dipancarkan oleh para pasien dan keluarga mereka. Semoga kebijakan dan tindakan yang diambil dapat memberikan solusi nyata dan mengurangi tantangan yang dihadapi. Dengan dukungan yang kuat, keberhasilan transplantasi ginjal di Indonesia dapat tercapai dan semakin banyak nyawa yang diselamatkan.
Komentar
Kirim Komentar