
Di kejauhan, sayup-sayup sudah terdengar bunyi nyaring suara khas seperti peluit panjang yang tak putus-putus. Ya, itu suara khas pedagang keliling yang beberapa waktu lalu hampir setiap malam lewat di depan rumah saya. Sudah beberapa bulan dia tidak lewat di depan rumah saya. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Dari bunyi nyaring ini pula, saya bergegas ke dapur untuk mengambil piring sebelum pedagang itu lewat di depan rumah. Pedagang yang saya nantikan itu adalah penjual kue putu bambu keliling. Suara nyaring itu pula yang memancing orang-orang untuk membelinya.
Ketika penjual itu tiba, saya segera memanggilnya dan memesan kue putu seharga 20 ribu rupiah. Biasanya, dengan harga sepuluh ribu rupiah, saya akan mendapatkan 7 potong kue putu. Itu berarti, kali ini, saya akan mendapatkan sekitar 2 kali lipat banyaknya. Dengan jumlah sebanyak itu dan ukuran kue yang cukup besar, rasanya akan cukup mengenyangkan untuk dimakan berdua.
Makan kue putu bambu cocok ditemani secangkir kopi pahit yang hangat. Rasa manis dari gula aren sudah cukup menambah nikmat sajian kopi pahit. Cocok dimakan sambil ngobrol atau menonton TV.
Keunikan Putu Bambu
Kue putu bambu adalah salah satu makanan camilan manis tradisional khas Indonesia yang terkenal dengan rasa manis dan aromanya yang harum. Kue ini biasanya berbentuk tabung kecil berwarna hijau, terbuat dari tepung beras dan gula merah, dan diberi taburan kelapa parut atau gula putih di atasnya. Secara umum, kue ini sangat digemari karena rasanya yang gurih dan manis serta teksturnya yang kenyal dan lembut.
Selain rasanya yang manis dan nikmat, hal unik dan menarik dari kue putu bambu adalah cara pembuatannya. Dari namanya saja, kue ini menggunakan bambu sebagai cetakannya dan dimasak dengan menggunakan uap air untuk mematangkannya.
Ukurannya biasanya dibuat tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil supaya cepat matang dan pas untuk disantap dengan sekali suapan. Bunyi nyaring dari uap air yang keluar membuat proses memasak kue putu ini menjadi menarik. Untuk sepotong kue putu bambu diperlukan waktu tunggu sekitar 3-5 menit untuk matang di atas tekanan uap air panas.
Asal Usul Kue Putu Bambu
Kue putu bambu memiliki kisah sejarah yang panjang. Kue ini diklaim berasal dari tradisi kuliner masyarakat Jawa dan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
Namun, asal-usul kue putu bambu di Indonesia konon berawal dari pengaruh budaya Tiongkok yang masuk ke Nusantara dan sudah ada sejak masa Dinasti Ming di dataran Cina, sekitar 1200 tahun yang lalu, dengan nama asli "xian roe xiao long" yang berarti kue dari tepung beras berisi kacang hijau dan dikukus dalam cetakan bambu.
Ketika kue ini masuk ke Indonesia melalui proses akulturasi budaya, isian kue ini berubah dari kacang hijau menjadi gula merah dan kelapa parut.
Nama "putu" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "kukusan". Nama ini diambil dari teks sastra lama Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1814 di masa Kerajaan Mataram.
Dalam naskah tersebut, kue putu digambarkan sebagai cemilan atau makanan pendamping di pagi hari, seperti yang diceritakan saat Ki Bayi Panurta meminta santrinya menyiapkan hidangan pagi.
Pada awal mula, kue ini dijual sebagai jajanan rakyat yang dibawa menggunakan keranjang bambu. Dengan demikian, kue putu bambu pun dianggap sebagai hasil perpaduan budaya Tionghoa dan tradisi lokal Jawa melalui sejarah panjang sejak masa kolonial.
Hingga saat ini, kue putu bambu menjadi salah satu jajanan tradisional khas yang sangat digemari di Indonesia. Sebagian pedagang yang bertahan masih tetap mempertahankan popularitasnya hingga saat ini sebagai makanan khas Indonesia.
Cara Membuat
Saat ini, tidak mudah untuk menemukan penjual kue putu bambu. Namun, tidak perlu khawatir. Bagi penyuka kue ini, kini sudah ada banyak resep-resep kue putu yang tersaji di media sosial.
Berbahan dasar tepung beras, kue putu bambu diberi pewarna hijau alami dari daun pandan, kemudian diisi dengan gula merah parut, kemudian dikukus dalam tabung bambu kecil sehingga memberikan aroma khas dan tekstur kenyal pada kue.
Pembuatannya cukup sederhana. Pertama-tama, sari pandannya dibuat dulu dengan cara memblender beberapa helai daun pandan dan air kemudian di saring, diambil sarinya yang berwarna hijau, dan diberi sedikit garam. Untuk isian kue, digunakan gula aren atau gula jawa yang di serut.
Bagian utama kue yaitu tepung beras dan tepung ketan dicampur dan diaduk rata. Kemudian, adukan tepung dicampur dengan air sari pandan sedikit demi sedikit. Perlu diperhatikan bahwa Adonan tidak sampai kental, tetapi tercampur kering merata sehingga berupa adonan kering atau seperti tepung yang kasar seperti pasir ya.
Proses selanjutnya adalah menyiapkan cetakan bambu khas putu bumbung. Kalau belum punya cetakan kue kue putu, bisa memakai cetakan lain. Tapi, sekarang, ada banyak penjual cetakan bambu yang bisa dibeli secara online.
Cetakan putu diberi alas daun pisang agar saat diisi ke dalam tabung bambu, tepungnya tidak keluar dari tabung bambu. Tabung bambu lalu diisi dengan adonan tepung tadi sekitar 1/3 tinggi cetakan, diberi gula jawa, lalu ditutup lagi dengan tepung adonan. Kalau sudha seperti ini, sebaiknya jangan ditekan supaya hasilnya tidak padat bantat.
Setelah matang, kue putu ditata di atas piring dan diberi taburan kelapa parut dicampur dengan garam sedikit saja. Beberapa ada yang menggunakan gula pasir sebagai pemanis. Beberapa orang ada yang mengukus kelapa parutnya agar tidak mudah basi.
Akankah Jadi Kenangan?
Memang, tidak mudah menjadi pedagang kue putu bambu keliling di tengah gempuran aneka cemilan lokal dan manca negara. Lidah orang Indonesia juga sudah mulai familiar dengan cemilan impor atau cemilan lainnya yang variasinya banyak. Meski pedagang keliling kue putu bambu semakin sedikit bahkan hampir hilang, cemilan unik dan istimewa ini hendaknya terus dilestarikan sebagai kekayaan kuliner Indonesia.
Komentar
Kirim Komentar