
Denis Puric, petarung asal Bosnia yang dikenal dengan julukan Bosnian Menace, menunjukkan keyakinan tinggi bahwa dirinya mampu mengalahkan Takeru Segawa dalam dua ronde saat keduanya bertemu di ajang ONE 173 pada 16 November mendatang. Laga ini akan digelar di Ariake Arena, Tokyo, Jepang, dan menjadi pertandingan kelas terbang kickboxing yang sangat dinantikan.
Bagi Puric, pertandingan melawan Takeru yang berada di peringkat kedua adalah kesempatan emas yang selama ini dia incar. Ia bahkan sering menyuarakan ambisinya melalui media sosial. Kini, hanya beberapa minggu sebelum laga tersebut, ia semakin percaya diri.
"Saya ingin melawan legenda, para petarung terbaik seperti Takeru. Tidak ada yang memberikan perlawanan pada Rodtang seperti yang saya lakukan. Jadi, saya pikir saya paling layak untuk laga itu," ujarnya.
Keyakinan Puric bukan tanpa dasar. Pengalamannya melawan Rodtang pada Juni 2024 menjadi salah satu alasan utamanya. Saat itu, jagoan yang memiliki tinggi badan 165 cm ini berhasil bertahan tiga ronde penuh melawan megabintang Thailand tersebut dalam duel kickboxing. Sementara itu, Takeru hanya bertahan 80 detik saat berhadapan dengan Rodtang di ONE 172 pada Maret lalu. Hasil kontras ini membuat Puric yakin bisa mengejutkan penonton di Tokyo.
"Kami hanya perlu mendaratkan pukulan keras dan saya pikir dia akan sempoyongan. Dia bukan tipe petarung yang main hajar dan jago melindungi diri," kata Puric. Ia juga menilai bahwa Takeru tidak memiliki banyak strategi untuk menghadapinya.
"Saya melihat celah dan saya melihat diri saya mendaratkan hook kiri serta menjatuhkannya," tambahnya.
Selama kariernya, Denis Puric telah membangun reputasi sebagai striker brutal yang pantang menyerah. Ia pernah menghabisi petarung Vietnam terkemuka, Nguyen Tran Duy Nhat, lewat KO di ronde kedua dan dua kali menjatuhkan mantan penantang juara, Jacob Smith, dalam sebuah laga.
Namun, setelah tampil impresif melawan Rodtang, Puric mengalami masa sulit dengan kekalahan TKO dari Jaosuayai Mor Krungthepthonburi. Hasil negatif itu membuatnya mengevaluasi pendekatan karier dan memutuskan untuk fokus total pada kickboxing.
"Saya tidak mempertimbangkan fakta bahwa saya berusia 40 tahun. Laga terakhir jadi peringatan bagi saya," tutur jagoan bertinggi badan 165 cm ini. "Anak-anak di Muay Thai adalah singa muda, mereka setengah usia saya. Dengan kickboxing, saya masih bisa bersaing dengan yang terbaik."
Aturan kickboxing dengan sarung tangan lebih berat dan larangan serangan siku memberikan ruang lebih besar bagi Puric untuk menggunakan kecepatan tanpa khawatir pukulan brutal ala Muay Thai yang memakai sarung tinju tipis di ONE Championship.
Dengan perubahan fokus itu, Puric kini datang dengan kepercayaan diri penuh. "Jika dalam kondisi prima, saya bisa bertarung. Selama saya bertarung tiga ronde dengan dia seperti yang saya lakukan dengan Rodtang, saya pikir laga ini tidak akan melewati ronde kedua," tegasnya.
Puric juga yakin bahwa Takeru terlalu fokus pada obsesi duel ulang melawan Rodtang hingga mengabaikan ancaman yang ada di depan matanya. Di sisi lain, setelah mempelajari kebiasaan Takeru, Puric mengidentifikasi kelemahan sang lawan.
"Dia terlalu fokus pada Rodtang dan memberikan banyak tekanan pada dirinya sendiri," ujar Puric. "Dia punya tusukan jari kaki ke tubuh dan tendangan betis. Tetapi itu hanya dua hal yang dia punyai untuk melawan saya. Dia tidak mungkin beradu tinju dengan saya. Saya lebih eksplosif dan pukulan saya lebih keras," pungkasnya.
Komentar
Kirim Komentar