
Menulis sebagai Bentuk Bertahan Hidup
Saya tidak tahu kapan menulis menjadi kebutuhan. Mungkin bermula dari keinginan sederhana: agar isi kepala yang sesak ini punya tempat untuk bernafas. Seiring waktu, menulis bukan lagi sekadar kegiatan, melainkan cara saya bertahan hidup secara batin, emosional, bahkan spiritual.
Menulis memberi saya ruang untuk berbicara ketika dunia terlalu bising untuk mendengarkan. Dalam percakapan sehari-hari, saya sering kalah cepat, kalah volume. Ketika lebih dari dua orang berbicara, suara saya tenggelam di antara tawa dan jeda yang tidak memberi ruang. Tapi di tulisan, semua orang mau menunggu saya menyelesaikan kalimat. Tidak ada yang memotong, tidak ada yang menyepelekan. Saya bebas mengatur tempo, intonasi, dan arah pembicaraan. Mungkin karena itu saya betah di dunia kata.
Namun, lama-lama muncul rasa sepi juga. Seperti berbicara di ruangan kosong, saya kadang rindu mendapat respon. Bukan karena haus pujian, tapi karena ingin tahu apakah kata-kata saya masih punya gema. Ada kalanya tulisan saya hanya dibaca segelintir orang, komentar pun nihil. Rasanya seperti bercerita panjang lebar di depan tembok. Tapi anehnya, saya tidak berhenti. Karena saya tahu, setiap tulisan adalah cermin kecil tempat saya berdialog dengan diri sendiri.
Menulis sebagai Jalan Menghadapi Dunia
Saya pernah mendengar sebuah komentar: "Penulis yang menulis tiga sampai lima artikel sehari itu ngapain aja sih hidupnya? Nggak punya kerjaan lain, ya?" Saya tersenyum membaca itu. Mungkin benar, dari luar tampak berlebihan. Tapi siapa yang bisa menakar dorongan batin seseorang untuk menulis? Ada yang menulis demi popularitas, ada yang menulis demi menyambung hidup, ada juga yang menulis karena kalau tidak menulis justru merasa mati pelan-pelan.
Saya termasuk yang terakhir. Menulis bukan soal mencari perhatian, tapi cara menjaga kewarasan di tengah dunia yang serba terburu-buru. Setiap tulisan adalah jeda, sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan, lalu lintas, dan rutinitas yang kerap terasa mekanis. Di balik layar laptop, saya menemukan kembali ritme hidup yang lebih pelan, lebih jujur.
Meski begitu, saya tidak menutup mata. Kadang ada juga yang menulis dengan target tertentu. Saya pernah menulis demi mengejar K-Reward pengakuan bulanan di aiotrade bagi mereka yang produktif dan populer. Ada kebanggaan tersendiri ketika membayangkan nama saya muncul di papan penghargaan itu, meski nominal hadiahnya mungkin tak seberapa.
Keberhasilan dalam Cara Sendiri
Saya menulis sehari bisa lebih dari tiga artikel, kalah deh jadwal minum obat hehe.., berharap bisa menembus sepuluh besar. Tapi sampai sekarang belum pernah sekalipun berhasil. Lucunya, dari kegagalan itu justru saya belajar sesuatu. Bahwa kepuasan sejati dalam menulis tidak datang dari peringkat atau reward, melainkan dari ritme keberlanjutan. Ada rasa tenteram saat tahu, saya masih menulis hari ini, seperti kemarin, dan semoga juga besok.
Lalu, karena tak ingin kehilangan semangat, saya menciptakan ukuran keberhasilan versi saya sendiri yang mungkin terdengar aneh bagi orang lain: setiap judul tulisan saya harus memiliki jumlah spasi genap. Ya, sesederhana itu. Sebuah kebiasaan kecil yang kemudian menjadi tanda tangan batin. Saya tidak tahu apa maknanya secara pasti. Mungkin ini cara saya menjaga konsistensi, atau sekadar bukti identitas bahwa saya masih punya kendali atas sesuatu, sekecil apa pun itu.
Kebiasaan yang Menjadi Simbol
Kini, kebiasaan itu sudah berlangsung lama. Saya menghitungnya seperti orang lain menghitung langkah setiap hari. Kadang saya menertawakan diri sendiri: mengapa harus repot menghitung spasi? Tapi semakin lama, saya sadar di balik kebiasaan kecil itu, ada dorongan besar untuk bertahan. Untuk tetap menulis, bahkan ketika tak ada yang membaca.
Menulis telah mengajarkan saya untuk tidak selalu menunggu tepuk tangan. Kadang, yang lebih penting adalah kejujuran dalam setiap kalimat. Bagi sebagian orang, menulis mungkin pekerjaan sampingan; bagi saya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan antara realitas dan mimpi. Ketika dunia nyata menuntut kesibukan tanpa henti, tulisan menghadirkan ruang sunyi tempat saya bisa beristirahat tanpa rasa bersalah.
Orang sering bertanya, "Kamu nggak bosan menulis terus?" Saya jawab, "Tidak, karena saya menulis bukan untuk mengisi waktu, tapi untuk menghidupinya." Setiap kali menulis, saya merasa seperti mengisi ulang energi yang perlahan habis terserap oleh rutinitas. Di dalam tulisan, saya menemukan kembali versi diri saya yang paling jujur, yang tidak perlu berpura-pura kuat, pintar, atau bahagia.
Perjalanan Panjang dalam Tulisan
Kini, ketika saya menengok kembali perjalanan ini, saya menemukan satu hal yang mengharukan: ternyata menulis telah menjadi cara saya bertahan hidup. Ia bukan sekadar hobi atau profesi, melainkan teman sejiwa yang sabar mendengar segala kegelisahan saya, dari yang sepele sampai yang eksistensial.
Selanjutnya hari ini, ketika saya mengetik kalimat terakhir ini, saya baru menyadari sesuatu yang membuat saya tersenyum: Tulisan ini, ya..., yang sedang Anda baca sekarang: adalah tulisan berjudul spasi genap ke-690. Barangkali itu terdengar remeh, tapi bagi saya, angka itu adalah simbol perjalanan panjang: bahwa saya masih di sini, masih menulis, masih berjuang menjaga kewarasan lewat kata.
Selama masih ada ruang kosong di halaman dan jari saya masih sanggup menekan tuts keyboard, saya tahu satu hal pasti: saya belum menyerah pada hidup.
Komentar
Kirim Komentar