
Peran Makan Bersama dalam Budaya Jawa
Dalam berbagai acara yang melibatkan keluarga, seperti kelahiran, ulang tahun, pertunangan, hari ulang tahun perkawinan, syukuran atas terkabulnya doa, dan kematian, makan bersama selalu menjadi bagian tak terpisahkan. Hal ini juga berlaku untuk acara-acara di lingkup komunitas, seperti kegiatan bertetangga, rekan kerja, atau kelompok sosial lainnya.
Dalam budaya Jawa, acara semacam ini dikenal dengan istilah "kembul donga lan kembul bujana", yang artinya "doa bersama dan makan bersama". Acara ini tidak hanya sebagai bentuk kebersamaan, tetapi juga sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan.
Sisa Makanan yang Tidak Terpakai
Setelah acara makan bersama selesai, sering kali masih terdapat banyak sisa makanan di piring-piring yang disajikan. Bukan hanya lima atau enam piring, tetapi bisa mencapai puluhan piring dan mangkok. Bahkan jika jumlah tamu undangan melebihi seratus orang, jumlah sisa makanan bisa sangat banyak.
Jika sisa makanan hanya sekitar 2-3 sendok per piring, hal ini masih bisa dimaklumi. Namun, jika sisa makanan mencapai sepertiga, separuh, atau bahkan lebih dari piring, maka hal ini sangat disayangkan. Makanan yang seharusnya menjadi karunia dari Allah, kini justru menjadi sampah.
Banyak alasan mengapa makanan tersisa, seperti ketidakcocokan rasa, ingin mencoba menu lain, atau karena sudah kenyang. Namun, hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran akan pentingnya menghargai rezeki yang diberikan.
Tradisi dan Penghargaan terhadap Makanan
Di kalangan masyarakat tradisional, khususnya Jawa, para tamu biasanya diperbolehkan oleh tuan rumah atau pengurus acara untuk menikmati sajian. Mereka diberi kesempatan dengan ucapan: "mangga sekecakaken, dipuncekapi lho...". Secara harafiah, artinya adalah "silakan dinikmati dan dicukupi".
Ungkapan "dicukupi" tidak berarti membatasi jumlah makanan yang diambil, tetapi lebih mengarah pada prinsip sesuai dengan kemampuan diri. Tamu tidak boleh terlalu sedikit atau justru terlalu banyak sehingga menyisakan makanan di piring.
Tips Mengambil Makanan Secara Bijaksana
Aneka menu yang disajikan dengan aroma yang menggugah selera sering kali membuat para tamu tertarik untuk mencoba semua sajian. Namun, cara yang bijaksana adalah dengan mengambil secukupnya sajian yang paling disenangi, dan jika sudah habis, baru mengambil menu lainnya.
Hindari mengambil semua menu dalam satu piring penuh, seakan-akan takut tidak kebagian. Kebiasaan ini justru bisa menyebabkan makanan tersisa dan tidak terpakai secara optimal.
Prinsip Hidup yang Seimbang
Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Penting untuk mengambil secukupnya sesuai dengan kemampuan perut, bukan hanya sekadar memenuhi selera mulut. Dengan demikian, kita tidak hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga menghargai rezeki yang telah diberikan.
Dengan kesadaran yang baik, setiap acara makan bersama dapat menjadi momen yang bermakna, tidak hanya sebagai kebersamaan, tetapi juga sebagai bentuk syukur dan penghargaan terhadap karunia Tuhan.
Komentar
Kirim Komentar