
Di tengah pergeseran tren mode yang semakin mengedepankan keberlanjutan, sebuah merek fesyen asal Indonesia menunjukkan inovasi luar biasa. Fuguku, yang didirikan oleh Savina Lavinia, menjadi contoh bagaimana limbah bisa diubah menjadi produk fesyen yang menarik dan bernilai tinggi.
Perjalanan Awal Fuguku
Fuguku berdiri pada tahun 2022. Awal mula terbentuknya merek ini tak lepas dari pengalaman Savina saat menjalani magang bersama desainer avant-garde asal Belanda, Iris Van Herpen. Dari sana, ia belajar bagaimana kain bisa dimanipulasi menjadi bentuk tiga dimensi tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai pakaian. Pengalaman tersebut memberinya inspirasi untuk memadukan teknik futuristik dengan kerajinan tradisional Indonesia.
Hasil eksperimen itu kemudian melahirkan identitas unik Fuguku: permainan bentuk tiga dimensi yang dibuat melalui teknik jumputan yang dikembangkan sendiri. Ia menyebut pendekatannya sebagai cara ilmiah untuk mendefinisikan ulang pakaian sehari-hari.
Produk Pertama yang Menarik Perhatian
Saat memulai usaha, produk perdana Savina adalah tas Fugu Bag, yang memiliki tekstur berduri dan tampilan mengembang. Tas ini langsung menarik perhatian publik, terutama di kalangan pecinta mode Jakarta. Mereka melihat tas Fuguku sebagai produk yang lucu dan estetis, sekaligus unik karena teksturnya belum pernah ada di pasaran.
Namun, tidak semua hal mulus. Di akhir 2024, Fuguku diterpa tuduhan meniru desain merek Jepang Bunzaburo. Secara terbuka, Savina mengakui bahwa Bunzaburo menjadi inspirasinya. Namun, pemilik Bunzaburo tidak mematenkan produknya, sehingga Fuguku mendapat dukungan dari pihak tersebut. Momentum ini lantas menjadi kesempatan bagi Savina untuk menjelaskan nilai-nilai yang diusung Fuguku, yaitu inovasi teknik dan pemberdayaan sosial.
Bahan Baku dan Pemberdayaan Sosial
Produk Fuguku terbuat dari poliester daur ulang botol PET dan plastik sisa di tempat pembuangan sampah akhir. Semua produk Fuguku sudah tersertifikasi Global Recycled Standard. Selain itu, seluruh produksi dilakukan oleh lebih dari 70 perajin perempuan di Jakarta dan sekitarnya. Sebanyak 90% dari mereka berasal dari komunitas rentan, seperti ibu rumah tangga, penyandang disabilitas, hingga penyintas penyakit stroke.
Perluasan Pasar dan Koleksi Baru
Dalam waktu singkat, Fuguku berhasil menembus pasar internasional. Merek ini tampil di Coterie New York dan Premire Classe Paris pada 2024, serta menjadi bagian dari Indonesia Pavilion di World Expo Osaka 2025. Hasilnya, Fuguku mengantongi 35 prospek pembeli dari 15 negara. Selain itu, Fuguku juga pernah berkolaborasi dengan Batik Trusmi serta produk Juice Bar.
Tahun ini, Fuguku meluncurkan koleksi Way of Water, terdiri dari 15 set pakaian dan 30 tas bertema lautan kosmik. Produk ini dijual mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Rencana Masa Depan
Savina berencana mengoptimalkan produksi Fuguku untuk melebarkan pasar. Dengan konsep yang unik dan nilai sosial yang kuat, Fuguku membuktikan bahwa fesyen bisa menjadi alat perubahan yang berkelanjutan.
Komentar
Kirim Komentar