
Desa Wisata Hanjeli: Kehidupan yang Berubah dari Tanaman Langka
Suasana tenang dan damai menghiasi Desa Wisata Hanjeli di Kabupaten Sukabumi. Pada hari Kamis (23/10/2025), warga desa tampak sibuk dengan aktivitas sehari-hari yang menenangkan. Saat aiotrade tiba di Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, ia disambut hangat oleh Asep Hidayat, yang akrab disapa Bah Asep.
Di rumah kayu yang telah diubah menjadi Pondok Hanjeli, Bah Asep menyajikan semangkuk Bubur Hanjeli yang manis dan lembut. Rasa itu membangkitkan kenangan lama bagi aiotrade tentang masa 14 tahun silam, ketika terakhir kali mencicipinya.
Bangunan di desa wisata ini tampak sederhana. Tidak ada yang megah. Hampir semua berdinding kayu, menunjukkan kuatnya kearifan lokal yang dipertahankan.
Dari Pekerja Migran ke Penggerak Desa
Bah Asep memulai kisahnya dengan semangat untuk mengabdi pada tanah kelahirannya. Dulu, ia bekerja sebagai buruh migran, namun hati kecilnya ingin menghidupkan ekonomi desa. Ia mulai menjelajahi potensi wisata Sukabumi, sering menjadi pemandu wisata sambil mencari cara agar kampungnya bisa mandiri.
Dalam perjalanan itu, ia menemukan fakta mengejutkan dari sebuah jurnal bahwa tanaman Hanjeli atau Jali-jali (Coix lacryma-jobi L) hampir punah. Padahal, biji kecil itu memiliki kandungan gizi tinggi. Dari situlah tekadnya tumbuh, untuk menanam, melestarikan, dan menghidupkan kembali Hanjeli di tanah Waluran.
Di Waluran Hanjeli itu sudah ada, kita sempat jualin itu untuk oleh-oleh dan jual online. Kemudian saya buka jurnal serta referensi beberapa sumber dan ternyata Hanjeli itu hampir punah. Nah, di satu sisi dalam pikiran saya, ini harus dikembangkan, kata Bah Asep saat ditemui aiotrade di Desa Wisata Hanjeli, Kamis (23/10/2025).
Sejak tahun 2013, ia belajar wirausaha sosial. Jika sebelumnya, keuntungan usahanya untuk diri sendiri, sekarang semua manfaatnya untuk sosial. Dari situ mulai menggerakkan desa wisata, 2015 bikin desa wisatanya. Alhamdulillah perlahan mulai menemukan momentum, meski dulu fase awalnya sangat krusial karena memakai dana pribadi, tambahnya.
Kini, wisatawan yang datang bisa merasakan pengalaman menanam hingga mengolah Hanjeli menjadi bubur, dodol, aksesori, bahkan sabun mandi, sebuah kemewahan sederhana yang nyaris tak ditemukan di kota besar.
Dari Sukabumi ke Dunia
Sejak 2018, Hanjeli tidak hanya dikenal oleh wisatawan lokal. Wisatawan mancanegara pun datang silih berganti. Dari Sukabumi, nama Desa Wisata Hanjeli terbang membawa harum hingga nasional. Bahkan meraih penghargaan Kalpataru 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kategori Perintis Lingkungan.
Bah Asep menyebut keberhasilan ini selaras dengan semangat Kementerian Pariwisata dalam mengembangkan wisata halal. Apa yang kita sajikan juga makanan-makanan halal. Artinya, ini sangat selaras dengan visi-misi Kementerian Pariwisata dan Asta Cita Presiden. Luar biasa, kami juga masuk dalam 15 besar program Wonderful Indonesia kategori Gastronomi, tutur Bah Asep.
Menghidupkan Asa Ekonomi Warga
Desa Wisata Hanjeli bukan sekadar tempat wisata. Ia menjadi ruang hidup baru bagi para purna buruh migran yang dulu menggantungkan harapan di negeri orang. Kini, sekitar 150 warga bersama Bah Asep menata masa depan lewat Hanjeli.
Sekarang kita ada divisi-divisi, seperti kuliner, aksesori Hanjeli, homestay, Hanjeli Kraf, dan kelompok tani. Ketua divisi-divisi itu juga mantan buruh migran, ungkap Bah Asep.
Salah satunya Cum Ahmawati (50), yang kini menjadi pemandu wisata. Ia fasih berbahasa Inggris, Arab, dan Kanton, kemampuan yang diasahnya selama 18 tahun bekerja di luar negeri.
Keterlibatan saya di sini sejak desa wisata berdiri. Saya sebagai tour guide, dan dari segi ekonomi pribadi sangat terbantu, kata Cum Ahmawati.
Dulu, sepulang dari luar negeri, Cum sempat menjadi penumbuk batu demi menyambung hidup. Upahnya hanya Rp10.000 per karung batu yang dihaluskan. Pertama kali saya pergi ke Saudi itu tahun 1996, pulang tahun 2014. Waktu itu menumbuk batu emas, satu karung diupah Rp10.000. Sekarang kalau jadi pemandu tamu, per kunjungan dibayar Rp150.000. Kalau ada tiga kelompok, tinggal dikalikan saja, ujarnya dengan tawa lega.
Berkat Hanjeli, kehidupan Cum perlahan bangkit. Ia mampu menyekolahkan anak hingga lulus SMA dan membesarkan dua anak bungsunya seorang diri.
Membangun Bersama, dari Akar hingga Awan
Desa Wisata Hanjeli kini bukan hanya simbol pelestarian tanaman langka, tapi juga simbol kebangkitan ekonomi pedesaan. Bah Asep terus membuka kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, akademisi, dan lembaga keuangan.
Kita juga ada program Hanjeli Goes to School. Harapannya, pemerintah daerah bisa ikut menyambut, karena konsep ini harus berkelanjutan, ujar Bah Asep.
Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI) melalui program CSR yang membangun aula serbaguna pada 2023. Aula itu kini menjadi ruang pembelajaran dan laboratorium gagasan bagi pengunjung, mahasiswa, dan warga sekitar.
Pada 2023 itu bangun aula, ada WC dan sumur bor juga. Tahun 2024 kami dapat pendanaan lagi dari BI untuk kursi dan sound system, jelas Bah Asep.
Kepala Perwakilan BI Jawa Barat, Muhammad Nur, menilai potensi Jabar, termasuk Sukabumi, sangat besar untuk menjadi contoh pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Potensi Jawa Barat ini sangat besar. Selama ini Jabar jadi pusat investasi nasional dan selalu memberi contoh terbaik dalam berbagai aspek, ujar Muhammad Nur dalam keterangannya di Bandung, Jumat (18/7/2025).
Dengan gotong royong warga, akademisi, pemerintah, dan komunitas, Desa Wisata Hanjeli bukan sekadar tempat singgah, melainkan kisah tentang bagaimana butir kecil Jali-jali bisa menumbuhkan harapan sebesar negeri.
Komentar
Kirim Komentar