
Perbedaan Preferensi Nasi: Pulen atau Pera?
Banyak orang memiliki preferensi masing-masing terhadap jenis nasi yang mereka sukai. Beberapa lebih menyukai nasi pulen, sementara yang lain lebih menggemari nasi pera. Perbedaan ini bisa dilihat dari pengalaman pribadi, khususnya ketika seseorang tinggal di suatu daerah dan kemudian berpindah ke tempat lain.
Saya pernah tinggal di Malang dan kemudian bermigrasi ke Kota Bogor. Dari pengalaman tersebut, saya menduga bahwa ada kelompok masyarakat yang menyukai nasi pulen, sedangkan kelompok lain lebih suka nasi pera. Pengalaman berinteraksi dengan berbagai kalangan, termasuk para mandor dan tukang, memperkuat dugaan ini.
Nasi pulen memiliki tekstur lembut, lengket, dan tidak kering. Cocok disantap selagi hangat bersama hidangan seperti gudeg, gule, opor, atau pecel. Sementara itu, nasi pera, atau nasi buyar, memiliki tekstur yang tidak lengket dan lebih kering. Biasanya, nasi jenis ini tersedia di Rumah Makan Padang, serta dalam bentuk nasi goreng dan uduk.
Di keluarga saya, kebiasaan membuat nasi pulen sudah lama dilakukan. Meski demikian, saya juga sering menemui nasi yang agak pera, terutama saat makan di warung-warung atau rumah makan. Misalnya, di Rumah Makan Padang, nasi cenderung lebih buyar. Ada juga tempat makan di Kota Bogor yang menyajikan nasi agak pera, meskipun penjualnya memberi alasan bahwa air terlalu banyak.
Secara umum, warga sekitar tempat tinggal saya lebih menyukai nasi agak pera daripada nasi pulen. Mungkin ini dipengaruhi oleh kebiasaan. Saat berinteraksi dengan mandor dan tukang dari berbagai daerah seperti Bogor, Cianjur, hingga Bandung, saya melihat mereka lebih memilih nasi pera. Porsi yang mereka ambil juga lebih besar, bisa dua hingga tiga kali lipat dari jumlah yang saya ambil.
Mereka biasa menyantap nasi munjung dengan lauk sepotong ikan asin, sambal, dan lalap. Jika lauknya jengkol, mereka akan menambah nasi lagi. Namun, ada saat-saat di mana pendapat saya runtuh. Misalnya, ketika putri saya membawa teman-temannya ke rumah setelah sekolah. Anak-anak itu menyantap hidangan sederhana yang saya buat, termasuk nasi yang agak pera. Salah satu dari mereka berkata, Nasinya enak, empuk... Gak kayak nasi di rumah, keras! Teman-temannya pun mengiyakan dan menambah nasi.
Ungkapan jujur anak-anak ini membuat saya merenung. Sebaiknya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa ada perbedaan selera antara orang di satu daerah dengan daerah lain. Bisa saja ada faktor-faktor lain yang memengaruhi preferensi, seperti kebiasaan, geografis, kesehatan, persepsi, dan ketersediaan.
Saya sendiri fleksibel dalam hal selera. Tidak jarang saya menyantap nasi yang tidak lengket dan butirannya lepas-lepas. Contohnya adalah nasi kebuli Yaman, yang terbuat dari beras Basmati dengan aroma harum, tekstur padat tapi lembut, dan tidak lengket.
Bagi saya, yang paling penting adalah makan sampai habis, baik nasi pulen maupun nasi pera. Saya percaya bahwa makanan harus dimakan dengan rasa syukur dan tanggung jawab. Berikut cara saya makan secara bertanggung jawab:
-
Makan secukupnya sesuai selera
Jika mengambil sendiri, isi piring dengan makanan secukupnya. Tahan nafsu serakah dan ingat bahwa masih ada saudara-saudara kita yang kelaparan. -
Habiskan paket makanan yang diberikan
Jika disodori set menu, nasi kotak, atau nasi bungkus, usahakan makan habis. Jika terlalu banyak, makan pelan-pelan atau bagikan dengan kerabat. -
Berterima kasih kepada semua pihak
Nikmati makanan dengan rasa syukur. Berterima kasih secara langsung atau dalam hati kepada pemberi makan, pemasak, hingga petani atau peternak yang menyediakan bahan pangan. -
Rapikan alat makan setelah makan
Habiskan isi piring atau mangkuk, kecuali garpu dan sendok. Letakkan alat-alat bekas dengan rapi.
Itulah cara saya makan dengan tanggung jawab. Saya menikmati dan menghabiskan hidangan hingga butir nasi terakhir, baik nasi pulen maupun nasi pera.
Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Anda? Apa jenis nasi yang Anda sukai, pulen atau pera?
Komentar
Kirim Komentar