Mahasiswa ULM Ubah Bunga Mangrove Jadi Madu, Juara Nasional

Mahasiswa ULM Ubah Bunga Mangrove Jadi Madu, Juara Nasional

Mahasiswa ULM Ubah Bunga Mangrove Jadi Madu, Juara Nasional

Inovasi Madu Mangrove dari Tim ULM yang Mengukir Prestasi Nasional

Tim Mangrove Preneurs dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berhasil mencuri perhatian nasional melalui inovasinya dalam ajang Inovillage 2025. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI dan menjadi wadah bagi para pemuda berinovasi untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal.

Advertisement

Dalam kompetisi ini, tim yang terdiri dari Rezky Amalia, Muhammad Luthfi Nuransari, dan Muhammad Behaqi berhasil meraih posisi delapan besar dari ratusan peserta se-Indonesia. Inovasi mereka berupa pemanfaatan bunga mangrove menjadi madu kelulut menjadi salah satu alasan utama keberhasilan mereka.

Inisiatif ini dimulai dari riset dosen tentang potensi pendapatan asli desa di Kecamatan Tatah Makmur, Kabupaten Banjar. Dari sana, tim menemukan bahwa tiga desa memiliki ekosistem mangrove yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan memanfaatkan potensi ini, mereka menciptakan produk unik yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan.

Rezky Amalia, ketua tim Mangrove Preneurs, menceritakan awal mula ide ini. Awalnya kami lihat bunga-bunga mangrove itu cuma gugur gitu aja. Sayang banget kalau enggak dimanfaatkan, ujarnya. Dengan kerja sama dengan alumni Fakultas Kehutanan ULM, tim mulai membudidayakan lebah yang mengonsumsi nektar bunga mangrove.

Hasilnya adalah madu dengan karakteristik unik, lebih cair, berwarna hitam bening, dan memiliki rasa manis-asam segar. Rezky menggambarkan proses ini seperti "melihara tuyul", di mana mereka hanya menikmati hasil kerja orang lain.

Madu mangrove ini dipanen sebulan sekali dari empat kotak stup, menghasilkan sekitar satu liter per bulan. Pemasaran dilakukan melalui media sosial dan promosi dari mulut ke mulut, dengan harga Rp150.000 per botol ukuran 250 ml.

Tidak hanya menghasilkan produk, tim juga melibatkan warga desa dalam sistem bagi hasil. Edukasi kepada masyarakat membuka mata mereka terhadap potensi ekonomi dari ekosistem mangrove. Respon warga senang banget, apalagi dari Kades Pandansari yang bahkan ingin replikasi program ini di desanya, kata Rezky.

Dalam kompetisi Inovillage, tim ULM bersaing ketat dengan kampus-kampus ternama seperti Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran. Meski berasal dari jurusan akuntansi, mereka mampu menjawab pertanyaan juri dari berbagai aspek, termasuk budaya dan lingkungan.

Kami bertiga itu teman biasa, tiba-tiba dihadapkan dengan hal-hal serius. Jadi pengalaman paling berkesan itu justru teamwork-nya, ungkap Rezky.

Ke depan, Mangrove Preneurs berencana memperluas produksi ke Desa Pandansari dan mengembangkan produk turunan seperti bipolen untuk skincare. Mereka juga tengah merancang roadmap untuk membuka wisata edukasi lebah kelulut.

Harapannya sih masih bisa berlanjut sampai nanti-nanti. Maintenancenya enggak ribet, kayak saya bilang tadi, kayak pelihara tuyul aja, tutup Rezky Amalia.

Berikut beberapa poin penting dari inovasi ini:

  • Tim Mangrove Preneurs berhasil meraih posisi delapan besar dalam Inovillage 2025.
  • Produk madu mangrove dibuat dari bunga mangrove yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
  • Proses produksi melibatkan warga setempat dan menggunakan metode alami.
  • Madu ini memiliki karakteristik unik, yaitu lebih cair, berwarna hitam bening, dan rasa manis-asam segar.
  • Pemasaran dilakukan melalui media sosial dan promosi dari mulut ke mulut.
  • Tim ULM berhasil bersaing dengan kampus-kampus ternama meskipun berasal dari jurusan akuntansi.
  • Ke depan, tim berencana memperluas produksi dan mengembangkan produk turunan.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar