Kontradiksi Harga Cabai di Pasar Lembang: Rawit Turun 50%, Keriting Naik Tajam

Kontradiksi Harga Cabai di Pasar Lembang: Rawit Turun 50%, Keriting Naik Tajam

Advertisement

Perubahan Harga Cabai di Lembang dan Sekitarnya

Di sentra pertanian Lembang dan sekitarnya, harga cabai rawit mengalami penurunan drastis hingga mencapai level terendah. Sementara itu, harga cabai keriting justru melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menimbulkan kebingungan bagi para petani sayur, karena tidak sejalan dengan ketersediaan pasokan di lapangan.

Harga cabai rawit merah saat ini berada pada kisaran Rp16.000Rp18.000 per kilogram, turun hampir 50 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Di sisi lain, harga cabai keriting meningkat menjadi Rp42.000 per kilogram. Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan yang cukup signifikan antara dua jenis cabai tersebut.

Ujang (45), seorang petani dari Desa Wangunharja, Kecamatan Lembang, mengungkapkan bahwa situasi ini membuatnya bingung. Kami juga tidak tahu penyebab pastinya. Di tingkat petani, stok cabai rawit justru mulai kosong, tapi harga malah jatuh, katanya.

Menurut Ujang, anjloknya harga cabai rawit diperparah oleh turunnya daya beli masyarakat. Harga sayur lain juga sedang rendah. Tomat cuma Rp4.000 per kilo, brokoli Rp8.000. Jadi uang yang beredar di petani juga makin sedikit, tambahnya.

Kondisi ini menyebabkan para petani kesulitan menutupi ongkos produksi, terutama untuk pupuk dan tenaga kerja yang terus meningkat. Hal serupa juga diungkapkan oleh Engkos, seorang petani lainnya, yang menilai situasi pasar sedang tidak normal.

Engkos menjelaskan bahwa tidak ada aktivitas pembelian besar dari para bandar atau pedagang besar yang biasa menampung hasil panen. SPPG MBG juga sekarang belanjanya kecil, sama seperti pembeli eceran lainnya. Tidak ada pembelian dalam jumlah fantastis, ujarnya.

Meski stok di kebun menipis, menurut Engkos, pasokan dari luar daerah tetap masuk ke pasar-pasar Jawa Barat. Hal ini menyebabkan harga di tingkat petani lokal sulit terkerek naik. Kalau pasokan kosong di sini, biasanya datang dari luar Jawa Barat. Jadi harga tetap ditekan rendah, kata Engkos.

Para petani berharap pemerintah daerah dapat melakukan intervensi harga atau menata ulang sistem distribusi agar tidak terjadi ketimpangan harga antara petani dan pedagang. Mereka juga meminta pemerintah membantu memantau arus pasokan antarwilayah agar tidak merugikan petani lokal.

Kalau begini terus, petani kecil bisa rugi besar. Harus ada kebijakan supaya harga bisa stabil, ujar Ujang. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari dinas terkait mengenai penyebab fluktuasi harga cabai tersebut.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar