
Perjalanan Kehidupan yang Penuh Semangat
Di balik suara sirene dan cahaya yang menyala-nyala dalam setiap misi penyelamatan, tersimpan kisah-kisah pribadi yang menggugah hati. Mereka adalah para petugas pemadam kebakaran yang memiliki tekad tak surut, pengorbanan tanpa pamrih, dan kegigihan untuk menembus batas kemampuan diri sendiri.
Dalam artikel ini, kita akan menyelami perjalanan luar biasa dua petugas pemadam kebakaran (damkar) yang datang dari latar belakang tak terduga, yakni mantan pengemudi ojek online (ojol) dan atlet silat. Mereka bukan hanya menghadapi tantangan, melainkan juga tantangan sosial, ekonomi, dan mental yang kerap tak tampak di permukaan. Dengan semangat pantang menyerah, mereka berjalan dari garda awal kehidupan menuju satu panggilan tugas yang mulia, yaitu melindungi dan melayani, di garis terdepan bencana.
Kisah Zubair
Zubair Faturrahman (29) menapaki jalan panjang sebelum akhirnya resmi menjadi anggota Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Sektor X Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada Oktober 2025. Motivasinya sederhana, dorongan keluarga dan keinginan untuk memperbaiki nasib di tengah kerasnya hidup di ibu kota.
Saya enggak malu untuk melamar dan bersaing dengan yang lain. Apalagi angkatan sekarang di Damkar banyak yang muda dan badannya bagus-bagus, ujar Zubair saat ditemui aiotrade, Jumat (24/10/2025).
Perjalanan Zubair menuju seragam jingga khas pemadam tak mulus. Ia pernah gagal saat melamar pada 2017 karena belum memiliki sertifikat Barisan Relawan Pemadam Kebakaran (Balakar), syarat wajib pada waktu itu. Kegagalan tersebut tak membuatnya berhenti berjuang. Ia sempat mencoba peruntungan di salah satu perusahaan BUMN pada 2023.
Di sela-sela usaha mencari pekerjaan tetap, Zubair juga menjalani hari-hari sebagai sopir ojek online untuk menafkahi diri dan keluarga. Namun, semangatnya untuk menjadi petugas damkar tak pernah padam. Ketika lowongan baru dibuka pada 2025, Zubair tak berpikir lama.
Sikat aja, mumpung umur masih masuk. Kenapa enggak? kata Zubair sambil tersenyum.
Keputusan itu bukan sekadar mencari pekerjaan, melainkan menghidupkan kembali mimpi lama. Setelah melewati serangkaian tes, pemberkasan, dan latihan fisik yang berat, Zubair baru memberi kabar kepada keluarganya.
Orangtua senang, keluarga bangga, ucap dia.
Bagi Zubair, usia bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Ia ingin kisahnya menjadi pengingat bagi siapa pun yang pernah merasa gagal atau terlambat mengejar impian.
Yang penting mau berusaha, jangan takut mencoba. Kalau diterima, itu rezeki. Kalau enggak, ya coba lagi di tempat lain, ujar dia.
Cerita Imam
Keinginan untuk menolong orang lain membawa langkah Imam Suyudi (23) ke jalan hidup yang baru. Dulu ia berdiri tegak di arena pencak silat, kini berlari menembus kepulan asap dan nyala api sebagai petugas pemadam kebakaran di Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur.
Sejak awal Oktober 2025, Imam resmi mengenakan seragam jingga khas petugas damkar. Siapa sangka, di balik ketegasannya saat memegang selang pemadam, tersimpan kisah seorang atlet yang pernah mengharumkan nama daerah dengan medali perunggu di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Sumatera UtaraAceh pada 2024.
Bagi Imam, menjadi petugas pemadam bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan kesempatan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Kalau di dunia saya dapat gaji, tapi di akhirat saya bisa bantu orang juga, katanya kepada aiotrade.
Sebelum mengenakan seragam damkar, keseharian Imam diisi dengan melatih anak-anak di sekolah dan sanggar silat. Ia bahkan pernah tampil di Dubai dalam sebuah pertunjukan internasional yang memperkenalkan pencak silat sebagai cabang olahraga potensial menuju Olimpiade.
Pengalaman bertahun-tahun sebagai atlet membuat Imam tak terlalu kesulitan menaklukkan pra-diklat dan pelatihan fisik damkar yang terkenal keras.
Sudah biasa latihan berat, jadi enggak terlalu terasa. Tapi tetap harus kuat, karena nanti kerja di lapangan berat banget, pegang nozzle, pegang selang, beban besar, kata dia.
Latihan di damkar bukan hanya soal otot dan tenaga, tapi juga mental. Di sinilah Imam menerapkan prinsip yang sudah lama ia pegang sejak jadi atlet, yakni second wind atau semangat baru yang muncul saat tubuh sudah di ambang batas.
Nah kita bagi atlet itu yang kita kejar tuh, second wind itu tadi, kalau ambang batas sudah maksimal, Tapi karena tekad kita kuat," ungkap dia.
Kini, dari gelanggang silat ke medan kebakaran, semangat juang Imam tetap sama: disiplin, ketangguhan, dan keberanian untuk terus melangkah. Jika dulu Imam menangkis serangan lawan di arena, kini harus menantang panas dan bahaya demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Komentar
Kirim Komentar