Ketika Sakit Gigi Sembuh dari Jauh

Ketika Sakit Gigi Sembuh dari Jauh

Pengobatan Jarak Jauh di Lombok: Antara Tradisi dan Digitalisasi

Advertisement

Saya pernah mengunjungi sebuah pesantren di bagian utara Lombok untuk mencari informasi tentang kegiatan pemberdayaan yang berbasis pesantren. Saat berbincang santai, pemimpin pesantren itu menanyakan rekan saya yang biasanya menemani kunjungan lapangan.

Tidak ikut, Tuan Guru, jawab saya. Dia sedang sakit gigi. Kalau sudah kambuh, tidak bisa ke mana-mana. Emosinya gampang tersulut. Saya tersenyum geli membayangkan sosoknya yang biasanya penuh kelakar, tiba-tiba menjadi pendiam karena satu urat gigi yang ngilu.

Tuan Guru itu kemudian menimpali dengan nada ringan, Di ujung kampung ini ada yang bisa mengobati sakit gigi dari jarak jauh. Kalimat itu terdengar seperti dongeng di tengah era telemedicine, tapi di Lombok, cerita seperti ini masih hidup di banyak sudut desa.

Beberapa orang yang hadir untuk urusan lain mengangguk membenarkan. Mereka berbagi kisah tentang kerabatnya yang sembuh dari sakit gigi tanpa pernah bertemu sang beliansebutan lokal untuk dukun penyembuh. Cerita itu disampaikan dengan yakin, seolah pengalaman nyata yang sulit dibantah.

Saya tidak pernah mencoba cara itu. Buat saya, pergi ke dokter praktik atau perawat gigi jauh lebih meyakinkan. Tapi menarik mendengar bagaimana pengobatan jarak jauh itu diceritakan dengan nada yang begitu percaya, nyaris religius.

Dalam masyarakat Sasak, belian menempati posisi sosial yang istimewa. Ia dipercaya memiliki kemampuan memulihkan keseimbangan tubuh dan jiwa. Sakit gigi, misalnya, tak selalu dianggap urusan medis, tapi bisa juga akibat ketemuqbahasa Sasak untuk ketempelan, angin jahat atau bisikan halus yang mengganggu.

Tradisi ini hidup berdampingan dengan logika modern. Warga bisa meminum obat parasetamol, namun tetap meminta diobati belian. Keduanya tidak bertentangan. Dalam sistem kepercayaan desa, kesehatan adalah hasil kolaborasi antara dunia kasat mata dan tak kasat mata.

Ahmad Fauzan, peneliti tradisi keagamaan Lombok dalam tulisannya Ziarah Makam di Lombok: Persinggungan Antara Aktivitas Doa dan Wisata, mencatat bahwa spiritualitas masyarakat Sasak sering beririsan dengan praktik keseharian. Doa, ritual, bahkan perjalanan wisata memiliki nilai penyembuhan.

Kini, dengan bantuan ponsel dan sinyal internet, praktik itu menemukan bentuk baru. Dukun yang dulu hanya bisa diakses lewat mulut ke mulut, kini hadir lewat panggilan video atau pesan WhatsApp. Kirim nama dan tanggal lahir, nanti saya usahakan, begitu kira-kira pesannya.

Fenomena ini mengingatkan pada konsep antropologi klasik: magical thinking. Orang meyakini bahwa sesuatu bisa terjadi tanpa kontak fisik, cukup lewat simbol, mantra, atau niat. Dalam era digital, simbol itu berpindah ke sinyal, layar, dan pesan teks.

Sebagian masyarakat kota mungkin menertawakannya. Tapi bagi warga desa, ini cara mempertahankan tradisi di tengah modernitas. Dukun tidak lagi duduk di bale bambu, tapi di depan layar ponsel. Ritualnya tetap samayang berubah hanya medianya.

Pengalaman semacam ini menegaskan bahwa digitalisasi tak selalu menggantikan budaya lokal, tetapi menyesuaikannya. Dunia belian menyesuaikan diri dengan zaman, mengadopsi teknologi tanpa kehilangan makna spiritualnya. Ia bertransformasi menjadi dukun daring, atau dukun digital.

Secara psikologis, keyakinan terhadap pengobatan jarak jauh bisa memberikan efek placebo. Ketika seseorang percaya bahwa dirinya sedang diobati, otak melepaskan hormon yang membantu tubuh menenangkan rasa sakit. Dalam kasus ini, kepercayaan menjadi bagian dari terapi.

Fenomena itu bukan semata persoalan rasionalitas, tapi tentang kebutuhan akan harapan. Di desa, harapan kadang lebih berharga daripada penjelasan ilmiah. Saat biaya berobat mahal dan fasilitas kesehatan jauh, keyakinan menjadi ruang bertahan yang manusiawi.

Bagi sebagian orang, hubungan dengan belian bukan sekadar upaya mencari kesembuhan, tapi juga cara menjaga keseimbangan sosial. Ada nilai silaturahmi, doa bersama, dan rasa terhubung pada leluhursesuatu yang tak bisa diberikan rumah sakit modern.

Di sisi lain, dunia digital membuka ruang baru bagi praktik spiritual tradisional. Ada grup WhatsApp pengobatan jarak jauh, akun TikTok yang menayangkan ritual penyembuhan, hingga siaran langsung doa penyembuhan kolektif. Dunia maya menjadi perpanjangan tangan mistisisme desa.

Namun tidak semua setuju. Beberapa tokoh agama dan tenaga medis mengingatkan bahwa praktik semacam itu rawan penyalahgunaan. Walaupun di Lombok kebanyakan bertarif ikhlas, namun ada yang mematok tarif tinggi, bahkan memanfaatkan kepercayaan warga untuk keuntungan pribadi. Batas antara keimanan dan penipuan menjadi kabur.

Meski begitu, pengobatan jarak jauh tetap bertahan. Ia hidup di antara layar dan keyakinan, menyesuaikan diri dengan arus digitalisasi yang tak bisa dibendung. Mungkin karena dalam banyak hal, manusia memang selalu mencari makna di balik rasa sakit.

Bagi saya, kisah itu menjadi potret menarik tentang bagaimana masyarakat menafsirkan teknologi. Di Lombok, sinyal bukan hanya penghubung antar manusia, tapi juga perantara antara doa dan harapanantara belian dan pasien yang tak pernah bertemu muka.

Entah benar atau tidak, kisah-kisah semacam itu membuat kita menyadari bahwa modernitas tidak menghapus spiritualitas. Ia hanya mengubah jalannya. Dan di tengah dunia yang serba digital, mungkin kita masih percaya bahwa ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan logika.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar