Kajian Tenun Ikat Ngada: Warisan Budaya yang Penuh Makna dan Identitas

Kajian Tenun Ikat Ngada: Warisan Budaya yang Penuh Makna dan Identitas

Kajian Tenun Ikat Ngada: Warisan Budaya yang Penuh Makna dan Identitas

Penelitian tentang Tenun Ikat Ngada Mengungkap Makna Budaya dan Tantangan Pelestarian

Dosen Universitas Nusa Cendana, Petrus Ana Andung, memaparkan hasil kajian mengenai tenun ikat Ngada dalam sebuah seminar budaya di Kabupaten Ngada. Kajian ini menjadi dasar penyusunan buku berjudul Tenun Ikat Ngada: Merajut Sejarah, Menyulam Makna Budaya yang saat ini sedang dalam tahap penyempurnaan.

Advertisement

Kami berharap mendapatkan banyak masukan dari para tokoh masyarakat agar buku ini semakin sempurna sebelum diterbitkan, ujarnya dalam seminar kajian kain tenun Ngada di UPTD Museum NTT.

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode etnografi di tiga kecamatan yaitu Jerebuu, Golewa, dan Riung. Prosesnya melibatkan observasi langsung serta wawancara dengan penenun dan tokoh adat. Selain itu, kajian pustaka juga dilakukan untuk memperkaya data dan hasil penelitian lapangan.

Buku yang disusun terdiri dari enam bab, mulai dari eksistensi kain tenun Ngada, teori identitas budaya, jenis dan motif kain, hingga fungsi dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Menurut Petrus, kain tenun tradisional merupakan warisan budaya tak benda yang mencerminkan identitas, sejarah, dan spiritualitas masyarakat. Kain tenun adalah alat komunikasi simbolik. Motif dan warna menyampaikan pesan tentang asal usul, perjuangan, hingga status sosial, jelasnya.

Ia mengungkapkan setidaknya terdapat tiga kelompok motif utama kain tenun Ngada, seperti Lawogae, Lawojara, dan Lawogajah, serta variasi lainnya yang khas di setiap wilayah. Setiap motif mengandung pesan berbeda, mulai dari simbol kekuatan, kemegahan, perlindungan, hingga perjuangan hidup.

Selain makna filosofis, kain tenun juga memiliki fungsi sosial, ekonomi, estetika, ritual, dan edukatif. Tenun menjadi sarana pewarisan nilai dari generasi tua ke generasi muda. Anak-anak bahkan mulai belajar menenun sejak duduk di bangku sekolah dasar, katanya.

Namun, Petrus menilai, arus globalisasi membawa tantangan tersendiri. Penggunaan benang sintetis dan munculnya motif baru akibat pengaruh wisatawan berpotensi menggeser nilai-nilai keaslian tenun tradisional. Karena itu, ia menekankan pentingnya pelestarian yang melibatkan seluruh masyarakat Ngada.

Perempuan memiliki peran penting sebagai penjaga tradisi menenun, sementara laki-laki membantu penyediaan bahan baku. Kolaborasi ini harus terus dijaga untuk mempertahankan nilai luhur tenun Ngada, katanya.

Peran Masyarakat dalam Pelestarian Tenun Ikat Ngada

Petrus menjelaskan bahwa tenun ikat Ngada tidak hanya sekadar kain, tetapi juga representasi dari identitas budaya masyarakat. Dalam proses produksinya, peran masing-masing anggota masyarakat sangat penting. Perempuan biasanya bertugas dalam proses menenun, sementara laki-laki berperan dalam mencari bahan baku seperti benang dan pewarna alami.

Proses ini tidak hanya mempertahankan seni tenun, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan budaya. Anak-anak diajarkan menenun sejak usia dini, sehingga mereka dapat memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap motif.

Tantangan Globalisasi terhadap Tenun Ikat Ngada

Meskipun tenun ikat Ngada memiliki nilai budaya yang tinggi, globalisasi membawa perubahan yang cukup signifikan. Penggunaan benang sintetis dan motif yang lebih modern, terutama akibat pengaruh wisatawan, mulai menggantikan motif tradisional. Hal ini bisa mengurangi keaslian dari kain tenun Ngada.

Untuk menghadapi tantangan ini, Petrus menyarankan perlunya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku seni. Dengan kerja sama yang baik, tenun ikat Ngada dapat tetap dilestarikan dan dihargai sebagai warisan budaya yang unik.


Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar