
bali.aiotrade
, DENPASAR - Pada hari Sabtu (25/10), berdasarkan kalender Bali, hari ini masuk dalam hari Saniscara Kliwon Wariga.
Hari ini juga menjadi hari yang istimewa bagi masyarakat Bali karena bertepatan dengan Tumpek Uduh atau Pengatag. Pada momen ini, sejumlah pura dan merajan di seluruh Bali menggelar upacara piodalan, yang dikenal juga sebagai Dewa Yadnya.
Upacara piodalan dilaksanakan untuk memulai proses pembersihan secara spiritual di setiap Parahyangan. Dalam literatur yang ada, piodalan diartikan sebagai perayaan hari jadi tempat suci. Upacara ini merupakan kewajiban bagi masyarakat Bali dalam rangka membayar utang kepada Ida Hyang Widi Wasa beserta seluruh manifestasinya yang bersemayam di Pura Kahyangan Desa.
Piodalan di Pura Kahyangan Desa biasanya dilaksanakan setiap enam bulan sekali, namun ada juga yang digelar setahun sekali. Tujuan dari upacara ini adalah untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis dan sejahtera.
Dalam lontar Sundari Gama, disebutkan bahwa siapa pun yang tidak menjaga dan melaksanakan kewajibannya di Pura Puseh, akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Sebaliknya, bagi krama yang tulus melaksanakan kewajibannya kepada Ida Hyang Widi Wasa, mereka akan hidup rukun dan tenteram.
Berikut ini adalah jadwal dan lokasi piodalan di Bali pada hari Sabtu (25/10) yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wariga:
-
Pura Puseh/Pura Desa di Batuan Sukawati, Gianyar
Pura ini menjadi salah satu tempat yang terkenal dengan ritual piodalan yang dilakukan secara rutin. Masyarakat setempat sangat antusias dalam mengikuti upacara ini. -
Pura Pasek Bendesa di Kekeran Mengwi, Badung
Pura ini juga memiliki peran penting dalam ritual piodalan. Upacara yang dilaksanakan di sini sering kali dihadiri oleh para pemangku adat dan warga sekitar. -
Pura Manik Mas di Besakih, Karangasem
Pura Manik Mas adalah salah satu pura yang terkenal dengan keindahan dan keistimewaannya. Ritual piodalan di sini juga dilakukan secara khidmat dan penuh makna.
Setiap upacara piodalan memiliki makna mendalam bagi masyarakat Bali. Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Ida Hyang Widi Wasa, tetapi juga sebagai cara untuk menjaga keseimbangan antara alam dan manusia.
Selain itu, ritual ini juga menjadi ajang untuk memperkuat ikatan antara umat Hindu dengan lingkungan sekitarnya. Dengan melakukan piodalan, masyarakat Bali percaya bahwa mereka dapat memperoleh berkah dan perlindungan dari Tuhan.
Melalui tradisi ini, nilai-nilai kebersihan, kerja sama, dan kesadaran akan tanggung jawab terhadap lingkungan serta agama terus dilestarikan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya upacara piodalan dalam kehidupan masyarakat Bali.
Komentar
Kirim Komentar