
Simulasi Kesiapan Bencana di Kota Surabaya
BPBD Surabaya menggelar simulasi kesiapan menghadapi bencana di 26 titik yang tersebar di 13 kecamatan, pada Minggu (26/10/2025). Simulasi ini dilakukan untuk memastikan kesiapan petugas dan peralatan dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Simulasi ini dipilih berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, di mana beberapa titik tersebut sering menjadi lokasi bencana. Tujuan dari simulasi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kesiapan petugas dan alat dalam menangani berbagai jenis bencana.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kota Surabaya, Linda Novanti, menjelaskan bahwa simulasi ini melibatkan 8 dinas pemerintah daerah. Dinas-dinas tersebut bertanggung jawab atas berbagai potensi bencana seperti genangan air, pohon tumbang, luapan sungai, dan atap rumah roboh.
Berdasarkan rincian, simulasi dibagi menjadi beberapa kategori. Di antaranya, terdapat 11 titik genangan dan kemacetan, 11 titik pohon tumbang, 1 titik luapan air sungai, dan 3 titik atap rumah roboh. Simulasi ini dilakukan dengan kondisi hujan lebat dan angin kencang, yang menyebabkan berbagai masalah di wilayah Surabaya.
Pada simulasi tersebut, informasi dari Command Center 112 diteruskan kepada perangkat daerah mulai dari 6 dinas hingga kecamatan dan lurah. Selain BPBD, juga terlibat Dinas Sumber Daya Air Bina Marga (DSDABM), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelematan (DPKP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub), serta camat.
BPBD memanggil jajaran pimpinan dan anggota posko terpadu untuk membantu proses penyedotan genangan, mengurai arus lalu lintas yang macet, dan menyediakan logistik kepada seluruh petugas di lokasi. DSDABM menyiagakan rumah pompa terdekat untuk membantu mengoptimalkan saluran air agar genangan dapat dikurangi.
DPKP meluncurkan unit guna melakukan penyedotan di titik-titik yang tergenang. DLH memanggil personel dan tanki air dari Taman Timur 1 untuk membantu pembersihan saluran dan penyedotan. Satpol PP memanggil Mako Satpol PP, Praja Kecamatan Sukolilo dan Praja Kecamatan Gunung Anyar untuk membantu mengatur lalu lintas di lokasi.
Dishub juga turut meluncurkan Patroli Timur untuk membantu mengatur lalu lintas di lokasi. Ini merupakan kerjasama semua dinas. Begitu halnya untuk penanganan bencana lainnya seperti pohon tumbang dan atap roboh, kata Linda.
Melalui simulasi ini, BPBD optimistis potensi kerugian akibat bencana dapat diminimalisir, terutama ketika Surabaya memasuki musim penghujan pada November. Kepala BPBD Surabaya, Irvan Widyanto, berharap partisipasi masyarakat dalam mewaspadai berbagai potensi bencana ke depan.
Irvan berharap masyarakat segera melapor kepada petugas jika mengetahui adanya kejadian bencana di wilayah. Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah ini menjadi penting sesuai dengan semangat yang terus digaungkan Bapak Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melalui Kampung Pancasila. Sebab pemerintah tidak mungkin bergerak sendiri melainkan harus bersama-sama dengan warga, katanya.
Kerjasama Lintas Instansi dalam Penanganan Bencana
Simulasi ini menunjukkan betapa pentingnya kerjasama antar instansi dalam menangani berbagai jenis bencana. Berikut adalah beberapa instansi yang terlibat dalam simulasi:
-
BPBD Surabaya
Bertanggung jawab atas koordinasi keseluruhan proses simulasi dan pemantauan situasi di lapangan. -
DSDABM
Menyiagakan rumah pompa terdekat untuk membantu mengoptimalkan saluran air dan mengurangi genangan. -
DPKP
Meluncurkan unit penyedotan di titik-titik yang tergenang. -
DLH
Memanggil personel dan tanki air dari Taman Timur 1 untuk membantu pembersihan saluran dan penyedotan. -
Satpol PP
Mengatur lalu lintas di lokasi dengan melibatkan Praja Kecamatan Sukolilo dan Praja Kecamatan Gunung Anyar. -
Dishub
Meluncurkan Patroli Timur untuk membantu mengatur lalu lintas di lokasi.
Pentingnya Partisipasi Masyarakat
Selain kerjasama antar instansi, partisipasi masyarakat juga sangat penting dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan segera melapor kepada petugas jika mengetahui adanya kejadian bencana di wilayahnya.
Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat cuaca ekstrem. Semangat ini terus dijalankan melalui inisiatif seperti Kampung Pancasila, yang mendorong kebersamaan dan gotong royong dalam upaya mitigasi bencana.
Komentar
Kirim Komentar