
Program Literasi Anak Usia Dini di Banten
Seorang murid Kelas A-1, Gading, menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap buku cerita bergambar. Ia mengatakan, Ini Buku Kesukaanku! Aku suka sekali waktu Bu Guru bercerita. Banyak gambar traktor dan tulisannya besar, jadi aku bisa bacanya sendiri! Pernyataan ini mencerminkan antusiasme anak-anak dalam mengikuti program pembelajaran yang disajikan dengan cara yang menarik.
Program tersebut dikenal sebagai Tindakan Aksi Bedah Buku Literasi Numerasi Anak Usia Dini atau TABU LENTERA. Di sekolah TK Putra II Serang, murid-murid akan dibacakan buku cerita bergambar oleh gurunya selama satu jam sebelum pelajaran dimulai. Hal ini menjadi bagian dari Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), khususnya kebiasaan gemar belajar, yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kampanye Anak Indonesia Hebat secara resmi dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa 7 KAIH mencerminkan kebiasaan orang tua hebat. "Anak-anak adalah peniru yang hebat. Apa yang dilakukan oleh orang tuanya, pasti akan dicontoh atau ditiru oleh anak," ujarnya.
Menurut Wamen Atip, membacakan buku cerita edukatif kepada anak, terutama usia dini, dapat menjadi alat edukasi untuk membangun karakter, mengasah kemampuan berpikir kritis, dan memperluas wawasan. Ia menjelaskan bahwa fase usia 0-6 tahun merupakan periode emas (golden age) yang sangat penting bagi pertumbuhan otak anak. Pada masa ini, perkembangan kognitif, sosial, emosional, serta keterampilan hidup di masa depan ditentukan.
Lebih lanjut, Wamen Atip menekankan pentingnya memperkuat fondasi pendidikan melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). "Bagaimana satuan PAUD dan keluarga dapat memberikan stimulasi sesuai dengan aspek perkembangan anak usia dini," tambahnya.
Direktur PAUD, Kemendikdasmen, Nia Nurhasanah menjelaskan bahwa Kampanye Anak Indonesia Hebat yang berlangsung hari ini merupakan implementasi strategi partisipasi semesta untuk menguatkan sosialisasi kebijakan Kemendikdasmen, khususnya terkait penguatan pendidikan karakter dan wajib belajar satu tahun prasekolah.
Dalam acara tersebut, kurang lebih 500 peserta dari 15 satuan PAUD yang tersebar di Kota Serang hadir. Peserta terdiri dari perwakilan murid, orang tua, kepala sekolah, dan guru pendamping. Setelah pembukaan acara, murid PAUD akan mengikuti permainan interaktif seperti permainan ular tangga 7 KAIH dan permainan tradisional seperti rorodaan, orai orayan, dan mewarnai.
Nia juga menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut, kepala sekolah, guru pendamping, dan orang tua murid akan mengikuti lokakarya mengenai peran orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan anak usia dini, penguatan peran UKS di satuan PAUD, dan edukasi literasi finansial.
Selain itu, secara simbolis akan diberikan bantuan Papan Digital Interaktif/Interactive Flat Panel (IFP), 900 eksemplar dari 12 judul buku bacaan bergambar untuk 15 satuan PAUD, serta school kit sebagai dukungan nyata peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.
Fokus pada Peningkatan Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini
Program TABU LENTERA dan Gerakan 7 KAIH menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini. Dengan adanya program ini, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara intelektual maupun sosial.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter dan keterampilan hidup. Melalui permainan interaktif dan lokakarya, peserta didik serta orang tua dapat memahami pentingnya pendidikan dini dalam membentuk pribadi yang tangguh dan berkompeten.
Selain itu, bantuan yang diberikan dalam bentuk Papan Digital Interaktif dan buku bacaan bergambar diharapkan dapat meningkatkan akses dan kualitas pembelajaran di satuan PAUD. Dengan fasilitas yang memadai, guru dan siswa dapat lebih mudah dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri.
Program ini juga menjadi contoh kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga dalam mendukung pertumbuhan anak-anak. Dengan kolaborasi yang kuat, diharapkan anak-anak Indonesia dapat menjadi generasi yang hebat dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Komentar
Kirim Komentar