
Gempa Berkekuatan 6,3 SR Mengguncang Wilayah NTT
Pada dini hari Senin (26/10), wilayah barat laut Kabupaten Timor Tengah Utara diguncang gempa berkekuatan 6,3 skala Richter. Gempa terjadi pada pukul 00.04.28 WIB dan berdampak pada sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa getaran bumi ini berpusat di laut dengan koordinat 9,06 derajat Lintang Selatan dan 123,97 derajat Bujur Timur. Lokasi gempa berada pada kedalaman 75 kilometer, sekitar 82 kilometer dari barat laut Timor Tengah Utara.
Meski tidak memiliki potensi tsunami, gempa ini cukup kuat untuk membangunkan ribuan warga yang sedang tidur. Getaran terasa hingga beberapa kota seperti Maumere, Ende, Kefamenanu, Kupang, Waingapu, dan Lembata. Warga melaporkan lampu gantung bergoyang hebat dan suara kaca jendela berderik di tengah malam.
Getarannya kuat sekali, seperti ada truk besar lewat di depan rumah. Kami semua langsung keluar, kata Yulius, warga Kefamenanu, saat dihubungi melalui sambungan telepon. Ia bersama keluarganya memilih bertahan di luar rumah selama hampir satu jam, khawatir akan adanya gempa susulan.
Guncangan ini menempati skala intensitas IIIIV Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala III MMI, getaran terasa nyata di dalam rumah, sedangkan pada skala IV, benda-benda ringan dapat bergeser dan dinding mulai berbunyi akibat tekanan tanah. Hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan serius atau korban jiwa, namun sejumlah wilayah melaporkan retakan kecil pada dinding rumah warga.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT telah dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak untuk melakukan penilaian cepat. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan mengevaluasi potensi dampak struktural di daerah sekitar pusat gempa, kata Kepala BPBD NTT, Antonius Mau, dalam pernyataannya. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Gempa kali ini menjadi pengingat bahwa Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah rawan aktivitas seismik. Wilayah ini berada di antara pertemuan tiga lempeng besar: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Zona tumbukan lempeng di wilayah ini kerap menjadi sumber gempa-gempa kuat dalam sejarah, meski sebagian besar terjadi di laut.
BMKG menegaskan pihaknya terus memantau perkembangan gempa dan potensi susulannya. Lembaga itu juga mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai informasi yang tidak bersumber dari kanal resmi. Kami meminta masyarakat tetap tenang, namun selalu waspada, tulis BMKG dalam laman resminya.
Bagi banyak warga di NTT, gempa dini hari ini bukan sekadar guncangan sesaat, tetapi pengingat akan rapuhnya rasa aman di tanah yang dikelilingi laut dan gunung api. Kami hanya bisa berdoa dan bersiap. Di sini, gempa adalah bagian dari hidup, ujar Yulius lirih, sambil menatap langit gelap yang baru saja berhenti bergetar.
Komentar
Kirim Komentar