
El Clasico: Persaingan yang Tidak Pernah Padam
El Clasico, pertandingan legendaris antara dua raksasa sepak bola Spanyol, Real Madrid dan FC Barcelona, kembali memanas. Laga ini akan berlangsung di Stadion Santiago Bernabeu pada hari Minggu (26/10) pukul 22.15 WIB, menjadi pertemuan pertama dalam musim 2025/2026. Pertandingan ini tidak hanya menjadi duel antar dua klub terbesar di dunia, tetapi juga menjadi momen penting dalam perburuan gelar LaLiga.
Real Madrid datang sebagai pemuncak klasemen dengan 24 poin dari sembilan pertandingan. Sementara itu, Barcelona, yang berada di posisi kedua dengan 22 poin, memiliki kesempatan untuk menyalip rivalnya. Kemenangan di Bernabeu akan menjadi bukti kuat bahwa salah satu dari dua klub tersebut akan mengambil alih dominasi dalam kompetisi musim ini.
Dalam empat laga terakhir di liga, tim asuhan Xabi Alonso tampil sangat impresif. Mereka memenangkan semua pertandingan dengan total 11 gol tanpa kebobolan. Di sisi lain, Barcelona yang dilatih oleh Hansi Flick masih mencari konsistensi, dengan dua kemenangan dan dua kekalahan dalam periode yang sama. Namun, statistik jangka pendek ini tidak selalu bisa menjadi acuan dalam laga El Clasicosebuah pertandingan yang sering kali melampaui logika performa.
Meski memiliki kepercayaan diri tinggi, Real Madrid justru membawa beban sejarah baru. Dalam empat pertemuan terakhir melawan Barcelona, Los Blancos selalu kalah. Rasa sakit dari kekalahan-kekalahan sebelumnya kini menjadi bahan bakar emosional bagi para pemain Madrid untuk membalas di hadapan ribuan pendukung mereka di Bernabeu.
Sejak lebih dari satu abad lalu, El Clasico telah menjadi panggung bagi drama, politik, dan identitas. Dari era Alfredo Di Stefano hingga Lionel Messi, duel ini telah melahirkan cerita-cerita yang melampaui sepak bola. Dalam 260 pertemuan resmi, Madrid menang 105 kali, Barcelona 103 kali, dan 52 laga berakhir imbang. Margin tipis ini menunjukkan betapa seimbangnya rivalitas antara kedua klub.
Pertemuan paling mencolok dalam sejarah terjadi pada 1943, ketika Madrid menghancurkan Barcelona 111 dalam ajang Copa del Rey. Pertandingan ini begitu kontroversial sehingga disebut-sebut sebagai titik awal kebencian mendalam antara dua kota besar: Madrid, simbol kekuasaan pusat; dan Barcelona, simbol perlawanan budaya Katalunya. Rivalitas ini terus hidup, bahkan saat ini, ketika generasi baru pemain melanjutkan warisan pertarungan tersebut.
Menariknya, Madrid juga memegang rekor kemenangan beruntun terbanyak atas Barca, yaitu tujuh kemenangan berturut-turut antara 1962 dan 1965. Namun, dominasi seperti itu sulit dibayangkan di era modern, ketika kedua klub memiliki kedalaman skuad yang hampir seimbang dan strategi yang semakin kompleks.
Sementara itu, kubu Barcelona menghadapi tantangan serius menjelang laga ini. Dua pilar lini tengah, Frenkie de Jong dan Andreas Christensen, dilaporkan belum pulih dari cedera dan diragukan tampil. Absennya mereka bisa menjadi pukulan bagi struktur permainan Flick yang mengandalkan sirkulasi bola cepat dan penguasaan wilayah tengah.
Di sisi lain, Madrid mendapat suntikan energi baru dari Marcus Rashford. Penyerang asal Inggris itu mengaku tak sabar mencicipi atmosfer El Clasico pertamanya. Saya sudah bermain di banyak derby, tapi semua pemain tahu, tidak ada yang sebanding dengan El Clasico, ujarnya dalam konferensi pers. Dengan kecepatan dan agresivitasnya, Rashford diharapkan menjadi kunci pembuka pertahanan Barcelona.
LaLiga pekan ke-10 ini akan dimulai Sabtu dini hari dengan duel Real Sociedad kontra Sevilla, namun semua mata tertuju pada Bernabeu. Di sinilah sejarah baru bisa ditulisapakah Madrid akan mengakhiri kutukan empat kekalahan beruntun, atau Barcelona kembali menegaskan dominasinya? Apa pun hasilnya, El Clasico akan tetap menjadi panggung yang mengingatkan dunia bahwa sepak bola, pada akhirnya, adalah tentang emosi, kebanggaan, dan warisan yang tak pernah padam.
Komentar
Kirim Komentar