Ekspor Jepang ke AS Turun Karena Tarif Trump

Ekspor Jepang ke AS Turun Karena Tarif Trump

Ekspor Jepang ke AS Turun Selama 6 Bulan Berturut-turut

Pada bulan September, ekspor Jepang ke Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan selama enam bulan berturut-turut. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa ekspor ke Washington turun sebesar 13,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total mencapai sekitar 1,6 triliun yen (sekitar Rp174,3 triliun). Penurunan ini terjadi karena pengiriman mobil ke AS yang turun 24,2 persen dan mesin semikonduktor yang anjlok hingga 45,7 persen.

Advertisement

Penurunan tersebut terjadi di tengah pemberlakuan tarif yang lebih tinggi oleh Presiden AS Donald Trump, yang berdampak signifikan pada pengiriman mobil dan mesin semikonduktor. Hal ini menjadi tantangan besar bagi produsen Jepang yang mengandalkan pasar AS sebagai salah satu pangsa utama mereka.

Pertumbuhan Ekspor Jepang ke Asia

Meskipun ekspor ke AS mengalami penurunan, ekspor Jepang secara keseluruhan mengalami pertumbuhan pada bulan September. Pada bulan tersebut, ekspor Jepang tumbuh sebesar 4,2 persen, mencapai 9,41 triliun yen (Rp1.024 triliun), yang merupakan pertama kalinya dalam lima bulan terakhir. Pertumbuhan ini didorong oleh pengiriman yang kuat ke Asia, yang berhasil mengimbangi penurunan ekspor ke AS akibat dampak tarif Trump.

Ekspor Jepang ke Asia melonjak sebesar 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, ekspor ke China meningkat sebesar 5,8 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, impor Jepang naik sebesar 3,3 persen secara keseluruhan, mencapai 9,65 triliun yen (Rp1.050 triliun), yang merupakan kenaikan pertama dalam tiga bulan terakhir. Impor dari Asia juga meningkat sebesar 6 persen, termasuk kenaikan 9,8 persen dalam impor dari China.

Dampak Kebijakan Trump terhadap Industri Otomotif Jepang

Kebijakan perdagangan yang agresif dari Presiden Trump pada April memberikan tekanan berat pada industri otomotif Jepang di AS. Namun, Tokyo dan Washington mencapai kesepakatan pada Juli untuk mengurangi tarif bea masuk kendaraan dari 27,5 persen menjadi 15 persen, yang mulai berlaku pada pertengahan September.

Takafumi Fujita, seorang ekonom di Institut Penelitian Meiji Yasuda, menghubungkan penurunan pengiriman kendaraan Jepang ke AS dengan kenaikan harga yang dilakukan oleh produsen mobil Jepang. Ia menyatakan bahwa sulit bagi produsen mobil Jepang, yang biasanya menawarkan mobil terjangkau, untuk mempertahankan volume penjualan ketika daya saing harga mereka melemah.

Fujita menambahkan bahwa kemerosotan industri otomotif akan berdampak pada perekonomian secara keseluruhan, mengingat pengaruhnya yang luas.

Perdagangan Jepang di Bawah Kepemimpinan PM Takaichi

Laporan terbaru tentang ekspor-impor Jepang muncul setelah Sanae Takaichi terpilih dalam pemungutan suara parlemen sebagai Perdana Menteri (PM) Jepang, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin negara itu. Takaichi berjanji untuk menaikkan upah dan menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar. Hal ini akan menguntungkan yen Jepang yang sedang melemah serta eksportir besar negara tersebut.

Alasan di balik kebijakan ini adalah bahwa peningkatan nilai pendapatan luar negeri, ketika dikonversi ke yen, akan meningkatkan daya beli. Presiden Trump dijadwalkan akan mengunjungi Negeri Sakura akhir bulan ini untuk bertemu dengan Takaichi. Washington diperkirakan akan membahas perdagangan dengan Tokyo.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar