
Awal Karier Chen Zhi: Dari Fujian ke Kamboja
Chen Zhi, CEO dari Prince Holding Group, menjadi sorotan global setelah dituduh sebagai dalang di balik jaringan penipuan kripto internasional senilai 14 miliar dollar AS. Dalam dakwaan yang diumumkan pekan lalu, Departemen Kehakiman AS menuduh Chen mengelola kompleks penipuan di Kamboja yang menipu korban dari berbagai negara. Departemen Keuangan AS juga menyita bitcoin senilai 14 miliar dollar AS yang disebut terkait dengannya sekaligus menjadi penyitaan aset kripto terbesar dalam sejarah.
Chen Zhi dibesarkan di Provinsi Fujian, China tenggara. Ia memulai bisnis dari perusahaan gim daring kecil sebelum pindah ke Kamboja sekitar tahun 2010 atau 2011 dan terjun ke sektor properti. Kedatangannya bertepatan dengan ledakan investasi asing, terutama dari China, yang mengubah wajah Phnom Penh dan kota pesisir Sihanoukville menjadi kawasan penuh gedung pencakar langit, kasino, dan proyek properti besar.
Pada 2014, Chen menjadi warga negara Kamboja dengan investasi minimal 250.000 dollar AS. Status kewarganegaraan ini memberinya hak untuk membeli tanah atas nama pribadi. Namun, sumber kekayaannya tetap menjadi misteri. Dalam dokumen pembukaan rekening di Isle of Man pada 2019, ia mengaku mendapat modal 2 juta dollar AS dari pamannya untuk bisnis properti pertama, tanpa bukti pendukung.
Membangun Kerajaan Bisnis Bernama Prince Group
Tahun 2015, Chen mendirikan Prince Group, yang fokus pada pengembangan properti. Ia memperluas bisnis ke sektor keuangan dengan mendirikan Prince Bank pada 2018 dan menambah kewarganegaraan Siprus serta Vanuatu. Konglomerasi itu merambah berbagai sektor, dari hotel bintang lima hingga proyek Bay of Lights senilai 16 miliar dollar AS.
Pada 2020, Chen dianugerahi gelar kehormatan Neak Oknha oleh Raja Kamboja, setelah sebelumnya menjadi penasihat Menteri Dalam Negeri Sar Kheng serta menjalin hubungan dengan mantan Perdana Menteri Hun Sen dan putranya, Hun Manet. Ia juga dikenal lewat kegiatan filantropi, seperti memberikan beasiswa bagi pelajar kurang mampu dan donasi untuk penanganan pandemi Covid-19.
Semua orang yang pernah bekerja dengannya menggambarkan Chen sebagai sosok sopan dan tenang, kata jurnalis Jack Adamovic Davies, yang meneliti Chen selama tiga tahun untuk Radio Free Asia.
Dari Properti ke Kripto: Pergeseran Arah Bisnis Chen Zhi
Tahun 2019 menjadi titik balik. Gelembung properti di Sihanoukville pecah setelah pemerintah Kamboja melarang perjudian daring di bawah tekanan Beijing. Sekitar 450.000 warga China meninggalkan kota itu, membuat banyak proyek properti terbengkalai. Meski demikian, Chen Zhi terus memperluas bisnisnya. Otoritas Inggris mencatat pembelian rumah senilai 12 juta poundsterling di London Utara dan gedung perkantoran senilai 95 juta poundsterling di kawasan keuangan London.
Menurut AS, Chen Zhi juga membeli properti di New York, jet pribadi, kapal pesiar, dan lukisan Picasso. Tuduhan pun muncul bahwa sumber kekayaannya berasal dari penipuan daring, perdagangan manusia, dan pencucian uang.
Tersangkut Jaringan Kejahatan Transnasional
Pemerintah AS dan Inggris menjatuhkan sanksi terhadap 128 perusahaan dan 17 individu dari tujuh negara yang diduga terkait dengan Chen Zhi dan Prince Group. Seluruh aset mereka di AS dan Inggris dibekukan. Dokumen pengadilan menunjukkan jaringan rumit perusahaan cangkang dan dompet kripto yang digunakan untuk menyembunyikan asal uang.
Prince Group menjalankan kejahatan lintas negara, termasuk penipuan seksual, pencucian uang, korupsi, perjudian ilegal, serta perdagangan manusia dalam skala besar di setidaknya 10 kompleks penipuan di Kamboja, ungkap Departemen Keuangan AS.
Golden Fortune: Dari Kompleks Mewah ke Sarang Penipuan Global
Investigasi Kepolisian Beijing sejak 2020 menyoroti Golden Fortune Science and Technology Park, kompleks milik Prince Group di Chrey Thom, dekat perbatasan Vietnam. Prince Group telah membantah tudingan tersebut dan mengklaim tidak lagi memiliki hubungan dengan Golden Fortune. Namun, AS dan Inggris menilai masih ada keterkaitan bisnis antara keduanya.
Davies menyebut sejumlah saksi di sekitar kompleks menggambarkan kekerasan terhadap pekerja yang dipaksa menjalankan penipuan daring. Skala operasinya luar biasa besar, ujar Davies. Seharusnya banyak pihak mempertanyakan sumber kekayaan Chen, tapi itu tidak terjadi.
Sanksi Global Diumumkan, Jejak Chen Zhi Mendadak Hilang
Setelah pengumuman sanksi, lembaga keuangan di Asia dan Eropa mulai menjaga jarak dari Prince Group. Bank Sentral Kamboja bahkan harus meyakinkan nasabah bahwa dana mereka aman, sementara Korea Selatan membekukan aset Prince senilai 64 juta dollar AS. Pemerintah Singapura dan Thailand juga tengah menyelidiki cabang perusahaan itu di wilayah mereka.
Dari 18 individu yang disebut dalam sanksi AS dan Inggris, tiga di antaranya adalah warga Singapura. Pemerintah Kamboja belum memberikan tanggapan resmi terkait kasus ini dan hanya meminta AS dan Inggris memastikan bukti mereka cukup kuat. Namun, hubungan dekat Chen dengan elite politik membuat jarak itu sulit dihapus.
Hingga kini, Chen Zhi masih buron dan disebut sebagai salah satu orang paling dicari di Asia.
Komentar
Kirim Komentar