Apa yang Bisa Dipelajari dari Isu Fatherless, Menurut Ahli Psikologi

Apa yang Bisa Dipelajari dari Isu Fatherless, Menurut Ahli Psikologi

Advertisement

Pengalaman Seorang Fatherless: Dari Luka ke Pemahaman Baru

Kehidupan seorang fatherless sering kali dikaitkan dengan rasa kehilangan dan luka emosional. Namun, di balik kesedihan tersebut, kondisi ini juga bisa menjadi ruang tumbuh yang penuh makna. Psikolog klinis, Widya S. Sari, M.Psi., menjelaskan bahwa ketiadaan sosok ayah memang bisa meninggalkan bekas, tetapi justru dari situ seseorang bisa membangun pemahaman baru tentang dirinya.

Perjalanan Tidak Mudah, Tapi Bisa Membentuk Ketahanan

Tumbuh sebagai seorang fatherless mungkin bukan perjalanan mudah bagi seorang anak. Akan tetapi, pengalaman hidup yang tidak ideal justru bisa membentuk ketahanan dan empati lebih kuat. Seseorang yang pernah merasa kekurangan figur ayah, misalnya, dapat belajar untuk lebih peka terhadap kebutuhan emosional orang lain dan lebih sadar dalam membangun hubungan.

Kehidupan tidak selalu berjalan ideal. Tapi di sisi lain, itu membuka ruang untuk belajar tentang tanggung jawab, tentang bagaimana memahami diri, dan tentang menghargai kehadiran orang lain, ujar Widya.

Dari Kekurangan Menjadi Keberanian

Ternyata, pengalaman yang semula menyakitkan ini bisa menjadi cermin untuk memperbaiki diri, bahkan membentuk pribadi yang lebih matang. Widya menekankan bahwa masa lalu tidak menentukan seluruh perjalanan hidup seseorang. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang memilih untuk bergerak setelah menyadari luka yang pernah ia alami.

Kita tidak bisa memilih di keluarga seperti apa kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih bagaimana melanjutkannya. Dari sana, kita belajar membangun hal-hal baru yang lebih positif, kata Widya.

Mengubah Narasi Fatherless Menjadi Father Involve Society

Alih-alih berfokus pada kehilangan, Widya mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap isu fatherless. Menurutnya, penting untuk membangun lingkungan yang mendukung kehadiran figur-figur positif yang dapat mewakili peran ayah di sekitar anak.

Kita bisa mengubah narasi fatherless menjadi father involve society. Jadi bukan hanya soal ayah kandung, tapi juga siapa pun di sekitar anak yang bisa menghadirkan nilai-nilai pengasuhan dari figur ayah, ujarnya.

Mencegah Luka Lama Terulang

Selain itu, Widya juga menekankan betapa pentingnya untuk mencegah luka lama terulang pada generasi berikutnya. Yang penting adalah bagaimana pengalaman itu bisa menghasilkan sesuatu yang lebih konstruktif, agar tidak diwariskan lagi sebagai luka, tambahnya.

Ruang Kosong Bisa Diisi dengan Hal Positif

Widya menegaskan bahwa meskipun ada luka atau ruang kosong dalam hidup seseorang, itu tidak berarti tidak bisa dipulihkan atau diisi kembali. Kita yang memilih jalan hidup kita bahkan di ruang kosong kita bisa menumbuhkan hal-hal positif. Jadi, bukan berarti ketika kita punya luka itu tidak pulih, atau kita punya ruang kosong itu tidak terisi, tentu kita bisa menumbuhkan hal-hal positif lagi, pungkasnya.

Kesimpulan

Pengalaman seorang fatherless bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari luka dan kekosongan, seseorang bisa belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih peka, dan lebih bijak. Dengan perubahan sudut pandang dan dukungan lingkungan, setiap individu bisa menemukan jalan mereka sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar