
Penyangkalan Andrinof Chaniago atas Tuduhan Terkait Perubahan Gelar Jokowi
Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Andrinof Chaniago, menyangkal tudingan yang menyebutnya terlibat dalam perubahan gelar Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi) dari Drs. menjadi Ir. dalam proses pencalonan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012. Ia menganggap tuduhan tersebut sebagai fitnah yang tidak berdasar dan akan menempuh jalur hukum untuk melindungi reputasinya.
Pernyataan ini disampaikan oleh Andrinof melalui akun YouTube pribadinya, yang diunggah pada 23 Oktober 2025. Dalam video tersebut, ia menjelaskan bahwa dirinya difitnah oleh Yulianto dalam sebuah podcast Refly Harun. Menurut Andrinof, Yulianto dengan yakin menyatakan bahwa dirinya terlibat dalam pengubahan gelar Jokowi selama pemilihan gubernur DKI Jakarta 2012.
"Saya Andrinof A Caniago. Orang yang difitnah oleh saudara Yulianto dalam acara podcast bung Doktor Refli Harun baru-baru ini. Di mana di dalam acara tersebut saudara Yulianto dengan sangat yakin, sangat percaya, membuat pernyataan bahwa saya terlibat dan melakukan pengubahan gelar Bapak Joko Widodo dari Doktorandus (Drs.) menjadi Insinyur (Ir.) dalam proses pencalonan yang bersangkutan untuk pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012," ucap Andrinof.
Andrinof menilai pengakuan Yulianto merupakan fitnah besar dan tidak memiliki dasar. "Saya menyatakan dan menegaskan bahwa apa yang dinyatakan oleh saudara Yulianto itu adalah fitnah besar. Fitnah yang tidak ada dasarnya," katanya.
"Dan hal itu tentu saja mencemari nama baik saya dan membunuh karakter saya," tambahnya.
Tidak Pernah Menjadi Konsultan Politik Jokowi
Andrinof menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mendapatkan jabatan dari hasil kontrak kerja atau balas jasa pihak tertentu, dan tidak pernah menjadi konsultan politik Jokowi. Ia juga menolak tudingan bahwa dirinya terlibat dalam urusan-urusan politik praktis yang bertujuan untuk kepentingan sempit.
"Saya tidak pernah terlibat untuk urusan-urusan politik praktis yang untuk kepentingan sempit saya. Termasuk untuk urusan administratif proses pencalonan seseorang untuk menjadi pejabat publik," tegasnya.
Atas tuduhan tersebut, Andrinof menyatakan akan menempuh jalur hukum. "Atas pernyataan Saudara Yulianto itu, selain saya akan melakukan upaya hukum untuk mendapatkan hak-hak saya melalui lembaga yang berwenang," pungkasnya.
Respons Andrinof terhadap Tuduhan Yulianto
Saat dikonfirmasi, Andrinof menegaskan responsnya yang disampaikan melalui akun YouTube pribadinya. "Itu kan jelas-jelas dan tegas saya bantah dan saya tantang Yulianto itu untuk membuktikan (tuduhan)," kata Andrinof, saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu.
Andrinof juga mengatakan, dia belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut perihal rencananya membawa konflik ini ke jalur hukum. "Kalau ini (dibawa ke jalur hukum) mohon sabar menunggu kabar, ya. Saya belum bisa jawab sekarang," tutur Andrinof.
Latar Belakang Tuduhan Yulianto
Tuduhan terhadap Andrinof diungkapkan Yulianto dalam podcast Refly Harun berjudul "Live! Geger! Ini Saksi Ijazah JKW yang Pernah Disebut: Yulianto!!" pada 19 Oktober 2025. Yulianto menyebut nama Andrinof sebagai sosok yang terlibat dalam perubahan gelar Jokowi dari Drs. menjadi Ir. pada Pilgub DKI Jakarta 2012.
"Ini kan ada sedikit anomali juga. Kenapa saya bilang anomali, Karena kan di Solo kan isunya adalah Pak Jokowi menggunakan (gelar) Doktorandus (Drs) dulu. Doktorandus Joko Widodo," kata Yulianto.
"Begitu masuk ke Jakarta, dia jadi Insinyur (Ir). Itu saya pernah di salah satu podcast saya bilang, di situ yang perlu diteliti. Karena konsultan politiknya adalah Andrinof Chaniago. Dia yang korek soal gelar-gelar itu. Maka kemudian masuk ke Jakarta digunakanlah kemudian Insinyur Joko Widodo itu," tambah Yulianto.
Dalam kesempatan yang sama, Refly Harun mengatakan akan mengonfirmasi pernyataan Yulianto kepada Andrinof. Namun, menurut Refly, akan sulit mendapatkan jawaban jujur dari Andrinof karena pernah menduduki jabatan penting saat Jokowi menjabat RI1.
"Saya enggak tahu kalau orang yang sudah kekenyangan (jabatan) ini akan ngomong apa enggak," tutur Refly.
Profil Andrinof Chaniago
Dikutip dari perpusnas.go.id, Andrinof Achir Chaniago lahir di Padang, Sumatera Barat pada 3 November 1962. Selain itu ia juga merupakan akademisi, peneliti, sekaligus pengamat kebijakan publik. Andrinof juga merupakan dosen Ilmu Politik di Universitas Indonesia.
Mengenai riwayat pendidikannya, ia adalah lulusan dari Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Ilmu Politik. Lalu ia melanjutkan studinya di universitas yang sama dengan mengambil jurusan Perencanaan dan Kebijakan Publik. Terakhir, ia mengambil jurusan Ilmu Filsafat untuk Strata 3 (S3). Dia juga pernah kuliah di Fu Hsing Kang College, Taipei, Taiwan untuk meraih gelar diploma jurusan Pembangunan Nasional pada tahun 2004.
Dalam riwayat kariernya, ia adalah pendiri dari Center for Indonesian Regional and Urban Studies (CIRUS) pada tahun 1999 serta CIRUS Surveyors Group (CSG) di tahun 2008. Andrinof juga salah satu penggagas dari ide bertajuk "Visi Indonesia 2033" yang menawarkan konsep pembangunan Indonesia menuju negara maju pada tahun 2033 mendatang.
Kemudian ia juga merupakan ketua umum Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia. Diketahui, ia juga menjadi salah satu tim sukses Jokowi sejak pemilihan Wali Kota Solo 2010, pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, dan Pemilu Presiden tahun 2014.
Setelah Jokowi dilantik menjadi presiden pada tahun 2014, Andrinof diangkat menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kepala Bappenas). Dirinya menjabat sebagai menteri dari 27 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015.
Lalu pasca dirinya tidak menjabat menjadi menteri, Andrinof menjadi Wakil Komisaris Utama Bank Mandiri pada 19 Februari 2020 hingga saat ini.
Keberhasilan dalam Membuat Keputusan Strategis
Andrinof juga pernah berhasil meyakinkan Jokowi mengenai tidak tepatnya kebijakan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS). "Saya berhasil menjelaskan kepada Presiden Jokowi bahwa pembangunan Jembatan Selat Sunda itu tidak tepat," katanya.
Ia menyarankan kepada Jokowi agar memperbaiki prasarana, sarana, dan sistem layanan penyeberangan Merak-Bakauheni. Andrinof pun melihat, perbaikan tersebut berhasil karena tidak pernah lagi adanya kemacetan.
"Antrean 1 kilometer pun tidak pernah," ujar Andrinof, seperti dilansir Tribunnews.com di artikel berjudul PROFIL Andrinof Chaniago, Penggagas Pemindahan Ibu Kota Negara Baru, Mantan Kepala Bappenas.
Hal lain yang dirinya kerjakan saat berada di kabinet Presiden Jokowi adalah terkait pembatalan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Saat itu, Andrinof mengevaluasi dan mengoreksi proposal pembangunan Pelabuhan Cilamya yang keliru.
"Ada beberapa proposal proyek infrastruktur lain yang saya lihat tidak tepat tetapi saya tidak perlu sebut. Semua saya coba luruskan walau dengan risiko ada yang terganggu," ujar Andrinof.
Komentar
Kirim Komentar