Upacara Parisudha Jagat di Tukad Bangkung Cegah Bunuh Diri

Upacara Parisudha Jagat di Tukad Bangkung Cegah Bunuh Diri

Media sosial sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang ingin tahu kebenaran di balik Upacara Parisudha Jagat di Tukad Bangkung Cegah Bunuh Diri. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.


bali.aiotrade
, BADUNG - Kecemasan dan kekhawatiran masyarakat Bali semakin meningkat setelah terjadi serangkaian peristiwa bunuh diri di kawasan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Jembatan yang dikenal sebagai jembatan tertinggi di Bali bahkan di kawasan Asia Tenggara ini kini menjadi sorotan utama karena kejadian tragis yang berulang kali terjadi.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Tragedi tersebut tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menimbulkan banyak pertanyaan. Bagaimana bisa tempat yang seharusnya menjadi titik penghubung antar wilayah menjadi tempat hilangnya nyawa manusia? Apa langkah-langkah yang perlu dilakukan agar jembatan ini kembali menjadi simbol kehidupan?

Untuk menjawab kekhawatiran masyarakat, Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta menghadiri dan memimpin upacara ritual keagamaan bersama serangkaian Upacara Yadnya Parisudha Jagat di Jembatan Tukad Bangkung, pada Kamis lalu (18/12). Upacara ini bertujuan untuk membersihkan energi negatif dan memberikan perlindungan spiritual bagi tempat tersebut.

Upacara dipimpin oleh Jro Mangku Gede Made Pawitra dari Desa Bulian, didampingi para mangku dan prajuru adat dari beberapa desa seperti Bulian, Pelaga, Sidan, Tambakan, Selulung, serta Kubutambahan. Hadir pula sejumlah pejabat, antara lain Wakil Bupati Bangli Wayan Diar, anggota DPRD Bali Made Sumiati, serta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Bali.

Rangkaian upacara berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Setelah prosesi ritual dan doa bersama, dilakukan pelepasan simbol-simbol kehidupan berupa dua ekor kebo putih lanang-wadon yang dilepas secara simbolis. Kebo-kebo ini nantinya akan dihaturkan menjadi kebo duwe di Desa Plaga.

Prosesi dilanjutkan dengan pelepasan burung dan lampion masing-masing sebanyak 33 buah oleh para tamu undangan di pintu masuk Jembatan Tukad Bangkung. Angka 33 memiliki makna sebagai simbol keseimbangan dan penyucian, serta doa agar kehidupan kembali menemukan jalannya.

Sebagai bentuk dukungan, Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta menyerahkan punia sebesar Rp 25 juta, sementara istri Gubernur Bali, Putri Suastini Koster menyumbangkan tiga ekor kerbau untuk mendukung kelancaran pelaksanaan upacara.

Dengan diadakannya upacara ini, harapan besar disematkan agar Jembatan Tukad Bangkung kembali menjadi jembatan kehidupan, bukan jembatan kematian. Diharapkan, melalui ritual dan doa bersama, tempat ini dapat kembali menjadi tempat yang aman dan bermakna bagi masyarakat.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa bagikan artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar