
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Transformasi digital dalam dunia kesehatan tidak lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang sedang dijalani oleh pemerintah Indonesia. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa perubahan besar sedang terjadi, mulai dari sistem data yang saling terhubung antar-fasilitas kesehatan hingga penggunaan robot bedah dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan layanan medis di Indonesia.
“Digitalisasi, konektivitas, robotik, dan bioteknologi akan memberikan dampak besar terhadap perkembangan AI di bidang kesehatan. Dan itu akan mengubah layanan kesehatan di Indonesia,” ujar Budi saat menjadi pembicara utama dalam acara AI for Indonesia 2025 yang diselenggarakan di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, pada Kamis (23/10).
Budi menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan standarisasi besar-besaran, mulai dari format data digital, protokol komunikasi antar sistem, hingga keamanan siber. Data rekam medik yang sebelumnya tidak terintegrasi kini sudah mulai diintegrasikan ke dalam sistem agar lebih mudah diakses oleh pasien saat berobat di rumah sakit pemerintah yang berbeda.
“Di perbankan ada ISO 8583, di kesehatan kita menggunakan standar FHIR HL-7,” jelas Budi. “Sekarang, 38 ribu fasilitas kesehatan mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik, laboratorium, dan apotek sudah terkoneksi. Meski belum semua bisa tukar data, tapi fondasinya sudah ada,” tambahnya.
Data yang terkumpul saat ini mencapai miliaran entri dengan dua miliar data kesehatan. Setiap harinya, masuk sekitar 600 ribu data baru dari berbagai fasilitas. Data ini tersimpan aman di dua penyedia layanan cloud global dengan sistem keamanan tinggi.
Namun, semua data ini hanya akan bermanfaat jika diolah dengan AI. Kementerian Kesehatan kini sedang melatih sistem AI untuk membaca data medis, mulai dari X-ray, CT scan, hingga hasil patologi anatomi.
“Biasanya dokter membaca X-ray untuk TBC. Sekarang kita latih AI untuk mengenali 31 jenis kondisi paru, nanti akan kita kembangkan sampai 124 readings,” kata Budi.
AI juga sedang diuji untuk menganalisis stroke, kanker, dan penyakit kompleks lainnya. Di bidang robotik, Indonesia sedang berusaha mengejar ketertinggalan. Tahun ini, Kemenkes mengumumkan rencana untuk memboyong 15 hingga 16 unit robot bedah Da Vinci level 5 ke Indonesia. Versi terbaru akan ditempatkan di sejumlah rumah sakit besar di Indonesia. Robot ini akan digunakan untuk operasi jantung, stroke, hingga ortopedi.
“Kalau Siloam punya yang level 4, kita beli yang level 5,” ujar Budi.
Selain untuk pembedahan, teknologi robotik juga diterapkan dalam rehabilitasi medis.
Transformasi digital ini akan berpuncak pada tiga lapisan besar data nasional, yaitu:
- Database demografis, seperti nama, umur, alamat
- Database klinis, berisi riwayat kesehatan, tekanan darah, hasil lab, CT scan, hingga resep obat
- Database genomik, menyimpan informasi DNA dan faktor genetik tiap individu
Ketiganya akan terhubung lewat aplikasi SatuSehat, yang memungkinkan pasien dan dokter mengakses riwayat medis di mana pun.
“Kalau mau periksa di RS Pondok Indah atau beli obat di apotek Senopati, datanya langsung terhubung,” kata Budi.

Komentar
Kirim Komentar