Standar Ganda IOC dalam Menangani Kasus Politik Olahraga
Komite Olimpiade Internasional (IOC) kembali menunjukkan standar ganda dalam menangani isu-isu politik yang berkaitan dengan olahraga. Hal ini terlihat jelas dari respons IOC terhadap kebijakan negara-negara yang melarang partisipasi atlet dari negara lain. Meskipun Indonesia diberi sanksi oleh IOC karena tidak memberikan visa kepada atlet Israel, kasus serupa di Polandia tidak mendapatkan tindakan serupa.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pada tanggal 23 Oktober, Menteri Olahraga Federasi Rusia dan kepala Komite Olimpiade Rusia (ROC), Mikhail Degtyarev, mengumumkan bahwa ROC akan mengirimkan catatan resmi ke IOC untuk meminta sanksi terhadap Polandia. Alasannya adalah karena Federasi Akuatik Rusia melarang atletnya mengikuti Kejuaraan Kursus Singkat Eropa di Lublin, Polandia, karena alasan politik. Degtyarev menyatakan bahwa hal ini merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam Olimpiade. Ia menekankan bahwa IOC seharusnya menerapkan sanksi yang sama seperti yang diberikan kepada Indonesia.
Sebelumnya, pada 22 Oktober, IOC mengusulkan pencabutan hak Indonesia sebagai tuan rumah turnamen internasional. Hal ini terkait dengan penolakan Indonesia memberikan visa kepada atlet Israel untuk mengikuti Kejuaraan Senam Dunia di Jakarta. Namun, dalam kasus Polandia, IOC tidak memberikan kecaman resmi. Degtyarev menilai situasi ini sebagai contoh nyata dari standar ganda yang diterapkan IOC.
Perlakuan IOC Terhadap Rusia dan Israel
Perilaku IOC terhadap Rusia dan Israel juga menunjukkan ketidakadilan. Pada awal invasi Rusia ke Ukraina, IOC langsung mengutuk keras tindakan Federasi Rusia yang dianggap melanggar Gencatan Senjata Olimpiade. Presiden IOC, Thomas Bach, bahkan mengulangi seruannya untuk perdamaian dari Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Selain itu, IOC membentuk satuan tugas untuk memantau situasi dan mengambil langkah-langkah nyata dalam menanggapi invasi tersebut.
Beberapa hari setelah invasi, IOC menghimbau agar semua Federasi Internasional (IF) merelokasi atau membatalkan acara olahraga yang direncanakan di Belarus dan Rusia. IOC juga memutuskan pemboikotan Rusia dan Belarus pada 28 Februari 2022, hanya empat hari setelah invasi ke Ukraina.
Namun, dalam kasus Israel, IOC tidak pernah memberikan sanksi meskipun ada tuduhan bahwa kampanye militer Israel di Gaza melanggar Gencatan Senjata Olimpiade. Sebagai anggota penuh PBB, Israel berpartisipasi dalam adopsi Gencatan Senjata Paris 2024 oleh Majelis Umum PBB. Namun, pada Juli 2024, Israel melakukan pemboman di Gaza selama Olimpiade Paris, termasuk serangan udara di sebuah sekolah dekat Deir al-Balah yang menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai lebih dari 100 orang, termasuk anak-anak.
Meskipun tidak ada pelanggaran formal yang diumumkan oleh IOC, pejabat PBB telah mengumpulkan banyak bukti bahwa serangan Israel dapat dianggap tidak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. Baru-baru ini, Komisi Penyelidikan Dewan Hak Asasi Manusia PBB menyimpulkan bahwa tindakan Israel memenuhi definisi hukum genosida.
Perbedaan dalam Penanganan Kasus
Mantan Wakil Direktur IOC, Pere Miró, mengatakan bahwa kedua kasus tersebut tidak dapat dibandingkan. “Kami membekukan Komite Olimpiade Rusia karena mereka mencaplok wilayah milik Komite Olimpiade Ukraina. Komite Olimpiade Israel tidak pernah mengklaim Palestina sebagai miliknya,” ujarnya.
Namun, komentar ini mengabaikan fakta bahwa saat ini sebagian besar Jalur Gaza sudah diduduki pasukan Israel. Israel juga terus melegalkan pemukiman ilegal di tanah yang diakui secara internasional milik Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Selain itu, lebih dari 800 atlet telah terbunuh di Gaza sejak dimulainya serangan Israel pada 7 Oktober 2023. Dalam 22 bulan terakhir, 421 pemain sepak bola termasuk di antara 808 atlet yang syahid di Gaza, hampir setengah dari mereka adalah anak-anak.
Serangan Israel yang sedang berlangsung – yang kini memasuki tahun kedua genosida di Gaza – telah menghancurkan olahraga Palestina. Atlet, pelatih dan wasit telah dibunuh, dan seluruh fasilitas olahraga telah dibom, dibakar atau dijadikan kuburan massal. Sekitar 90 persen infrastruktur olahraga di Gaza dilaporkan hancur.
Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengatakan 288 fasilitas olahraga telah dihancurkan sebagian atau seluruhnya oleh pasukan Israel di Gaza dan Tepi Barat, termasuk stadion, pusat kebugaran, dan klub sepak bola. Salah satu markas PFA terkena serangan udara Israel. Dari fasilitas yang hancur, 268 berada di Gaza, sementara 20 berada di Tepi Barat.

Aktivis membentangkan spanduk besar untuk mendukung Ukraina di luar gedung Dewan Eropa menjelang KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia, Rabu, 5 Maret 2025. - (AP Photo/Omar Havana)

Genosida Atlet Palestina - (aiotrade)
Komentar
Kirim Komentar