Perjuangan Nakes Aceh: Urus Korban dengan Nasi dan Garam

Perjuangan Nakes Aceh: Urus Korban dengan Nasi dan Garam

Dunia medis kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Perjuangan Nakes Aceh: Urus Korban dengan Nasi dan Garam, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Perjuangan Tenaga Kesehatan dalam Merawat Korban Banjir di Aceh Tengah

Di tengah keterbatasan sumber daya dan kondisi darurat akibat banjir, tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Aceh Tengah terus berjuang untuk merawat ribuan korban bencana. Salah satu yang menjadi tantangan utama adalah kebutuhan akan sembako dan obat-obatan, serta kesulitan dalam mengakses bahan pangan sehari-hari.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Harga Bahan Pangan Melonjak Tajam

Bidan Noviarni Fitri, Kepala Puskesmas Bintang, menjelaskan bahwa para nakes menghadapi kenaikan harga bahan pangan yang sangat signifikan. Misalnya, harga telur yang biasanya Rp55 ribu hingga Rp65 ribu per papan berisi 30 butir, kini naik menjadi Rp130 ribu. Sementara itu, beras 15 kilogram yang sebelumnya dijual dengan harga Rp230 ribu, kini mencapai Rp400 ribu.

“Kami kesulitan mendapatkan bahan makanan karena harus naik kapal, dan di sini pun sudah tidak ada stok,” ujar Noviarni. Ia juga menambahkan bahwa kebutuhan pokok ini menjadi prioritas utama bagi para nakes yang bekerja di lokasi bencana.

Membawa Bekal Sederhana untuk Bertahan

Selain masalah harga, para nakes juga menghadapi keterbatasan fasilitas. Noviarni, yang memiliki anak berusia 4 tahun, memilih membawa anaknya saat bertugas menyelamatkan korban banjir. Karena situasi darurat, ia tidak bisa meninggalkan anaknya sendiri.

“Saya bawa anak saya karena misi kemanusiaan juga. Jadi, kami makan kadang hanya nasi dan garam saja,” jelas Noviarni. Ia mengaku bahwa stamina tetap dipertahankan meski hanya dengan bekal sederhana tersebut.

Kebutuhan Obat dan Oksigen Masih Tinggi

Meskipun Puskesmas Bintang telah memiliki beberapa alat seperti genset dan water purifier, Noviarni mengatakan bahwa mereka masih membutuhkan bantuan obat-obatan dan oksigen untuk menangani pasien yang terus berdatangan.

“Kami memiliki 31 nakes yang harus melayani korban banjir dari 24 desa di bawah Puskesmas Bintang 1,” ujarnya. Dengan jumlah tenaga yang terbatas, para nakes terus berupaya memberikan layanan kesehatan terbaik di tengah keterbatasan sumber daya.

Upaya Bersama dalam Penanganan Bencana

Selain tenaga kesehatan, berbagai pihak juga turut berkontribusi dalam upaya penanganan bencana. Misalnya, Polda Aceh melibatkan tim untuk membersihkan lumpur di masjid dan puskesmas. Sementara itu, ratusan warga Aceh Tamiang memilih menumpang di rig Pertamina demi mendapatkan listrik.

Dalam situasi seperti ini, kerja sama antar lembaga dan komunitas menjadi kunci dalam mengatasi dampak banjir. Meski tantangannya besar, semangat para tenaga kesehatan dan masyarakat tetap menjadi motivasi untuk bangkit dan berjuang.

Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar