Perang Dagang China-AS Berlanjut, Ini Dampaknya pada Arus Modal Asing ke RI

Perang Dagang China-AS Berlanjut, Ini Dampaknya pada Arus Modal Asing ke RI

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Perang Dagang China-AS Berlanjut, Ini Dampaknya pada Arus Modal Asing ke RI menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


Jakarta Prospek arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia masih terbuka pada sisa kuartal IV-2025, meski investor global tetap bersikap hati-hati menghadapi berbagai faktor eksternal.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

David Sumual, Chief Economist Bank Central Asia (BCA), menyampaikan bahwa tren aliran modal asing di pasar surat utang atau bonds market masih cenderung keluar (outflow) sejak September lalu dan terus berlanjut. Namun, ia berharap tekanan ini mulai mereda dalam waktu dekat karena nilai capital outflow yang sudah cukup besar.

Ini yang saya pikir agak mengkhawatirkan dari obligasi, untuk bonds ini mereka melihat kecenderungan BI rate turun, dan mereka juga wait and see kebijakan fiskal pemerintah, ujar David kepada aiotrade, Minggu (27/10).

David mencatat penurunan arus modal asing atau inflow di pasar obligasi tercatat cukup signifikan sejak awal tahun. Pada AprilMei, angka tersebut mencapai sekitar Rp 73 triliun, namun hingga 23 Oktober 2025, jumlah tersebut menyusut menjadi sekitar Rp 8,58 triliun menurut data Bank Indonesia.

Menurutnya, pelaku pasar saat ini cenderung menunggu arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) dan kebijakan fiskal pemerintah. Investor bonds melihat kecenderungan BI rate turun, tapi mereka masih wait and see terhadap kebijakan fiskal pemerintah, tambahnya.

Di pasar saham (equity market), meskipun belakangan cenderung outflow, David melihat peluang masuknya kembali aliran dana asing, seiring valuasi sejumlah saham yang sudah tergolong murah (oversold).

Kita berharapnya itu dari sisi equity. Jadi kita melihat mungkin fund-fund (investment fund) yang melihat perusahaan dari sisi fundamentalnya bagus, mereka mulai masuk juga, terang David.

Namun, David mengingatkan bahwa pasar global masih dibayangi ketidakpastian terkait tensi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Pasar masih wait and see kebijakan trade war dari Trump. Tanggal 12 November nanti itu juga ditunggu pasar, apakah AS akan menerapkan penambahan tarif lagi kalau China tidak setuju dengan negosiasi, ujarnya.

Meski demikian, ia memperkirakan dampak kebijakan tersebut terhadap pasar keuangan Indonesia tidak akan terlalu besar, karena sebagian besar sudah diantisipasi pasar.

Selain faktor eksternal, David memperkirakan prospek penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang diputuskan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di tanggal 28-29 Oktober mendatang juga dapat menjadi katalis positif bagi aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Biasanya kalau The Fed turunkan bunga, emerging market jadi lebih menarik, ujar David.

Ia juga memprediksi rupiah akan cenderung stabil pada kisaran Rp 16.600Rp 16.800 per dolar AS hingga akhir tahun serta mendukung membaiknya iklim investasi. Sentimen yang akan mendorong penguatan rupiah disebut David salah satunya penerbitan Dim Sum Bond pada Kuartal IV-2025, dan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) atau Foreign Direct Investment (FDI).

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Perang Dagang China-AS Berlanjut, Ini Dampaknya pada Arus Modal Asing ke RI ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar