Pakistan Siap Berperang dengan Afghanistan Jika Gagal Berunding

Kabar pemerintahan kembali hangat diperbincangkan. Mengenai Pakistan Siap Berperang dengan Afghanistan Jika Gagal Berunding, publik menanti dampak dan realisasinya. Simak laporannya.
Pakistan Siap Berperang dengan Afghanistan Jika Gagal Berunding

Peringatan Perang dari Menteri Pertahanan Pakistan

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, memberikan peringatan bahwa negaranya siap menghadapi perang terbuka dengan Afghanistan jika perundingan damai yang sedang berlangsung tidak mencapai kesepakatan. Pernyataan ini disampaikan saat delegasi kedua negara memulai putaran kedua negosiasi keamanan di Istanbul, Turki.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perundingan yang dimulai pada hari Sabtu (25/10/2025) bertujuan untuk memperkuat gencatan senjata yang sebelumnya disepakati setelah bentrokan mematikan di perbatasan. Putaran pertama perundingan telah diadakan di Doha, Qatar, dengan bantuan mediasi dari Turki.

Asif menyatakan bahwa pihaknya memiliki opsi jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. Ia menegaskan bahwa Pakistan akan menghadapi perang terbuka dengan Afghanistan, meskipun ia melihat bahwa pihak Afghanistan ingin perdamaian.

Isu Terorisme dan Tuntutan Pakistan

Salah satu isu utama dalam negosiasi adalah ancaman terorisme yang disebut berasal dari wilayah Afghanistan. Pakistan menuntut komitmen dari pemerintah Afghanistan untuk membersihkan wilayah mereka dari kelompok Tehreek-i-Taliban Pakistan (TTP). Islamabad menuduh TTP melakukan serangan lintas batas dari wilayah Afghanistan.

Pemerintah Afghanistan membantah tuduhan tersebut dan justru menyalahkan Islamabad atas pelanggaran kedaulatan mereka melalui serangan militer. Kedua negara akan membahas skema kerja sama intelijen untuk mengatasi masalah terorisme.

Menurut analis dari Crisis Group, Ibraheem Bahiss, "misalnya, Pakistan akan memberikan koordinat lokasi yang mereka curigai sebagai tempat keberadaan pejuang atau komandan TTP, dan alih-alih melancarkan serangan, Afghanistan diharapkan akan melakukan tindakan terhadap mereka."

Pakistan juga dilaporkan ingin membentuk struktur pengawasan pihak ketiga. Sistem pengawasan ini kemungkinan akan diketuai bersama oleh Turki dan Qatar.

Kerugian Ekonomi Akibat Konflik

Perundingan ini diselenggarakan menyusul bentrokan di perbatasan selama dua minggu yang menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya. Bentrokan terjadi di sepanjang Garis Durand, perbatasan yang sering menjadi titik panas antara kedua negara.

Krisis ini dinilai sangat merugikan, terutama karena penutupan perbatasan akibat konflik. Kamar Dagang dan Industri Afghanistan memperkirakan bahwa para pedagang kehilangan jutaan dolar AS setiap harinya selama penutupan perbatasan berlangsung.

Delegasi Afghanistan untuk perundingan ini dipimpin oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Haji Najib. Sementara itu, Pakistan diwakili oleh delegasi yang terdiri dari dua pejabat keamanan.

Tensi yang Memanas

Hubungan antara Kabul dan Islamabad memanas bukan hanya karena masalah perbatasan dan terorisme. Sebelumnya, Afghanistan mengumumkan rencana membangun bendungan di Sungai Kunar. Sungai Kunar, yang juga dikenal sebagai Sungai Chitral di Pakistan, adalah sungai sepanjang 480 kilometer yang penting bagi kedua negara. Oleh karena itu, rencana pembangunan bendungan ini dinilai akan menimbulkan keresahan bagi Pakistan.

Selain isu air, kunjungan Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, ke New Delhi pada awal Oktober juga dipandang sebagai langkah permusuhan oleh Pakistan. Kunjungan Muttaqi ke India tersebut dinilai provokatif karena bertepatan dengan eskalasi konflik.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan aspirasi Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar