Kondisi Darurat di Jalur Gaza Akibat Cuaca Ekstrem dan Blokade
Di tengah cuaca musim dingin yang ekstrem, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memprihatinkan. Lembaga kemanusian Doctors Without Borders (MSF) melaporkan bahwa banyak bayi dan anak-anak mengalami penderitaan berat akibat suhu yang sangat dingin. Mereka menyerukan agar Israel segera melonggarkan blokade bantuan kemanusiaan untuk mencegah kematian tambahan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kasus Kematian Bayi Akibat Hipotermia
Salah satu kasus terbaru adalah kematian bayi berusia 29 hari bernama Said Asad Abedin. Ia meninggal setelah hanya dua jam tiba di bangsal anak yang didukung oleh MSF. Dalam pernyataannya, MSF menyebutkan bahwa meskipun telah dilakukan upaya perawatan intensif, bayi tersebut tidak bisa diselamatkan karena mengalami hipotermia berat.
Pada hari Kamis, jumlah korban jiwa akibat cuaca ekstrem mencapai 13 orang. Salah satunya adalah Muhammad Khalil Abu al-Khair, seorang bayi berusia dua minggu yang meninggal akibat kedinginan tanpa akses terhadap tempat berlindung atau pakaian yang layak.
Pengalaman Keluarga yang Mengalami Penderitaan
Iman Abu al-Khair, seorang perempuan Palestina berusia 34 tahun, mengungkapkan pengalamannya ketika menemukan bayinya, Muhammad, dalam keadaan membeku. “Tangannya dan kakinya membeku dan wajahnya kaku dan kekuningan,” katanya. Dia dan suaminya tidak dapat menemukan transportasi untuk membawa bayinya ke rumah sakit. Hujan lebat membuat perjalanan dengan berjalan kaki tidak mungkin. Setelah membawa Mohammed dengan gerobak yang ditarik hewan ke Rumah Sakit Bulan Sabit Merah di Khan Younis, dia dirawat di perawatan intensif namun meninggal dua hari kemudian.

Seorang wanita Palestina menggendong seorang anak saat mereka berjalan di sepanjang tenda yang didirikan untuk pengungsi di Kota Gaza, Rabu, 17 Desember 2025. - ( AP Photo/Jehad Alshrafi)
Peringatan dari Dokter dan Petugas Medis
Ahmed al-Farra, kepala departemen pediatrik bersalin di Nasser Medical Complex, mengingatkan bahwa hipotermia sangat berbahaya bagi bayi. “Jika tidak ada yang ditawarkan untuk keluarga-keluarga ini di tenda, untuk pemanasan, untuk rumah mobil, untuk karavan, sayangnya, kita akan melihat semakin banyak kematian,” ujarnya dalam pembaruan video.
Bilal Abu Saada, pengawas tim perawat di Rumah Sakit Nasser, mengatakan bahwa anak-anak kehilangan nyawa karena kurangnya bahan dasar untuk bertahan hidup. “Bayi-bayi yang tiba di rumah sakit dalam keadaan membeku, dengan tanda-tanda vital mendekati kematian,” katanya.
Suasana banjir di Kota Gaza pada Selasa (16/12/2023). (Muhammad Rabah/Dok aiotrade)
Ancaman Kesehatan yang Menanti
MSF memperingatkan bahwa cuaca musim dingin yang keras, ditambah dengan kondisi kehidupan yang sudah sangat memprihatinkan, semakin meningkatkan risiko kesehatan. Organisasi tersebut mencatat bahwa timnya terus menemukan tingkat infeksi saluran pernapasan yang tinggi. Kasus-kasus tersebut diperkirakan akan meningkat sepanjang musim dingin dan menimbulkan ancaman serius bagi anak-anak di bawah usia lima tahun.
Selain itu, badai yang melanda Gaza memperparah penderitaan ratusan ribu warga Palestina yang tinggal di tenda-tenda darurat yang rapuh dan terendam air.
Seruan untuk Bantuan Kemanusiaan
MSF juga menyerukan kepada otoritas Israel untuk segera mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza dalam skala besar dan secara lebih intensif.
Situasi Militer yang Memperburuk Kondisi
Sementara itu, pasukan Israel dilaporkan menghancurkan bangunan, meluncurkan tembakan artileri, dan menembakkan senjata di daerah timur Kota Gaza. Banyak tembakan dilaporkan di timur Khan Younis. Pada hari Jumat, serangan Israel terhadap tempat penampungan pengungsi Palestina menewaskan sedikitnya enam orang. Militer Israel mengeklaim menembaki “tersangka”.
Video dari tempat kejadian menunjukkan bagian-bagian tubuh dan membuat warga sipil ketakutan saat mencoba membawa orang-orang yang terluka keluar dari bahaya. Kendaraan militer juga turun ke kota az-Zawiya, yang terletak di sebelah barat Salfit di Tepi Barat yang diduduki, di mana pasukan memukuli dan melukai sejumlah warga serta menyerbu rumah-rumah.
Komentar
Kirim Komentar