
Pentingnya Keseimbangan Tubuh dalam Olahraga Lari
Banyak pelari sering kali menganggap rasa nyeri sebagai bagian dari proses latihan. Namun, para ahli menekankan bahwa tanda-tanda kecil seperti nyeri lutut dan pinggul sebenarnya bisa menjadi indikasi awal ketidakseimbangan tubuh yang perlu segera diperbaiki.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pelari, baik pemula maupun berpengalaman, sering kali tidak menyadari bahwa langkah kaki mereka dipengaruhi oleh banyak faktor yang bekerja bersamaan. Menurut pengamatan fisioterapis, tubuh pelari bekerja layaknya mesin yang saling terhubung. Jika satu komponen melemah, bagian lain harus bekerja lebih keras untuk menutupi kekurangan tersebut.
Dalam jangka panjang, beban berlebih inilah yang memicu rasa sakit hingga cedera yang menghambat performa. Selain itu, kebiasaan latihan yang tidak tepat—seperti kurang pemanasan, intensitas berlebihan, atau jarang melakukan latihan penguatan—semakin meningkatkan potensi munculnya masalah pada lutut, pinggul, hingga punggung.
Peran Kebugaran dalam Pencegahan Cedera
Para ahli sepakat bahwa pencegahan cedera tidak hanya bergantung pada kekuatan otot, tetapi juga mobilitas, stabilitas, dan kontrol gerak. Ketika semua aspek ini bekerja selaras, risiko cedera akan berkurang drastis.
Studi terhadap 253 pelari rekreasional yang dipublikasikan tahun 2023 di Sports Medicine menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden mengalami cedera dalam satu tahun latihan. Salah satu faktor pemicunya adalah kelemahan otot yang membuat tubuh bekerja tidak seimbang.
Menurut terapis fisik Ali Marty, DPT, dari Las Vegas, banyak keluhan seperti nyeri lutut atau telapak kaki bermula dari otot yang tidak mampu bekerja optimal. "Biasanya saya langsung memeriksa kekuatan otot ketika pelari mengeluhkan sakit," ujarnya. Ketika satu otot melemah, area tubuh lain harus menanggung beban tambahan yang akhirnya memicu cedera.
Terapis fisik Nicole Haas, DPT, menambahkan bahwa penyebab cedera tidak hanya terbatas pada kekuatan otot. Mobilitas, stabilitas, dan kontrol neuromuskular juga memiliki peran penting. Karena itu, program latihan yang ideal harus mencakup latihan kekuatan, fleksibilitas, hingga kontrol gerak.
Tiga Kelompok Otot yang Sering Menyebabkan Cedera
Berikut adalah rangkuman tiga kelompok otot yang paling sering menyebabkan cedera jika dibiarkan lemah, lengkap dengan latihan yang direkomendasikan para ahli:
1. Otot Paha Belakang (Hamstring) Lemah
Hamstring berfungsi menekuk lutut dan membantu dorongan pinggul. Jika otot ini lemah, fleksor pinggul dan otot tulang kering harus bekerja ekstra, sehingga meningkatkan risiko tendonitis fleksor pinggul atau shin splint. Beban berlebih juga dapat memicu tendinitis glute.
Latihan yang disarankan: - Romanian deadlift satu kaki
2. Otot Betis Lemah
Betis berperan besar dalam menyerap benturan dan membantu dorongan langkah. Ketika kekuatannya menurun, tekanan berlebih akan diterima lutut dan tulang kering. Akibatnya, pelari bisa mengalami nyeri tulang kering maupun plantar fasciitis.
Latihan yang disarankan: - Angkat betis satu kaki (kaki lurus dan ditekuk) - Farmer’s carry - Wall squat dengan tumit terangkat
3. Otot Bokong (Glute) Lemah
Gluteus merupakan "mesin utama" dalam setiap langkah. Ketika melemah, beban beralih ke lutut dan pergelangan kaki, sehingga memicu masalah seperti lutut pelari, sindrom IT band, plantar fasciitis, hingga tendinopati Achilles.
Gluteus medius, otot kecil yang menstabilkan panggul, memiliki peran penting menjaga posisi lutut tetap aman. Penelitian menunjukkan bahwa gluteus medius yang lemah juga berkaitan dengan munculnya nyeri punggung bawah.
Latihan yang disarankan: - Jembatan glute satu kaki - Clamshell berdiri - Lateral band walk
Rangkaian latihan di atas dapat dilakukan dua hingga tiga set sesuai tingkat kebugaran. Dengan penguatan yang konsisten, pelari dapat meminimalkan risiko cedera sekaligus meningkatkan performa secara keseluruhan.
Komentar
Kirim Komentar