
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Perkembangan Teknologi dan Kemanusiaan
Lembaga bantuan internasional kini sedang menghadapi kritik tajam setelah ditemukan penggunaan gambar yang dibuat oleh kecerdasan buatan (AI) dalam kampanye media sosial mereka. Gambar-gambar ini menampilkan kemiskinan ekstrem, anak-anak, dan penyintas kekerasan seksual. Praktik ini memicu pertanyaan serius tentang etika, bias rasial, serta bagaimana penderitaan manusia digambarkan di ruang digital.
Penggunaan gambar AI dalam kampanye bantuan kemanusiaan kini menjadi tren yang semakin luas. Menurut Noah Arnold dari lembaga etika visual Fairpicture di Swiss, banyak organisasi menggunakan gambar AI secara aktif, sementara yang lain masih dalam proses eksperimen. Hal ini menunjukkan bahwa tren ini mulai merambah ke berbagai lembaga bantuan.
Masalah Etika dan Representasi
Arsenii Alenichev, seorang peneliti dari Institute of Tropical Medicine di Antwerpen, menjelaskan bahwa gambar AI ini meniru pola visual kemiskinan yang umum digunakan dalam kampanye bantuan kemanusiaan. Namun, citra-citra tersebut sering kali memiliki stereotip yang kuat dan mengurangi penderitaan manusia menjadi sekadar simbol. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana gambar tersebut dapat memperkuat persepsi negatif terhadap masyarakat tertentu.
Menurut Alenichev, dua faktor utama yang mendorong penggunaan gambar AI adalah masalah biaya dan persetujuan. Banyak organisasi kini mempertimbangkan penggunaan gambar AI karena lebih murah dan tidak memerlukan izin dari subjek asli. Selain itu, pemotongan anggaran bantuan Amerika Serikat juga turut memperburuk situasi ini, mendorong lembaga mencari cara visual yang lebih efisien namun dengan dilema etika yang serius.
Penyebaran Gambar Sintetis
Gambar-gambar bertema kemiskinan kini bertebaran di situs stok foto global seperti Adobe dan Freepik. Keterangan pada gambar tersebut sering kali menyebutkan "anak di kamp pengungsi" atau "relawan kulit putih memberi konsultasi medis kepada anak-anak kulit hitam di desa Afrika." Harga lisensi untuk gambar semacam itu bahkan mencapai £60 atau sekitar Rp1,3 juta.
Alenichev menilai bahwa gambar-gambar ini sangat rasialis dan seharusnya tidak pernah diizinkan terbit karena memperkuat stereotip buruk tentang Afrika atau India. Ia menegaskan bahwa gambar-gambar ini justru memperkuat prasangka dan kesenjangan antara masyarakat yang berbeda.
Tanggung Jawab Pengguna
CEO Freepik, Joaquín Abela, menyatakan bahwa tanggung jawab etika ada di tangan pengguna, bukan penyedia platform. Ia mengatakan bahwa platform berupaya menyeimbangkan keragaman, tetapi jika pasar global menginginkan citra tertentu, tidak ada yang benar-benar bisa menghentikannya.
Polemik ini memicu debat panjang di kalangan lembaga kemanusiaan. Beberapa organisasi berargumen bahwa penggunaan gambar AI dapat melindungi identitas dan privasi subjek rentan. Namun, bagi banyak pengamat, hal itu justru mengaburkan realitas dan berpotensi memperkuat bias sosial.
Langkah-Langkah yang Diambil
Konsultan komunikasi lembaga swadaya masyarakat, Kate Kardol, menyatakan bahwa menyedihkan bahwa perjuangan untuk representasi etis kini juga harus diperluas hingga ke dunia yang tidak nyata. Ia menyoroti pentingnya memastikan bahwa gambar yang digunakan tidak hanya efektif, tetapi juga etis dan menghormati martabat manusia.
Beberapa lembaga internasional telah mengambil langkah korektif. Plan International, misalnya, kini melarang penggunaan AI untuk menggambarkan anak-anak secara individual setelah kampanye video mereka pada 2023 memicu kritik luas. Lembaga tersebut telah mengadopsi pedoman baru untuk memastikan privasi dan martabat anak-anak tetap terlindungi.
Tantangan Masa Depan
Fenomena “poverty porn 2.0” ini menandai babak baru hubungan antara teknologi dan kemanusiaan. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi. Namun di sisi lain, hal ini menghadirkan bahaya manipulasi visual yang mengikis empati dan memperkuat ketimpangan persepsi global tentang kemiskinan.
Dalam konteks itulah, ketika batas antara kenyataan dan konstruksi digital semakin kabur, tanggung jawab etis lembaga bantuan dunia menjadi pertaruhan utama. Keaslian, transparansi, dan penghormatan terhadap martabat manusia kini menjadi tantangan mendasar dalam memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Komentar
Kirim Komentar