Konsumen Otomotif Akui Penipuan Publik di Balik Standar Arbitrasi

Dunia gadget kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Konsumen Otomotif Akui Penipuan Publik di Balik Standar Arbitrasi yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.
Konsumen Otomotif Akui Penipuan Publik di Balik Standar Arbitrasi

Penjelasan tentang Kekeliruan dalam Keterangan Ahli Otomotik

Dalam sebuah perkara hukum yang sedang berlangsung, konsumen otomotif bernama Elnard Peter mengungkapkan kekeliruan dan kesalahan dalam keterangan ahli otomotif Dr-Ing. Mohammad Adhitya ST, MSc. Ahli ini ditempatkan sebagai Standar Arbitrasi oleh majelis hakim dalam memutus perkara tersebut.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Menurut Elnard, dalam Direktori Putusan Mahkamah Agung RI dengan putusan perkara Nomor: 491/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL, Dr-Ing. Mohammad Adhitya menyampaikan bahwa perbedaan angka-angka antara spesifikasi standar dan kondisi aktual bukanlah indikator adanya cacat tersembunyi. Ia menegaskan bahwa ketika produk otomotif diukur di tempat lain, hasilnya bisa berbeda, bahkan produk yang diukur di pagi hari bisa memiliki hasil yang berbeda ketika diukur di malam hari.

Elnard menjelaskan bahwa ahli tersebut tidak memahami bahwa setiap alat ukur otomotif sudah modern dan memiliki referensi standar seperti SAE, ISO, atau standar internasional lainnya. Standar ini mencakup hal-hal seperti numerikal, satuan unit, kode warna, persyaratan teknis/lingkungan, dan prosedur pengukuran agar memberikan nilai ukur yang presisi.

Ia memberikan contoh, yaitu instrumentasi laser pada Wheel Alignment 3D yang akurasinya hingga 0.01 derajat. Dari tiga lembar Vehicle Alignment Report yang disertakan dalam Akta Bukti juga memuat Defective lini purna jual seperti Defective Information yang menyajikan spesifikasi fiktif serta Defective Workmanship yang memperbaiki produk tidak merujuk Repair Manual produk. Hal ini tentu saja membuatnya diabaikan.

Elnard menilai bahwa kecerobohan Judex Factie kini sudah terbongkar karena menipu publik dengan modus menerapkan keterangan ahli sebagai "Standar Arbitrasi" untuk eliminasi pembuktian terbalik berdasarkan Standar Baku Toyota yang menciptakan objek perkara sekaligus pengelola hak paten suku cadang Lower Arm.

Menurut Elnard, penipuan publik ini bukan pertama kali terjadi karena dalam empat gugatan konsumen terhadap Toyota sebelumnya, akibat suku cadang Airbag yang "layu berkembang saat kecelakaan" juga sudah menjadi alat bukti otentik yang memiliki Defective Information juncto Defective Judicial. Sebab, putusan tersebut diputus tanpa pembuktian terbalik terhadap objek perkara dan hanya mengandalkan Standar Arbitrasi.

Ketiga putusan terkait Geometri Roda malah menambah alat bukti otentik yang memiliki Defective Information karena menempatkan keterangan ahli otomotif yang manipulatif dan menyesatkan sebagai Standar Arbitrasi, bahkan memiliki Defective Judicial persis seperti empat putusan terdahulu soal Airbag.

Elnard berharap mahasiswa Fakultas Hukum UI yang melakukan penelitian studi banding praktik pembuktian didukung oleh FH UI agar menempatkan Dekan Fakultas Teknik Mesin UI cq Kaprodi Teknik Mesin UI sebagai nara sumber tambahan. Sebab, praktik pembuktian terbalik di Uni Eropa cukup dari mekanik dengan latar pendidikan vokasi dan memegang lisensi resmi dari Pemda.

Praktik keterangan terbalik dari ahli otomotif Dr-Ing. Mohammad Adhitya, S.T., M.Sc. yang dinyatakan dalam Putusan sebagai tenaga pendidik di Universitas Indonesia sebagai "gimmick" Standar Arbitrasi bisa dihentikan oleh institusi bersangkutan agar oknum Badilum tidak mencatut Universitas Indonesia sembarangan.

Sementara itu, Juru Bicara Mahkamah Agung, Yanto, saat dikonfirmasi aiotrade tentang ini lewat pesan WhatsApp masih enggan memberikan jawaban. Elnard Peter juga telah mencoba menghubungi ahli Mohammad Adhitya melalui surat elektronik yang tertera di Departemen Teknik Mesin UI, namun belum mendapat jawaban sampai berita ini diturunkan.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar