Kisah Hafidz, Pustakawan Muda yang Berjuang demi Buku

Kisah Hafidz, Pustakawan Muda yang Berjuang demi Buku

Berita terbaru hadir untuk Anda. Mengenai Kisah Hafidz, Pustakawan Muda yang Berjuang demi Buku, berikut adalah data yang berhasil kami himpun dari lapangan.
Featured Image

Kecintaan pada Buku yang Mengubah Jalannya Hidup

Hafidz Karya Rahmawan, seorang pemuda berusia 23 tahun asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, tidak pernah membayangkan akan menjadi pustakawan. Namun, kecintaannya terhadap buku akhirnya membawanya bekerja di Pitimoss Fun Library, sebuah perpustakaan lama yang berdiri sejak tahun 2003 di Jalan Banda, Kota Bandung.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dari kecil, ibu Hafidz sering membelikannya buku cerita setiap kali pulang dari pasar. Meski begitu, ia jarang membaca buku hingga masa SMP. Minatnya pada buku kembali tumbuh saat ia menginjak bangku SMA pada tahun 2017. "Saya mulai tertarik dengan permainan kata dan puisi. Buku pertama yang saya beli adalah Seni Menulis Puisi dari Hasta Indriyana," ujarnya.

Awalnya hanya sebagai hobi, rasa suka terhadap buku perlahan menjadi bagian penting dalam hidupnya. Tahun 2021, ia bahkan mencoba berjualan buku bekas secara daring. Namun, karena kesulitan ekonomi setelah usaha kuliner kecilnya gagal, ia mencari penghasilan tetap.

Pada tahun 2022, Hafidz menemukan lowongan pustakawan di Pitimoss melalui Instagram. Tanpa pengalaman sebelumnya, ia memberanikan diri untuk melamar. "Saya awalnya tidak tahu apa itu Pitimoss. Setelah saya cari tahu, ternyata Pitimoss adalah tempat penyewaan buku. Saya pikir ini cocok untuk saya karena saya suka buku dan mereka mencari orang yang benar-benar menyukai buku," katanya.

Setelah dua kali wawancara, ia diterima. Meskipun gajinya tidak besar, Hafidz merasa sangat bersyukur. "Mimpi saya adalah punya toko buku sendiri, tapi bekerja di sini saya bisa belajar banyak hal, termasuk bisnis buku, dunia penerbitan, dan penulisan," ujarnya.

Ia juga belajar memahami para pengunjung perpustakaan. Menurutnya, ada perbedaan antara orang yang sekadar suka membaca dan yang benar-benar mencintai buku. "Orang yang suka buku pasti suka membaca, tapi orang yang suka membaca belum tentu suka buku. Cara memperlakukan buku pun berbeda," jelasnya.

Minat baca di kalangan anak muda semakin meningkat, yang membuatnya optimistis. Banyak pengunjung datang ke Pitimoss karena terinspirasi oleh konten kreator media sosial. "Sekarang ini banyak anak kuliahan yang datang dan menunjukkan screenshot dari konten TikTok, seperti Ferry Irwandi dari Malaka Project. Buku Tan Malaka jadi yang paling dicari," ujarnya.

Menurut Hafidz, pustakawan memiliki peran penting dalam menjaga budaya literasi di tengah gempuran digitalisasi. "Pustakawan bertindak sebagai kurator di tengah informasi yang tidak jelas. Meskipun AI sudah ada, tapi AI hanya berdasarkan data, sedangkan manusia menggunakan perasaan dan intuisi," katanya.

Meski penghasilan terbatas, Hafidz tetap bersyukur. "Pernah ingin berhenti, tapi karena penghasilan. Awalnya tujuan saya hanya kerja, tapi saya tetap bertahan karena tidak ada pekerjaan lain," ujarnya.

Harapan sederhananya adalah agar literasi masuk ke dalam kurikulum pendidikan. "Pemerintah harus fokus pada pendidikan, bagaimana meningkatkan literasi di sekolah. Bukan hanya jam baca, tapi juga mengajarkan menulis puisi atau mengarang," ujarnya.

Selain itu, ia berharap perpustakaan pemerintah bisa buka lebih lama. "Di Bandung, perpustakaan umum tutup pukul 15.30 WIB. Kalau bisa buka sampai malam, pukul 20.00 WIB, biar anak-anak bisa nongkrong dan meminjam buku," tambahnya.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Kisah Hafidz, Pustakawan Muda yang Berjuang demi Buku. Semoga menambah wawasan Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar