
Kapal perusak berpeluru kendali milik Amerika Serikat (AS), USS Gravely, tiba di Trinidad dan Tobago pada hari Minggu (26/10). Keberadaan kapal tersebut memicu kemarahan di Venezuela, yang menganggap tindakan AS sebagai provokasi militer.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pembuangan kapal perang AS ini menimbulkan kekhawatiran bahwa negara itu mungkin akan melakukan serangan terhadap Venezuela. Saat ini, hubungan antara kedua negara sedang memanas. Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump memberi perintah untuk meluncurkan operasi militer guna memerangi peredaran narkoba.

Operasi tersebut sering kali menargetkan kapal-kapal Venezuela yang diduga membawa narkoba. Hingga saat ini, serangan AS masih dilakukan di perairan internasional. Pasukan AS telah meledakkan sedikitnya 10 kapal yang mereka klaim menyelundupkan narkotika. Sejak September 2025, serangan AS terhadap kapal-kapal itu menewaskan 43 orang.
Trump secara berkala mengancam akan menyerang wilayah Venezuela. Presiden Nicolás Maduro menganggap tindakan AS sebagai upaya menggulingkan pemerintahnya.

Trinidad dan Tobago, tempat USS Gravely berlabuh, hanya berjarak sekitar 11 kilometer dari perbatasan Venezuela. AS menyatakan bahwa kehadiran kapal perang USS Gravely bertujuan untuk latihan bersama dengan aparat keamanan setempat. Rencananya, kapal tersebut akan berada di sana selama empat hari.
Venezuela Marah
Sementara itu, pemerintah Venezuela menyatakan kemarahan atas keputusan AS mengirimkan kapal perang ke negara tetangganya tersebut. “Ini adalah provokasi militer dari Trinidad dan Tobago yang bekerja sama dengan CIA, bertujuan memicu perang di Karibia,” demikian pernyataan resmi pemerintah Venezuela.
“Kami telah menangkap sekelompok tentara bayaran terkait CIA setelah Trump mengizinkan operasi rahasia terhadap Venezuela,” lanjut pernyataan itu.

Sebelum USS Gravely, AS juga telah mengirimkan kapal induk terbesar ketiga di dunia, USS Gerald R. Ford, ke perairan internasional di sekitar Venezuela. Tindakan ini semakin memperburuk situasi diplomatik antara kedua negara.
Beberapa analis mengatakan bahwa kehadiran kapal-kapal AS di wilayah Karibia bisa menjadi tanda awal dari eskalasi konflik. Pihak Venezuela menilai bahwa tindakan AS tidak hanya melanggar kedaulatan negara tetapi juga berpotensi memicu krisis regional.
Selain itu, kekhawatiran juga muncul tentang bagaimana tindakan AS dapat memengaruhi stabilitas politik di kawasan. Beberapa negara tetangga seperti Kuba dan Ekuador juga mengecam langkah AS, dengan menilai bahwa intervensi militer tidak akan membantu menyelesaikan masalah narkoba.
Di sisi lain, pihak AS tetap mempertahankan posisi bahwa operasi mereka bertujuan untuk memastikan keamanan maritim dan mencegah peredaran narkoba. Namun, kritik terhadap tindakan AS terus meningkat, baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat sipil.
Dengan situasi yang semakin memanas, banyak pihak memperingatkan bahwa potensi konflik antara AS dan Venezuela semakin nyata. Dalam skenario terburuk, tindakan militer dapat mengakibatkan kerugian besar bagi rakyat dan stabilitas kawasan.
Komentar
Kirim Komentar