
Kebijakan Bantuan Luar Negeri Indonesia
Laporan dari seorang reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani, menyampaikan informasi terkini mengenai kebijakan bantuan luar negeri yang diambil oleh pemerintah Indonesia. Dalam hal ini, Kementerian Luar Negeri telah menyampaikan kebijakan tersebut kepada semua negara bahwa Indonesia tidak meminta atau mengajukan permintaan untuk menerima bantuan asing.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Standar Minimum Pelayanan Bantuan Kemanusiaan
Pentingnya standar minimum pelayanan bantuan kemanusiaan dalam bencana Sumatra menjadi perhatian utama. Dengan situasi saat ini, ada kekhawatiran bahwa bantuan bisa disalahgunakan, yang justru menambah masalah baru. Rahmawati Husein, pakar manajemen bencana dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menjelaskan bahwa setiap negara memiliki prosedur penerimaan bantuan asing. Indonesia juga telah membuat kebijakan sendiri dan sudah disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri.
“Niat baik harus diiringi dengan tata cara yang baik juga, artinya menghormati masing-masing negara,” ujarnya pada Jumat (19/12/2025). Ia mencontohkan, jika Indonesia ingin membantu ke Nepal atau Filipina, tetap ada prosedurnya.
Tidak Meminta Bantuan
Menurut Rahmawati, kebijakan bantuan luar negeri Indonesia sudah disampaikan ke semua negara bahwa Indonesia tidak meminta atau mengajukan permintaan untuk menerima bantuan. Jadi, negara lain hanya akan membantu jika sudah ada jawaban dari pemerintah Indonesia.
Selain prosedur, bantuan juga sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Saat ini, bantuan berupa beras dan persediaan makanan sudah banyak. Artinya, jika bantuan yang diberikan tidak berbasis kebutuhan justru tidak efektif.
Bantuan yang Disesuaikan dengan Kebutuhan
Ia menekankan pentingnya standar minimum pelayanan bantuan kemanusiaan dalam bencana Sumatra. Dengan kondisi saat ini, ia justru khawatir jika bantuan disalahgunakan, yang justru menambah masalah baru. Ia menilai prosedur memang harus dipatuhi, tujuannya untuk melindungi masyarakat terdampak.
“Saya kebetulan di lembaga penanggulangan bencana Muhammadiyah (MDMC), kadang-kadang menerima bantuan asal ada pernyataan darurat. Pernah kami satu bulan untuk mendapatkan surat. Kami dapat bantuan obat-obatan, tidak mudah ngurusnya,” terangnya.
“Menurut peraturan WHO obat itu harus dua tahun expired-nya. Ada yang cuma satu tahun, nah nanti jadi tempat pembuangan obat kan. Ini kadang tidak diketahui masyarakat, dalam hubungan negara ada banyak latar belakang untuk menentukan,” sambungnya.
Bantuan yang Paling Dibutuhkan Saat Ini
Saat ini, Rahmawati sedang berada di Sumatra Utara untuk menjalankan misi kemanusiaan. Ia berkeliling dari Aceh hingga Sumatra Barat. Saat ini bantuan yang paling dibutuhkan korban banjir bandang adalah air bersih, alat kebersihan seperti cangkul, sekop, dan lain-lain untuk membersihkan endapan lumpur.
Bantuan hygiene kit seperti handuk, sabun, dan lain-lain juga dibutuhkan. Masyarakat di Sumatra juga membutuhkan peralatan memasak hingga alat tulis dan seragam sekolah bagi siswa.
“Sebaiknya jangan baju pantas pakai, karena di sini cuma jadi sampah. Sebaiknya baju baru, karena baju pantas pakai di sini ada yang robek, resleting rusak. Sarung dibutuhkan, alat ibadah dibutuhkan juga. Kalau untuk bayi sebaiknya biskuit bayi, makanan lunak. Tidak disarankan memberikan susu formula, meskipun dibutuhkan. Karena di sini tidak ada airnya untuk mencuci botol,” imbuhnya.
Komentar
Kirim Komentar