
Hari Ibu: Dari Perayaan Hingga Refleksi
Dalam perayaan yang serba manis, ibu sering kali tidak lagi diposisikan sebagai manusia dengan pengalaman beragam, melainkan sebagai figur ideal yang harus selalu dipuja. Segala hal yang tidak selaras dengan gambaran tersebut cenderung disingkirkan dari ruang publik.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Hampir tidak ada tempat untuk membicarakan ibu yang lelah, keliru, atau terjebak dalam pola pengasuhan yang bermasalah. Keibuan diperlakukan sebagai wilayah sakral yang tak boleh disentuh kritik, seolah mempertanyakan praktiknya sama dengan meniadakan cinta dan jasa.
Akibatnya, Hari Ibu kerap menjadi perayaan peran semata, bukan refleksi relasi. Yang dirayakan adalah fungsi sosial ibu, bukan dinamika nyata hubungan ibu dan anak yang kerap kompleks, berlapis, dan tidak selalu harmonis.
Narasi tunggal ini bukan sepenuhnya salah, tetapi jelas tidak lengkap. Ia memuliakan, sekaligus membungkam sisi-sisi yang tidak sesuai dengan citra ideal.
Ada Luka di Balik Kasih
Di balik perayaan yang rapi, relasi ibu dan anak dalam kehidupan nyata sering kali jauh lebih rumit. Tidak semua hubungan dibangun di atas rasa aman dan kehangatan. Dalam sejumlah kasus, relasi tersebut justru diwarnai ketegangan yang berlangsung lama dan sulit diucapkan.
Salah satu pola yang kerap muncul adalah penggunaan relasi kuasa dalam pengasuhan, bahkan ketika anak telah dewasa. Atas nama pengalaman, pengorbanan, atau kasih sayang, sebagian ibu merasa berhak mengatur pilihan hidup anak—mulai dari karier hingga relasi personal.
Kontrol ini sering tidak dikenali sebagai masalah karena dibungkus dalam bahasa kepedulian. Dalam konteks masyarakat religius, tekanan tersebut bahkan diperkuat oleh istilah moral dan spiritual. Ancaman label “durhaka” menjadi batas yang membuat anak sulit bersuara.
Psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth melalui Teori Kelekatan menjelaskan bahwa relasi yang dibangun di atas rasa takut dan kontrol cenderung melahirkan kepatuhan semu, bukan kelekatan emosional yang sehat. Hormat mungkin terjaga, tetapi keintiman perlahan menghilang.
Kekerasan dalam keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk fisik atau verbal yang kasar. Ia bisa muncul secara simbolik dan emosional: melalui rasa bersalah, diam yang menghukum, atau posisi ibu sebagai pihak yang selalu terluka. Banyak anak baru menyadari ketidaksehatan relasinya setelah dewasa, ketika bahasa untuk mengenali luka akhirnya tersedia.
Memaknai Hari Ibu sebagai Ruang Refleksi
Mengakui adanya luka bukan berarti meniadakan cinta dan pengorbanan ibu. Namun memahami konteks juga tidak otomatis menghapus dampak. Relasi yang melukai tetap meninggalkan jejak, meski lahir dari niat baik.
Di titik inilah Hari Ibu dapat diberi makna yang lebih luas. Bukan semata sebagai perayaan simbolik, melainkan ruang refleksi tentang relasi dan tanggung jawab lintas generasi. Penghormatan terhadap ibu tidak harus berhenti pada puja-puji, tetapi dapat berkembang menjadi upaya sadar membangun hubungan yang lebih sehat.
Bagi generasi yang hari ini menjadi orang tua, atau sedang menuju ke sana, refleksi ini menjadi penting. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling berkorban, melainkan bagaimana keibuan dijalankan dalam keseharian.
Pendekatan pengasuhan reflektif menekankan kesadaran orang tua terhadap luka dan pola relasinya sendiri agar tidak diwariskan begitu saja kepada anak. Memutus siklus bukan berarti memutus hubungan, melainkan mengganti cara: mengganti kontrol dengan kepercayaan, ancaman dengan dialog, dan tuntutan moral dengan kehadiran emosional.
Hari Ibu dapat menjadi momentum untuk menggeser cara pandang tersebut. Sebuah pengingat bahwa kasih tidak seharusnya melukai, tidak menuntut kepatuhan sunyi, dan tidak menjadikan pengorbanan sebagai alat kendali.
Dengan demikian, Hari Ibu tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi penanda proses panjang menuju relasi yang lebih sehat, setara, dan manusiawi—demi masa depan generasi berikutnya.
Komentar
Kirim Komentar