Hamas: Pertukaran Tahanan dengan Israel Diperkirakan Dimulai Senin

Hamas: Pertukaran Tahanan dengan Israel Diperkirakan Dimulai Senin

Industri teknologi kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Hamas: Pertukaran Tahanan dengan Israel Diperkirakan Dimulai Senin yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perjanjian Gencatan Senjata Gaza dan Proses Pertukaran Tahanan

Anggota senior Hamas menyampaikan pernyataan pada Jumat bahwa proses pertukaran tahanan dengan Israel kemungkinan akan dimulai pada Senin, 13 Oktober 2025, berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang telah ditandatangani. Mousa Abu Marzouk, anggota tinggi Hamas, dalam wawancara yang disiarkan melalui televisi mengatakan bahwa proses ini mungkin akan segera dimulai.

Ia menegaskan bahwa Hamas tidak bermaksud untuk melakukan militerisasi atau merayakan proses penyerahan tawanan secara terbuka. Fase pertama dari perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pukul 12.00 siang waktu setempat pada Jumat, sesuai dengan rencana damai yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurut dokumen yang diterbitkan oleh lembaga penyiaran publik Israel, KAN, Hamas akan membebaskan tawanan Israel yang masih hidup dalam waktu 72 jam setelah Israel meratifikasi kesepakatan tersebut. Dokumen tersebut juga menyatakan bahwa Hamas akan memberikan semua informasi yang dimilikinya tentang tawanan Israel yang telah meninggal kepada mekanisme bersama yang dibentuk dengan partisipasi Turki, Qatar, Mesir, dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Dari laporan media dan organisasi hak asasi manusia Palestina dan Israel, diketahui bahwa sekitar 48 tawanan Israel masih berada di Gaza, termasuk 20 orang yang masih hidup. Sementara itu, lebih dari 11.100 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel, mengalami penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis, dengan banyak yang telah meninggal.

Mousa Abu Marzouk menjelaskan bahwa Hamas memiliki banyak kartu negosiasi. Ia mengatakan bahwa berkas tawanan adalah salah satu alasan yang digunakan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membenarkan perang di Gaza. Pemimpin Hamas menegaskan bahwa kelompoknya bekerja sama dengan para mediator untuk mengatasi hambatan dan mengamankan pembebasan para pemimpin Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.

Garis Penarikan dan Keberadaan Pasukan AS

Mousa Abu Marzouk menyampaikan bahwa tentara Israel telah mundur ke "garis kuning" tetapi masih menguasai 53 persen wilayah Jalur Gaza. Ia menilai garis penarikan yang ditetapkan oleh pendudukan tidak akurat dan dibuat secara sewenang-wenang. Ia menegaskan bahwa Hamas tidak akan menerima kehadiran Israel di masa mendatang di wilayah-wilayah yang saat ini dikuasainya.

Selain itu, Mousa Abu Marzouk mengungkapkan bahwa pasukan Amerika Serikat telah dikirim untuk memantau pelaksanaan gencatan senjata. Namun, ia menekankan bahwa pasukan ini tidak akan ditempatkan di Gaza, melainkan di Israel. Tahap selanjutnya akan fokus pada "proyek nasional" dan diskusi mengenai potensi pengerahan pasukan penjaga perdamaian di Gaza dan Tepi Barat.

Berkas Internal Palestina dan Persatuan Nasional

Mousa Abu Marzouk meminta Otoritas Palestina untuk mengadakan pertemuan nasional yang komprehensif guna mencapai konsensus mengenai isu-isu nasional utama. Ia menekankan bahwa persatuan adalah satu-satunya jalan keluar dari krisis Palestina. Ia menegaskan bahwa Hamas menerima rencana gencatan senjata Trump "untuk melindungi kepentingan tertinggi rakyat Palestina."

"Hamas tidak akan memutuskan nasib rakyat Palestina sendirian — ini adalah keputusan kolektif dan nasional yang membutuhkan konsensus penuh."

Trump mengumumkan pada Rabu bahwa Israel dan Hamas menyetujui tahap pertama dari rencana 20 poin yang ia susun pada 29 September untuk membawa gencatan senjata ke Gaza. Rencana tersebut mencakup pembebasan semua tawanan Israel yang ditahan di sana dengan imbalan sekitar 2.000 tahanan Palestina, serta penarikan pasukan Israel secara bertahap dari seluruh Jalur Gaza.

Tahap kedua dari rencana tersebut menyerukan pembentukan mekanisme pemerintahan baru di Gaza tanpa partisipasi Hamas, pembentukan pasukan keamanan yang terdiri dari warga Palestina dan pasukan dari negara-negara Arab dan Islam, serta pelucutan senjata Hamas.

Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina di daerah kantong tersebut, kebanyakan dari mereka wanita dan anak-anak, dan membuatnya tidak dapat dihuni.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar