Google Mengadopsi CCS untuk Pasok Energi Pusat Data

Google Mengadopsi CCS untuk Pasok Energi Pusat Data

Dunia gadget kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Google Mengadopsi CCS untuk Pasok Energi Pusat Data yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kesepakatan Google untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas di Illinois

Google telah menandatangani kesepakatan untuk mendukung pembangunan sebuah pembangkit listrik tenaga gas di Illinois, Amerika Serikat. Proyek ini berfokus pada penggunaan teknologi penangkap dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage atau CCS). Dengan kemitraan ini, Google berupaya memenuhi kebutuhan energi pusat datanya yang terus berkembang. Namun, teknologi ini juga menghadapi kritik terkait efektivitasnya sebagai solusi iklim.

Proyek yang diberi nama Broadwing Energy Center memiliki kapasitas sebesar 400 Megawatt dan dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2030. Google menyatakan bahwa perusahaan akan membeli sebagian besar listrik yang dihasilkan oleh pembangkit tersebut. “Tujuan kami adalah membantu menghadirkan solusi CCS yang menjanjikan ke pasar sambil terus belajar dan berinovasi dengan cepat,” kata Google dalam pernyataannya.

Teknologi CCS dirancang untuk menyaring karbondioksida dari emisi pembangkit dan menyimpannya di bawah tanah agar tidak masuk ke atmosfer. Meskipun demikian, para ahli menilai CCS masih menghadapi banyak hambatan teknis dan finansial. Metode ini juga berpotensi memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil ketimbang mempercepat transisi menuju energi terbarukan.

Menurut laporan Government Accountability Office (GAO) AS pada 2021, dari hampir US$ 684 juta yang dihabiskan untuk enam proyek CCS di pembangkit batu bara, hanya satu yang berhasil beroperasi karena faktor kelayakan ekonomi.

Perbedaan Proyek Broadwing dengan Proyek CCS Sebelumnya

Proyek Broadwing berbeda dengan proyek CCS sebelumnya di AS yang sempat gagal. Pembangkit ini akan menggunakan gas—yang kini lebih murah daripada batu bara—dan karbondioksida yang ditangkap akan disimpan di sumur sedalam sekitar 1,6 kilometer di bawah tanah, bukan digunakan untuk proyek enhanced oil recovery. Google mengklaim bahwa Broadwing mampu menyimpan hingga 90 persen emisi karbon yang dihasilkan, angka yang lebih tinggi dibanding banyak proyek CCS lainnya.

Meski demikian, penggunaan gas tetap menimbulkan persoalan lingkungan. Bahan bakar yang disebut “gas alam” itu sebagian besar mengandung metana—gas rumah kaca yang lebih kuat daripada karbon dioksida—dan rawan bocor dari sumur maupun jaringan pipa. Pembangkit gas juga menghasilkan polutan udara lain yang berisiko bagi kesehatan masyarakat sekitar, sementara tenaga surya dan angin tidak menimbulkan polusi serupa serta kian kompetitif dari sisi biaya.

Google sebagai Pembeli Energi Terbarukan Terbesar

Google selama ini menjadi salah satu pembeli energi terbarukan terbesar di dunia, berkontribusi pada pesatnya pertumbuhan energi surya dan angin. Namun, langkah perusahaan kali ini muncul di tengah kebijakan pemerintahan Donald Trump yang cenderung mendukung bahan bakar fosil dan memangkas insentif bagi energi terbarukan.

Partai Republik kini juga mulai menghapus insentif pajak untuk proyek tenaga surya dan angin, tetapi tidak untuk CCS. Teknologi CCS disebut masih membutuhkan dukungan finansial besar agar dapat berkembang. Kini CCS disokong entitas sebesar Google yang tengah berupaya menekan jejak karbonnya sambil memperluas ambisi di bidang AI.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar