
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Mengapa Kita Sering Merasa Tersinggung Saat Film Favorit Dikritik?
Pernahkah kamu merasa marah, baper, atau tersinggung ketika film yang kamu cintai mendapat ulasan negatif? Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga sering muncul dalam berbagai diskusi tentang seni dan karya kreatif. Contohnya, saat Variety, salah satu media film ternama di dunia, memberikan ulasan negatif terhadap film Sore: Istri dari Masa Depan, hampir bersamaan dengan pengumuman shortlist Oscar beberapa hari lalu.
Kritik tersebut memicu perdebatan sengit di media sosial. Netizen terbagi menjadi dua kelompok utama. Yang pertama adalah mereka yang sejak awal tidak menyukai film tersebut dan merasa bahwa kritik itu memberi validasi atas ketidaksukaan mereka. Sementara yang kedua adalah para penggemar setia film ini, yang merasa bahwa kritik tersebut terlalu keras, tidak memahami konteks budaya, atau bahkan seperti serangan terhadap selera mereka.
Namun, jika kita melihat secara objektif, mengapa kritik terhadap sebuah karya seni bisa memicu reaksi emosional yang begitu personal?
Film sebagai Ekstensi Identitas Pribadi
Akar dari rasa baper ini sebenarnya terletak pada identitas. Ketika kita sangat menyukai sebuah karya seni—baik itu musik, buku, atau film—karya tersebut tidak lagi menjadi sekadar objek di luar diri kita. Ia masuk ke dalam ruang privat identitas kita. Kita merasa film tersebut mewakili nilai-nilai kita, perasaan kita, atau bahkan cara kita memandang dunia.
Ketika kritikus menulis bahwa Sore gagal secara naratif atau teknis, otak emosional kita sering kali tidak dapat memisahkan antara kritik terhadap objek (film) dan kritik terhadap subjek (kita sebagai penikmat). Tanpa sadar, kita menerjemahkan ulasan buruk tersebut menjadi "seleramu buruk" atau "nilai-nilai yang kamu percayai dalam film ini salah".
Inilah yang memicu mekanisme pertahanan diri. Kita merasa sedang diserang secara personal, padahal sang kritikus hanya sedang membedah sebuah produk kreatif.
Perbedaan Lensa Pandang
Dalam diskursus seni, penting untuk menyadari bahwa sebuah film adalah objek yang sama, yang bisa dilihat dari lensa yang berbeda. Seorang kritikus dari Variety menonton film dengan lensa profesional-global. Mereka membandingkan Sore dengan standar industri Hollywood, tren narasi global, dan kebaruan ide di tingkat internasional.
Di sisi lain, kita mungkin menontonnya dengan lensa emosional-kultural. Kita boleh jadi merasakan kedekatan dialog, keindahan visual yang fresh, atau nostalgia cerita yang pernah menemani hari-hari kita.
Keduanya benar dalam ruang masing-masing. Persoalannya adalah ketika salah satu pihak merasa sudut pandangnya adalah kebenaran mutlak.
Confirmation Bias dan Kegaduhan Media Sosial
Kegaduhan netizen dalam kasus Sore juga diperparah oleh adanya confirmation bias (bias konfirmasi) di media sosial. Kelompok yang tidak menyukai film tersebut membagikan ulasan Variety dengan narasi seperti "Tuh kan, media internasional aja bilang jelek". Mereka mencari validasi atas ketidaksukaan mereka.
Sebaliknya, penggemar mencari celah dalam ulasan tersebut, dan ada yang menganggap kritikus barat tidak paham budaya Indonesia, untuk mempertahankan keyakinan mereka.
Kegaduhan ini menunjukkan bahwa kita sering kali lebih peduli pada "siapa yang menang dalam argumen" daripada esensi dari kritik itu sendiri.
Kritik Seharusnya Menjadi Ruang Diskusi
Kritik seharusnya menjadi ruang diskusi untuk memperkaya pemahaman kita tentang film, bukan menjadi arena perang untuk menjatuhkan selera orang lain.
Kritik negatif dari media sebesar Variety sebenarnya adalah tanda bahwa sinema kita sedang diperhatikan. Jika sebuah film tidak memiliki kualitas atau potensi, ia bahkan tidak akan diberi ruang untuk diulas oleh kritikus global.
Belajar Menerima Kritik Tanpa Rasa Sakit
Kita perlu belajar memisahkan antara apresiasi emosional dan evaluasi teknis. Kita bisa tetap mencintai Sore secara personal, sambil mengakui bahwa secara teknis atau naratif, mungkin ada poin-poin keberatan yang masuk akal dari sudut pandang kritikus profesional.
Menyukai sesuatu yang "cacat" secara teknis itu sah-sah saja. Itulah keindahan seni yang subjektif.
Pada akhirnya, sebuah ulasan film hanyalah satu perspektif dalam lautan opini. Ia tidak seharusnya mengurangi kebahagiaan yang kita rasakan saat menontonnya. Jika kita tidak diserang secara personal, maka tidak ada alasan untuk merasa tersakiti. Menghargai perbedaan sudut pandang tanpa harus baper adalah langkah awal menuju diskusi seni kreatif yang lebih dewasa dan terbuka.
Komentar
Kirim Komentar