Cara Menggunakan AI Gemini Seperti Ahli - ChatGPT ala Freddie Kashawan

Cara Menggunakan AI Gemini Seperti Ahli - ChatGPT ala Freddie Kashawan

Dunia gadget kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Cara Menggunakan AI Gemini Seperti Ahli - ChatGPT ala Freddie Kashawan yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Banyak orang merasa kecewa dengan hasil yang diberikan oleh ChatGPT hingga Google Gemini, karena sering kali tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Namun, sebenarnya masalahnya bukan terletak pada AI itu sendiri, melainkan pada cara kita berkomunikasi dengan alat tersebut. Output yang dihasilkan oleh AI sangat bergantung pada input yang diberikan. Jika instruksinya tidak jelas, maka output yang diperoleh pun akan sulit untuk tajam, relevan, dan berkualitas.

Freddie Kashawan, seorang AI Content Creator dan praktisi bisnis, memiliki pendekatan yang tepat dalam melakukan prompting. Kuncinya adalah membuat prompt yang jelas dan terstruktur. Menurutnya, ada rumus sederhana yang mudah diingat sebelum melakukan prompting. Ingatlah T-C-R-E-I.

Rumus ini merupakan singkatan dari Task (Tugas), Context (Cerita Pendukung), Reference (Referensi), Evaluate (Evaluasi), dan Iterate (Ulangi). Ini adalah langkah-langkah sederhana agar AI dapat memahami maksud kita tanpa perlu mengulang proses prompting terus-menerus.

T = Task (Tugas)

Jelaskan secara tegas apa yang ingin Anda minta AI kerjakan. Misalnya, menulis daftar, artikel, atau membuat naskah video. Tambahkan juga informasi tentang siapa target pembaca dan format hasil yang diinginkan. Contohnya: “Kamu adalah jurnalis teknologi, tulis artikel tiga paragraf tentang tren AI di Indonesia.”

C = Context (Cerita Pendukung)

Semakin lengkap konteks yang Anda berikan, semakin baik AI menyesuaikan gaya jawabannya. Freddie menjelaskan bahwa AI bukanlah cendekiawan yang bisa menebak pikiran Anda. Ia membutuhkan informasi tentang situasi dan tujuan. Tanpa konteks yang cukup, hasil yang diberikan bisa jadi tidak akurat atau bahkan "ngawur."

R = Reference (Referensi)

Ini adalah cara tercepat untuk membuat AI "menangkap vibe" yang Anda inginkan, seperti contoh teks, gaya, atau tone tertentu. Berikan contoh yang jelas dan pastikan bahwa itu hanya sebagai referensi, bukan sekadar tempelan. Dengan begitu, AI bisa meniru pola tersebut tanpa keluar jalur.

E = Evaluate (Evaluasi)

Jangan langsung menerima hasil pertama—cek terlebih dahulu apakah output sudah sesuai dengan tone, akurat, dan bebas dari kata halusinasi. AI bukan manusia, sehingga membutuhkan validasi terus-menerus. Jika hasilnya masih meleset, lanjutkan ke langkah terakhir.

I = Iterate (Ulangi)

Bagi Freddie, prompting itu seperti resep—tidak selalu sempurna di percobaan pertama. Namun, semakin sering Anda mengubah dan menguji ulang, hasilnya akan semakin presisi dan sesuai dengan ekspektasi.

Jangan berharap AI bisa memahami apa yang Anda mau tanpa arahan detail. Gunakan formula T-C-R-E-I agar output yang dihasilkan tidak hanya keren, tetapi juga tepat sasaran dan dapat digunakan dalam dunia nyata.

Metode ini bisa diterapkan di semua tools AI—mulai dari ChatGPT hingga AI image generator. "AI tidak ajaib, tapi dia akan menjadi ajaib jika kamu mengajarkannya dengan cara yang tepat," kata Freddie.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar