AS Menyita Kapal Tanker Minyak di Laut Venezuela, Bawa 1,8 Juta Barel

AS Menyita Kapal Tanker Minyak di Laut Venezuela, Bawa 1,8 Juta Barel

Jagat maya sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang ingin tahu kebenaran di balik AS Menyita Kapal Tanker Minyak di Laut Venezuela, Bawa 1,8 Juta Barel. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.


WASHINGTON, aiotrade
- Amerika Serikat (AS) kembali mencegat dan menyita kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela pada hari Sabtu (20/12/2025).
Penyitaan ini telah dikonfirmasi oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, dalam pernyataannya yang diunggah ke media sosial. Ia mengatakan bahwa AS akan terus mengejar pergerakan ilegal minyak yang dikenai sanksi yang digunakan untuk mendanai terorisme narkoba di wilayah tersebut.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

"Kami akan menemukan Anda, dan kami akan menghentikan Anda," tambahnya.

Kapal Berbendera Panama

Ini menjadi penyitaan kedua dalam seminggu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade terhadap kapal tanker minyak yang dikenai sanksi, baik menuju maupun meninggalkan Venezuela. Perusahaan manajemen risiko maritim Inggris, Vanguard, mengatakan bahwa kapal tersebut diyakini sebagai Centuries berbendera Panama yang dicegat di sebelah timur Barbados di Laut Karibia.

Namun, hingga saat ini belum jelas apakah kapal yang disita itu berada di bawah sanksi AS atau tidak. Kapal Centuries disebut melakukan pemuatan di Venezuela dengan nama samaran "Crag".

Berdasarkan dokumen internal dari perusahaan minyak negara PDVSA, penjual minyak tersebut, kapal ini merupakan bagian dari armada gelap, membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah Venezuelan Merey yang akan dikirim ke China.

Menurut sumber perusahaan dan citra satelit yang diperoleh oleh TankerTrackers.com, kapal tersebut meninggalkan perairan Venezuela pada Rabu (17/12/2025) setelah sempat dikawal oleh angkatan laut Venezuela. Minyak mentah tersebut dibeli oleh Satau Tijana Oil Trading, salah satu dari banyak perantara yang terlibat dalam penjualan PDVSA kepada kilang independen China.

Pasar Minyak Venezuela Anjlok

Sejak pasukan AS menyita kapal tanker minyak yang dikenai sanksi di lepas pantai Venezuela pekan lalu, embargo efektif telah diberlakukan. Kapal-kapal bermuatan jutaan barel minyak pun memilih tetap berada di perairan Venezuela, mencegah risiko penyitaan.

Sejak penyitaan pertama, ekspor minyak mentah Venezuela telah anjlok tajam. Meskipun banyak kapal yang mengambil minyak di Venezuela berada di bawah sanksi, kapal-kapal lain yang mengangkut minyak dari Iran dan Rusia tidak dikenai sanksi.

Beberapa perusahaan, khususnya Chevron dari AS, mengangkut minyak Venezuela dengan kapal-kapal milik mereka sendiri yang telah mendapat izin. China adalah pembeli terbesar minyak mentah Venezuela yang menyumbang sekitar 4 persen dari total impornya.

Menurut para analis, pengiriman ke China pada Desember diperkirakan rata-rata lebih dari 600.000 barel per hari.

Kondisi Ekonomi dan Politik

Penyitaan kapal tanker minyak ini menunjukkan ketegangan antara AS dan Venezuela, yang semakin memburuk akibat sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh pemerintahan AS. Pihak AS berargumen bahwa tindakan ini bertujuan untuk menghentikan aliran dana yang digunakan untuk mendukung aktivitas ilegal di kawasan tersebut.

Sementara itu, pihak Venezuela menganggap tindakan AS sebagai intervensi yang tidak sah dan melanggar kedaulatan negara mereka. Hal ini juga memicu reaksi dari negara-negara lain yang menjalin hubungan dagang dengan Venezuela, termasuk China dan beberapa negara Eropa.

Tantangan bagi Perekonomian Venezuela

Ekspor minyak yang menurun drastis memberi dampak besar pada perekonomian Venezuela, yang sudah terpuruk selama bertahun-tahun. Kenaikan harga minyak global seiring dengan keterbatasan ekspor membuat situasi semakin sulit.

Selain itu, adanya ancaman penyitaan kapal tanker minyak memperkuat ketidakpastian di pasar minyak internasional. Para pemain bisnis mulai mencari alternatif jalur pengiriman dan mitra dagang baru untuk menghindari risiko yang sama.

Dengan kondisi ini, situasi politik dan ekonomi Venezuela tampaknya akan terus memburuk, terlebih jika sanksi AS tetap berlangsung tanpa ada perubahan signifikan dari pihak pemerintah.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar