Amazon Akan Gantikan Karyawan dengan Robot, Lulusan Kesulitan Cari Pekerjaan?

Amazon Akan Gantikan Karyawan dengan Robot, Lulusan Kesulitan Cari Pekerjaan?

Pasar smartphone kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Amazon Akan Gantikan Karyawan dengan Robot, Lulusan Kesulitan Cari Pekerjaan? yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perubahan Besar di Dunia Kerja Akibat Kecerdasan Buatan

Amazon, salah satu perusahaan e-commerce terbesar di dunia, telah mengumumkan rencana besar untuk menggantikan sebagian besar pekerja manusia dengan sistem robotik dan kecerdasan buatan (AI) dalam dekade mendatang. Langkah ini diharapkan akan mengubah struktur tenaga kerja global, khususnya di sektor logistik dan teknologi.

Perusahaan ini berencana untuk menghindari perekrutan hingga 600 ribu pekerja manusia dengan menggantikannya melalui sistem otomasi dan robot sebelum tahun 2033. Saat ini, Amazon telah mengoperasikan lebih dari 750 ribu robot industri di pusat logistiknya di seluruh dunia. Dengan penggunaan teknologi ini, efisiensi dan keamanan kerja di gudang Amazon meningkat secara signifikan.

Namun, langkah ini juga menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak. Para analis memperingatkan bahwa peningkatan efisiensi yang dihasilkan bisa berarti berkurangnya peluang kerja bagi manusia. Di sisi lain, Amazon menyatakan bahwa tujuan utama dari langkah ini adalah untuk "mengurangi beban fisik pekerja" dan meningkatkan produktivitas. Meski demikian, serikat pekerja di AS khawatir bahwa ribuan karyawan kontrak berisiko kehilangan pekerjaan permanen.

Lulusan IT yang Sulit Mendapatkan Pekerjaan

Ironisnya, perkembangan pesat teknologi justru berbanding terbalik dengan nasib sebagian besar lulusan bidang teknologi informasi (TI). Menurut laporan Business Insider, jurusan Ilmu Komputer dan Teknik Komputer kini termasuk dalam daftar jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi di Amerika Serikat. Tingkat pengangguran lulusan ilmu komputer mencapai 6,1 persen, sementara teknik komputer mencapai 7,5 persen, lebih tinggi dibanding banyak jurusan non-teknis lainnya.

Para analis tenaga kerja menilai bahwa ketidakseimbangan antara jumlah lulusan TI dengan kebutuhan industri menjadi penyebab utama masalah ini. Selain itu, banyak perusahaan kini memanfaatkan sistem otomatis dan AI untuk menggantikan posisi entry-level yang dulu diperuntukkan bagi lulusan baru. Fenomena ini memicu kekhawatiran bahwa revolusi teknologi justru menciptakan "krisis kompetensi," di mana lulusan baru tidak lagi memiliki peluang magang atau pengalaman praktis yang cukup.

Perusahaan lebih mengutamakan tenaga kerja berpengalaman daripada pelamar baru meski berasal dari universitas ternama. Hal ini menunjukkan bahwa dunia kerja semakin memperhatikan pengalaman nyata, bukan hanya gelar akademis.

Implikasi bagi Dunia Kerja dan Pendidikan Global

Para pengamat menilai, langkah Amazon menjadi sinyal perubahan besar bagi pasar tenaga kerja global. Industri logistik dan manufaktur diprediksi akan semakin mengandalkan sistem otomatis yang lebih murah, cepat, dan efisien. Namun, di sisi lain, hal ini juga menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan.

Kurikulum perguruan tinggi bidang teknologi kini dituntut untuk tidak hanya berfokus pada penguasaan coding, tetapi juga kemampuan analisis, kolaborasi manusia–mesin, dan etika penggunaan AI. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, tren ini bisa menjadi peringatan dini. Meski industri digital tanah air sedang tumbuh pesat, lulusan IT tanpa pengalaman praktis juga berisiko menghadapi kesulitan serupa di masa depan.

Analis karier dari Harvard Business Review menekankan bahwa keterampilan seperti problem-solving, komunikasi, dan adaptasi teknologi akan menjadi kunci bertahan di tengah disrupsi AI dan robotika. Dengan demikian, masa depan pekerjaan bukan lagi tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar