Orang tua, bukan hanya sekedar label yang menempel erat pada diri mereka, namun kata "orang tua" memiliki artian yang sangat dalam.
Bukan hanya sebatas dua orang dewasa yang membesarkan anak-anaknya, namun dua orang dewasa yang membuat anak-anaknya berhasil menjadi seorang manusia, itulah orang tuaku.
Walaupun aku tahu, aku belum benar-benar menjadi manusia, tetapi karena mereka aku tau bagaimana cara melawan dunia.
Orang tuaku mengajarkanku banyak hal, mulai dari nilai-nilai moral, nilai-nilai kehidupan hingga nilai-nilai agama. Namun, yang paling diterapkan mereka di kehidupan sehari-hariku adalah nilai-nilai agama.
Meskipun terkadang, ajaran agama memang tidak sepenuhnya sejalan denganku, tetapi aku tetap melaksanakannya karena agama memang sudah menjadi bagian diriku.
Orang tuaku adalah tipe orang tua yang religius, berbeda denganku yang kupikir aku tidak terlalu religius karena terkadang beberapa ajaran agama yang disampaikan kepadaku, kurang aku pahami atau bahkan kurang masuk di logikaku. Walaupun memang, tidak semua ajaran agama harus dikaitkan dengan logika, jadi kupikir aku hanyalah seseorang yang spiritual, karena aku sangat percaya pada Tuhan tentunya.
Terlepas dari mereka yang religius, mereka mengajarkanku banyak hal. Bagaimana aku harus melawan dunia. Ayahku selalu menekankan bahwa semua anak-anaknya harus memiliki gelar sarjana, karena ayahku percaya, walaupun mereka sebagai orang tua hanya lulusan SD, tapi anak-anaknya pasti akan menyandang gelar sarjana kelak. Hal tersebut benar-benar menjadi sebuah ambisi bagiku, agar aku dapat menjadi seorang sarjana juga, mewujudkan impian ayahku. Aku sangat bersyukur, karena ketiga kakakku sudah menyandang gelar sarjana berkat jerih payah dari orang tuaku yang hanya seorang petani, mungkin tinggal kakakku yang keempat sedang menempuh pendidikan tinggi, dan aku yang sedang menempuh pendidikan SMA.
Semangat mereka yang mendorongku untuk menjadi orang yang lebih baik, menjadi orang yang bercita-cita memiliki pendidikan tinggi, agar kelak kami diselimuti oleh kekayaan ilmu, sehingga kami tidak akan direndahkan orang lain.
Selain menjadi seorang petani, orang tuaku adalah seorang guru mengaji di desa kecil. Hal yang membuatku kagum dan senang akan mereka yang menjadi seorang guru mengaji adalah, karena keikhlasan mereka. Jujur saja, mereka tidak dibayar sekalipun. Itu karena orang tuaku yang menjadi guru mengaji sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun lamanya, tanpa bayaran sepeser pun. Entah apa yang membuat mereka tetap bertahan sebagai guru mengaji, walaupun tidak ada upah yang menjanjikan bagi mereka.
Orang tuaku selalu mengajarkan bagaimana cara memanusiakan manusia. Jika ada yang sedang kesulitan, kami akan membantunya sesuai dengan kemampuan kami. Orang tuaku juga selalu mengajarkan kami saling berbagi dengan sesama. Karena orang tuaku memiliki lahan pertanian yang luas, tak jarang para tetangga meminta sedikit bahan makanan dari kami, entah itu cabai, sisa-sisa panen kubis atau bahkan buah-buahan yang ada. Dan tentu saja kami memberinya, karena benar berbagai itu sangat indah.
Ayahku sering mengajarkanku untuk tetap bersih, untuk tetap terjauh dari najis katanya. Terkadang aku kesal karena beliau terlalu ketat, tapi sekarang aku sudah menyadari bahwa itulah bagaimana cara beliau untuk tetap menjaga kami terjauh dari kotoran, entah itu tempat, pakaian ataupun diri sendiri.
Sehingga, ajaran-ajaran yang mereka ajarkan padaku menjadi dasar yang membentuk bagaimana diriku yang sekarang. Bukan hanya mengajarkanku tentang bagaimana hidup senang, tapi mereka juga mengajarkan bagaimana aku harus melawan dunia.


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!