
SIKKA, aiotrade.app
- Sebuah video yang menunjukkan adanya ulat pada menu Makan Begizi Gratis (MBG) beredar di media sosial.
Tampak dalam video tersebut, seekor ulat hidup diletakkan di dekat food tray MBG yang berisikan nasi kuning dan menu lainnya.
Peristiwa tersebut terjadi di SMA Frater Maumere pada Senin (6/10/2025).
MBG di sekolah tersebut disuplai dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Uneng.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Asisten Lapangan SPPG Kota Uneng, Paulus Nining Poe menyampaikan bahwa pihaknya telah mengonfirmasi ke pihak sekolah terkait temuan tersebut.
"Kami sudah ke sekolah dan kami dapat ada lima video yang menunjukkan ada ulat mati dan hidup pada menu MBG. Video tersebut kami dapat dari guru, dan guru itu mengaku dapat dari siswa," katanya.
Paulus mengaku kesulitan mendapatkan data yang valid karena tidak menemukan barang bukti.
Meski demikian, pihaknya memastikan untuk mendalami kasus tersebut.
"Kami sudah bersepakat dengan pihak sekolah, besok itu kami akan bertemu dengan tiga orang siswa yang diduga menemukan ulat pada menu MBG. Kita masih lakukan investigasi," ujarnya.
Paulus menegaskan, investigasi penting dilakukan untuk menemukan titik masalah, sehingga tidak berasumsi dari video yang beredar.
Kepala SPPG Kota Uneng, Yustinus Albertino melaporkan bahwa jumlah penerima manfaat di SMA Frater sebanyak 711 orang.
"Untuk menu hari ini, yaitu nasi kuning, ikan goreng sajiku, tahu saus tomat, oseng-oseng wortel tamba sayur buncis, dan semangka," ujar dia.
Penyebab Potensi Kekurangan Kebersihan
Beberapa faktor bisa menjadi penyebab munculnya ulat di dalam menu MBG. Pertama, kurangnya pengawasan selama proses pengolahan makanan. Jika sanitasi di dapur tidak diperhatikan, kemungkinan besar makanan akan terkontaminasi oleh serangga atau benda asing.
Selain itu, sistem distribusi makanan juga perlu diperiksa. Apakah makanan yang disajikan di sekolah sudah melalui proses penyimpanan dan pengangkutan yang sesuai dengan standar higienis.
Berdasarkan pengamatan, keberadaan ulat dalam makanan sangat mengkhawatirkan. Ulat bisa membawa kuman dan bakteri yang berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan atau penyakit lainnya.
Langkah yang Dilakukan oleh Pihak Sekolah dan SPPG
Pihak sekolah dan SPPG Kota Uneng telah menanggapi isu ini secara serius. Mereka melakukan investigasi untuk mengetahui apakah kejadian ini hanya sekali atau terjadi berulang.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
Memanggil tiga siswa yang diduga menemukan ulat di dalam makanan.
Melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap proses pengolahan dan penyajian makanan.
* Mengajak pihak sekolah untuk meningkatkan pengawasan terhadap kualitas makanan.
Dari hasil investigasi ini, diharapkan bisa ditemukan solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terulang.
Pentingnya Kesadaran Bersama
Masalah seperti ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga kesehatan dan kebersihan makanan. Tidak hanya tanggung jawab pihak sekolah dan SPPG, tetapi juga para siswa dan keluarga.
Masyarakat bisa ikut serta dalam memantau kualitas makanan yang disajikan, terutama bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Kesiapan SPPG untuk Menangani Masalah
Yustinus Albertino menegaskan bahwa pihak SPPG siap bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memperbaiki sistem penyediaan makanan.
"Kami akan terus memastikan bahwa semua makanan yang disajikan kepada siswa aman dan bergizi," ujarnya.
Dengan kerja sama yang baik, diharapkan masalah seperti ini bisa segera diatasi dan tidak mengganggu kesehatan para siswa.
Komentar
Kirim Komentar