UMY Soroti Generasi Cemas di Era Digital

Dunia gadget kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada UMY Soroti Generasi Cemas di Era Digital yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.
UMY Soroti Generasi Cemas di Era Digital

Fenomena Generasi Cemas di Era Digital

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengamati munculnya fenomena yang dikenal sebagai The Anxious Generation atau generasi cemas. Fenomena ini semakin umum dialami oleh anak muda di era digital, terutama mereka yang tumbuh dalam lingkungan sosial yang sangat bergantung pada layar gawai. Hal ini berdampak pada proses pembentukan jati diri dan kemampuan sosial mereka.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Prof. Faris Al-Fadhat, M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa perubahan pola tumbuh kembang anak menjadi akar dari munculnya fenomena ini. Menurutnya, anak-anak yang lahir antara tahun 2010–2015 kini menjadi mahasiswa UMY. Mereka mengalami pergeseran dari play-based childhood menjadi fun-based childhood. Artinya, mereka tidak lagi bermain bersama teman di lapangan atau lingkungan rumah, melainkan bermain sendiri melalui layar ponsel.

Akibatnya, kemampuan sosial, empati, dan pengendalian diri berkembang dalam konteks yang sangat berbeda. Kondisi ini membuat generasi muda semakin rentan terhadap rasa cemas dan kesepian, meskipun secara digital mereka tampak terhubung dengan banyak orang. Paparan media sosial yang berlebihan turut memperburuk keadaan dengan menciptakan standar kebahagiaan dan kesuksesan yang semu.

“Terlalu banyak waktu di depan layar mengubah cara berpikir, cara berinteraksi, bahkan cara seseorang menilai dirinya sendiri. Generasi digital sering tampak percaya diri di dunia maya, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan kenyataan sosial di dunia nyata,” tambah Faris.

Tantangan Besar Generasi Muda

Selain meningkatnya kecemasan, Faris juga menyoroti krisis kepemimpinan dan lemahnya soft skills sebagai tantangan besar generasi muda saat ini. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar lulusan muda gagal bertahan di dunia kerja bukan karena kurangnya kemampuan teknis, melainkan karena minimnya keterampilan sosial.

“Dari sepuluh lulusan baru yang memasuki dunia kerja, enam di antaranya gagal bertahan karena kurang memiliki keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan pengalaman sosial. Mereka tidak terbiasa bekerja dalam tim, berorganisasi, atau menghadapi tekanan sosial. Ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan agar tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik,” terangnya.

Faris menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai ruang pembentukan karakter dan kesiapan sosial mahasiswa. Kampus, menurutnya, harus menjadi tempat tumbuhnya empati, relasi sehat, serta kepemimpinan berbasis nilai moral dan akhlak karimah.

“Akhlak karimah hanya dapat tumbuh jika seseorang hidup di tengah masyarakat, berinteraksi, dan memberi manfaat bagi orang lain. Kepemimpinan tidak muncul dari teori atau pelatihan singkat, melainkan dari proses panjang untuk belajar, mendengarkan, dan meneladani,” ujarnya.

Solusi untuk Krisis Sosial Generasi Muda

Sebagai penutup, Faris menegaskan bahwa solusi terhadap krisis sosial generasi muda bukan dengan menjauh dari teknologi, melainkan dengan menggunakannya secara seimbang dan sadar. Ia menekankan bahwa menjadi manusia terbaik tidak mungkin tanpa proses belajar terus-menerus. Manusia yang bermanfaat adalah mereka yang mau tumbuh, mau berinteraksi, dan mau memberi makna bagi lingkungannya.

Peran Perguruan Tinggi dalam Pembentukan Karakter

Perguruan tinggi memiliki peran vital dalam membentuk karakter dan kesiapan sosial mahasiswa. Dalam hal ini, UMY menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan soft skills dan nilai-nilai moral. Mahasiswa perlu dilatih untuk menjadi individu yang tangguh, mampu beradaptasi, serta mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.

Beberapa langkah yang dapat diambil oleh perguruan tinggi antara lain:

  • Mengintegrasikan program pengembangan kepemimpinan dalam kurikulum.
  • Mendorong partisipasi mahasiswa dalam kegiatan sosial dan organisasi.
  • Memberikan pelatihan keterampilan komunikasi dan kerja sama tim.
  • Membuka ruang dialog antara mahasiswa dan dosen untuk saling memahami kebutuhan dan harapan.

Dengan demikian, generasi muda dapat lebih siap menghadapi tantangan di dunia nyata, baik dalam bidang profesional maupun sosial.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar