Ukraina, Penghasil Bijian Terbesar Kedua Eropa di Tengah Perang

Ukraina, Penghasil Bijian Terbesar Kedua Eropa di Tengah Perang

Kabar dunia hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Ukraina, Penghasil Bijian Terbesar Kedua Eropa di Tengah Perang tengah menjadi sorotan dunia. Berikut laporan selengkapnya.

Ukraina Mengklaim Posisi sebagai Produsen Biji-Bijian Terbesar di Eropa

Kementerian Ekonomi Ukraina mengumumkan keberhasilan memproduksi 57,6 juta ton biji-bijian di tengah perang. Dengan pencapaian ini, Ukraina berhasil menempatkan diri sebagai produsen biji-bijian terbesar di Eropa, hanya kalah dari Prancis.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Sebagai informasi, Ukraina dikenal sebagai salah satu negara penghasil pertanian utama, terutama biji-bijian terbesar di Eropa. Namun, invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina telah menyebabkan berbagai tantangan dalam produksi pertanian.

Produksi Jagung dan Biji Bunga Matahari Meningkat


Biji-bijian terbesar yang diproduksi Ukraina pada tahun ini adalah jagung dan biji bunga matahari. Negara Eropa Timur ini berhasil memproduksi 23,5 juta ton jagung dan 9 juta ton biji bunga matahari sepanjang 2025.

Menurut Wakil Menteri Ekonomi Ukraina, Taras Vysotskyi, rerata hasil pertanian di Ukraina turun 14 persen dibanding rerata negara-negara Uni Eropa (UE). Meskipun demikian, ia yakin bahwa Ukraina dapat meningkatkan produksi melalui investasi dan pengembangan teknologi pertanian.

Vysotskyi juga menyatakan bahwa tingginya produksi biji-bijian Ukraina bukanlah ancaman bagi sektor pertanian UE. Justru, hasil pertanian Ukraina akan menjadi penguat stabilitas dan ketahanan pangan global.

Penurunan Produksi Pertanian di Tengah Konflik


Badan Statistik Ukraina menyebut bahwa indeks produksi pertanian di negaranya hanya sebesar 93,4 persen atau turun 6,6 persen dibanding tahun lalu. Penurunan produksi ini disebabkan oleh penurunan produksi hasil peternakan yang turun 3,8 persen.

Wilayah yang paling terdampak penurunan volume produksi pertanian adalah Donetsk, yang turun 57,4 persen dibandingkan tahun lalu. Selain di Donetsk, penurunan juga terjadi di Kherson dan Dnipropetrovsk, yang terdampak perang.

Larangan Impor Barang Asal Rusia Diperpanjang


Sekretariat Kabinet Ukraina memutuskan untuk memperpanjang larangan impor barang dari Rusia hingga 31 Desember 2026. Keputusan ini dilakukan untuk memperbarui larangan sejak 2015, dengan tujuan memberikan tekanan ekonomi kepada Rusia.

Sejak 2015, Sekretariat Kabinet Ukraina sudah menerapkan dua resolusi pembatasan perdagangan dengan Rusia. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap serangan Rusia ke Ukraina bagian timur dan pembatalan Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Rusia.

Dalam konteks yang lebih luas, situasi di Ukraina terus berubah seiring konflik yang berlangsung. Berbagai kebijakan dan keputusan pemerintah terus diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan. Di sisi lain, Rusia juga mengambil langkah-langkah strategis, seperti menaikkan kuota ekspor biji-bijian menjadi 20 juta ton pada 2026.

Selain itu, beberapa insiden penting juga terjadi, seperti serangan drone terhadap rumah Vladimir Putin dan perpanjangan larangan ekspor bensin hingga akhir Februari 2026. Semua hal ini menunjukkan dinamika yang kompleks dalam situasi politik dan ekonomi di kawasan tersebut.

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Ikuti terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar