
JEMBER, aiotrade
Pada bulan Oktober 2025, kampus Universitas Jember (Unej) mengungkap adanya praktik perjokian dalam ujian Computer Based English Proficiency Test (CBEPT) yang serupa dengan TOEFL. Ujian ini merupakan prasyarat bagi mahasiswa Unej yang telah lulus sidang untuk bisa mendaftar wisuda.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Operasi tangkap tangan dilakukan oleh Tim Cyber Unit UPA Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Unej pada Kamis, 16 Oktober 2025. Dalam operasi tersebut, empat pelaku diduga menjadi joki ujian dan tujuh pengguna joki berhasil ditangkap. Para pelaku berasal dari berbagai kalangan, termasuk alumnus dan mahasiswa Unej.
Modus perjokian dilakukan dengan memanfaatkan identitas login milik mahasiswa. Peserta hadir di ruangan ujian, tetapi sistem diakses oleh joki dari tempat lain. Beberapa metode digunakan, seperti sistem injeksi, remote, dan bantuan AI seperti ChatGPT.
Dari penelusuran tim, terdapat tujuh peserta yang tertangkap basah menggunakan jasa joki. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah. Tarif jasa joki bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 200.000 per orang. Beberapa pelaku bahkan menerima bayaran lewat sistem down payment (DP) terlebih dahulu.
“Sebagian kasus, ada yang kasihan kepada mahasiswa yang tidak lulus-lulus, tapi itu tetap tidak bisa dibenarkan,” ujar Kepala UPA TIK Unej Bayu Taruna Widjaja Putra.
Kampus kini tengah menelusuri jalur komunikasi antara peserta dan joki. Dari temuan awal, mereka berinteraksi melalui aplikasi seperti Instagram, WhatsApp, dan Telegram dengan nomor tidak dikenal. Para pelaku joki bukan berasal dari program studi Bahasa Inggris. Salah satu joki bahkan disebut sebagai sosok yang cukup canggih karena mampu melakukan injeksi ke dalam sistem menggunakan kredensial mahasiswa.
“Dia pakai teknik scripting untuk menyusup ke sistem ujian,” ucap Bayu.
Sementara itu, Kepala UPA Bahasa Inggris Unej, Prof Chairus Shaleh menyatakan bahwa pihak kampus tidak hanya menindak peserta dan penjoki, tetapi juga akan mengejar makelar yang memfasilitasi transaksi ini.
“Siapa pun yang terlibat, baik peserta, joki, maupun makelar, pasti akan kami usut dan kenai sanksi,” ujar Chairus.
Kebijakan satu login
Pihaknya telah menyerahkan temuan kasus tersebut kepada tim etik Unej. Pihak kampus sedang mempertimbangkan sistem keamanan baru, yakni kebijakan satu login satu sesi, demi mencegah login ganda dari perangkat berbeda.
“Kalau satu akun hanya bisa aktif di satu perangkat, joki dari luar tidak bisa masuk meskipun punya kredensial,” kata Bayu.
Unej juga membuka kemungkinan membawa kasus ini ke ranah hukum, terutama bila pelaku bukan lagi mahasiswa aktif. “Kalau masih mahasiswa, ada pembinaan. Tapi kalau alumni, bisa masuk ranah aparat penegak hukum,” ujarnya.
Tak hanya berhenti pada ujian bahasa Inggris, kampus juga akan memperluas penyelidikan ke dugaan joki tugas, skripsi, dan penggunaan kecerdasan buatan dalam karya ilmiah.
“Ke depan, skripsi dan tugas-tugas juga akan kami periksa, termasuk apakah ada unsur AI di dalamnya,” ujarnya.
Unej berkomitmen membentuk komisi etik untuk menindaklanjuti seluruh bentuk pelanggaran akademik yang ditemukan.
Komentar
Kirim Komentar