Turki Jembatani Damai Pakistan-Afghanistan Setelah Sukses Pertemukan Ukraina-Rusia

Turki Jembatani Damai Pakistan-Afghanistan Setelah Sukses Pertemukan Ukraina-Rusia

Kabar pemerintahan kembali hangat diperbincangkan. Mengenai Turki Jembatani Damai Pakistan-Afghanistan Setelah Sukses Pertemukan Ukraina-Rusia, publik menanti dampak dan realisasinya. Simak laporannya.

Peran Turki sebagai Mediator dalam Konflik Pakistan-Afghanistan

Turki kembali menegaskan perannya sebagai mediator yang berpengaruh dalam meredakan ketegangan global. Kali ini, fokus diplomasi Ankara diarahkan untuk mendamaikan dua tetangganya yang sedang berkonflik, Pakistan dan Afghanistan, yang terlibat dalam bentrokan perbatasan. Upaya ini secara efektif menguntungkan reputasi Turki sebagai aktor geopolitik yang menyejukkan di tengah polarisasi yang terjadi di berbagai kawasan dunia.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Keberhasilan Diplomasi Turki dalam Krisis Ukraina

Turki telah mencatat keberhasilan diplomatik yang signifikan dalam memediasi konflik besar antara Rusia dan Ukraina. Pada tahap awal invasi, Turki menjadi tuan rumah bagi beberapa putaran pembicaraan damai, termasuk pertemuan tingkat tinggi antara menteri luar negeri kedua negara di Antalya pada Maret 2022. Puncak keberhasilan mediasi Turki terjadi di Istanbul pada 22 Juli 2022, ketika PBB, Turki, Rusia, dan Ukraina menandatangani Black Sea Grain Initiative (Inisiatif Biji-bijian Laut Hitam). Perjanjian ini membuka blokade ekspor biji-bijian Ukraina yang vital melalui Laut Hitam, meredakan krisis pangan global, dan menunjukkan peran krusial Turki sebagai jembatan diplomatik yang netral.

Inisiatif Baru untuk Menenangkan Ketegangan Pakistan-Afghanistan

Kini, Turki kembali menerapkan pendekatan diplomatik yang sama untuk meredakan ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan yang memanas sejak Oktober 2025. Melalui inisiatif Presiden Erdogan, Turki menjadi fasilitator pembicaraan yang bertujuan mencapai gencatan senjata dan stabilitas di perbatasan Garis Durand. Delegasi tingkat tinggi Turki dijadwalkan mengunjungi Pakistan pada pertengahan November 2025 untuk mengawal proses ini. Keberhasilan dalam memediasi krisis pangan Ukraina dan upayanya saat ini dalam mendamaikan Afghanistan-Pakistan memperkuat reputasi Turki sebagai aktor geopolitik yang efektif dan menyejukkan di tengah polarisasi global.

Visi Presiden Erdogan dalam Pembicaraan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan bahwa delegasi tingkat tinggi yang terdiri atas menteri luar negeri, menteri pertahanan, dan kepala intelijen Ibrahim Kalin akan mengunjungi Pakistan pekan depan. Misi utama mereka adalah mengawal tercapainya gencatan senjata yang langgeng antara Pakistan dan Afghanistan. Langkah ini merupakan kelanjutan dari putaran ketiga pembicaraan yang sebelumnya telah dimulai di Istanbul. Negosiasi tersebut bertujuan mencari solusi konkret untuk mengurangi bentrokan di perbatasan Garis Durand, mencegah serangan lintas batas, serta memperkuat kerja sama dalam memerangi terorisme yang menjadi momok bersama.

Sejarah dan Sumber Konflik Garis Durand

Garis Durand (Durand Line) adalah perbatasan darat internasional yang disengketakan dan membentang sepanjang 2.640 kilometer, memisahkan Afghanistan dan Pakistan. Garis ini ditetapkan pada tahun 1893 melalui perjanjian antara Sir Mortimer Durand dari pihak Inggris-India dan Emir Abdur Rahman Khan dari Afghanistan, dengan tujuan membatasi lingkup pengaruh mereka di wilayah tersebut. Namun, garis ini memotong wilayah etnis Pashtun menjadi dua, menyebabkan konflik identitas dan penolakan keras dari pemerintah Afghanistan yang tidak pernah mengakui keabsahan perbatasan tersebut, menjadikannya salah satu titik konflik geopolitik paling sensitif di Asia Selatan.


Ilustrasi anak dan dewasa terdampak konflik Afghanistan - Pakistan. - (AP Photo/Dar Yasin)

Perselisihan Perbatasan dan Dampaknya

Konflik antara Pakistan dan Afghanistan berakar dari sejarah kolonial dan demografi etnis yang kompleks, berpusat pada penolakan Afghanistan untuk mengakui Garis Durand. Garis perbatasan sepanjang 2.640 kilometer ini, yang ditarik oleh Inggris pada tahun 1893, membagi wilayah etnis Pashtun menjadi dua bagian di sisi perbatasan yang berbeda. Bagi Afghanistan, garis ini adalah warisan kolonial yang tidak sah, sementara Pakistan menganggapnya sebagai perbatasan internasional resmi, menciptakan perselisihan kedaulatan yang fundamental. Perselisihan ini memicu ketegangan diplomatik dan militer yang berulang selama puluhan tahun. Afghanistan secara historis mendukung gerakan separatis di wilayah Pashtun di Pakistan, yang dikenal sebagai "Pashtunistan," sementara Pakistan menuduh Afghanistan mengizinkan kelompok militan menggunakan wilayahnya untuk melancarkan serangan lintas batas ke Pakistan. Kurangnya kepercayaan antarkedua negara ini menjadi penghalang utama bagi hubungan bilateral yang stabil.


Pasukan Taliban Afghanistan. - (EPA-EFE/SAMIULLAH POPAL)

Faktor Taliban dan Eskalasi Terbaru

Faktor Taliban memperumit konflik secara signifikan. Selama perang saudara di Afghanistan pada 1990-an dan setelah invasi AS pada 2001, Pakistan dituduh memberikan dukungan kepada Taliban Afghanistan, yang dilihat Pakistan sebagai penyangga strategis terhadap pengaruh India di Afghanistan. Namun, kebangkitan Taliban Pakistan (Tehrik-i-Taliban Pakistan - TTP) yang melancarkan serangan terhadap Pakistan dari tempat perlindungan di Afghanistan, kini menjadi ancaman keamanan utama bagi Islamabad. Eskalasi terbaru terjadi sejak pertengahan Oktober 2025. Ketegangan meningkat setelah Kabul menuduh Islamabad melanggar wilayah udara dan melancarkan serangan ke wilayah Afghanistan. Afghanistan merespons dengan "operasi balasan" dan menempatkan pasukan keamanan dalam siaga tempur penuh di sepanjang Garis Durand, memicu kembali kekerasan dan kekhawatiran akan perang terbuka.


Pergerakan Taliban

Upaya Mediasi dan Peran Turki

Sebagai respons terhadap ketegangan tersebut, negosiasi yang difasilitasi oleh Qatar dan Turki mulai berjalan. Tujuannya adalah mencari solusi untuk mengurangi bentrokan di perbatasan, mencegah serangan lintas batas, dan memperkuat kerja sama dalam memerangi terorisme. Dialog ini menunjukkan adanya upaya serius dari pihak ketiga untuk mendamaikan kedua negara yang bertetangga tersebut. Kepentingan strategis Turki dalam mediasi ini sangat terlihat. Turki, dengan reputasinya sebagai mediator netral (seperti dalam krisis Ukraina), berupaya menjadi aktor geopolitik yang menyejukkan. Upaya ini tidak hanya untuk stabilitas regional Asia Selatan, tetapi juga untuk memperkuat citra diplomatik Ankara di panggung global di tengah polarisasi yang terjadi di berbagai kawasan.


Pasukan Taliban di Afghanistan. - (EPA-EFE/SAMIULLAH POPAL)

Kesimpulan

Secara keseluruhan, konflik antara Pakistan dan Afghanistan adalah masalah multi-dimensi yang melibatkan sejarah, etnis, dan keamanan. Penyelesaiannya membutuhkan lebih dari sekadar gencatan senjata sementara; diperlukan pengakuan timbal balik terhadap perbatasan dan kerja sama tulus dalam memberantas terorisme. Peran mediator internasional seperti Turki sangat penting dalam menjaga momentum dialog dan mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan aspirasi Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar